Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 97


__ADS_3

"Sudahlah, lebih baik aku pergi sekarang." Kata Rajendra dalam hati, lalu pergi meninggalkan Siren.


Siren menatapnya dari belakang.


Di rumah Siren,


"Aku pulang,"


"Siren, cepat kamu siap-siap,"


"Untuk apa?"


"Meminta ganti rugi."


"Maksud mama?"


"Kamu sudah di lecehkan oleh anaknya si Dira itu, jadi mereka harus bertanggung jawab."


"Mama akan menikahkan aku dengan Rendra?"


"Heuh, tentu saja tidak, aku tidak sudi besanan dengannya."


"Lalu apa yang mau mama lakukan?"


"Aku akan meminta kompensasi,"


"Kompensasi?"


"Iya, kalau kamu mengandung anak dari anaknya si Dira itu, maka dia harus membayar kompensasi."


"Tapi aku tidak sedang mengandung ma,"


"Meskipun kamu tidak hamil, tapi si Rendra itu sudah melecehkanmu, jadi aku akan meminta kompensasi atas ketidak sopanannya itu, laki-laki tidak waras, lihat saja aku tidak akan membiarkanmu merusak putriku."


"Ma, sebenarnya kemarin itu.."


"Sudah mama putuskan, jadi kamu tidak boleh membangkang."


"Bagaimana ini, aku sudah menyeret Rendra dalam masalah, aku melakukan itu supaya aku bisa menikah dengannya, tapi malah jadi seperti ini." Ucapnya dalam hati.


"Ada apa Siren?" Tanya papanya.


"Emm," Siren menceritakan semuanya pada papanya.


"Jadi kamu menjebak Rendra demi menikahinya?"


Siren mengangguk,


"Lalu kamu bilang ke mamamu kalau dia sudah melecehkanmu?"


"Aku bilang ke mama kalau aku dan dia melakukan itu atas kemauan kami sendiri pa."


"Sama saja, kamu sudah memberi masalah untuk keluarga itu."


"Aku tau, aku menyesal pa, sekarang bagaimana? mama gak mau dengerin aku ngomong."


"Ini kesalahan kamu, bikin susah orang tua saja."


"Maaf,"


"Sudah, ayo kita lihat apa yang sedang mamamu lakukan."


"Kalian kenapa belum bersiap?"


"Aira sudahlah, jangan buat masalah,"


"Siapa yang buat masalah! jelas-jelas anak itu sudah melecehkan anak kita, kamu mau membiarkannya begitu saja?"


"Aira, dengar dulu,"

__ADS_1


"Aku tidak mau mendengarkanmu, semua ucapanmu itu tidak berguna."


"Papa pusing ngadepin mama kamu."


"Papa aja udah pusing ngadepin mama, apalagi aku, terus gimana dong pa?"


"Biarin aja lah."


"Loh kok gitu?"


"Papa yakin Anindira dan anaknya bisa membela diri, jika nanti mereka menanyakan sesuatu sama kamu, kamu tinggal katakan yang sejujurnya pada mereka."


"I iya pa,"


"Kalian sedang apa? tunggu apalagi, cepat bersiap."


"Sekarang kita ikuti saja kemauan mamamu."


Malamnya,


Anindira sedang menghidangkan makan malam, tiba-tiba bel berbunyi, Tingtong,


"Rendra, apa kamu ada mengundang teman?"


"Enggak ma,"


"Siapa yang datang?"


Anindira membuka pintu, "Dean,"


"Selamat malam Nona Dirga,"


"Nona Dirga?"


"Iya, nama margaku."


"Kau ini," Ucapnya sambil tersenyum.


"Bunga lagi? akhir-akhir ini kamu sering sekali memberiku bunga."


"Biar kelihatan romantis seperti anak-anak muda jaman sekarang, selain itu, katanya bunga bisa membuat hati perempuan senang."


"Hahaha, ayo masuk."


Baru saja Anindira menutup pintu, belnya berbunyi lagi.


"Siapa lagi?" Membuka pintu, "Kamu?!"


"Minggir," Aira langsung nyelonong masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa sambil bersilang kaki.


"Mama," Kata Siren merasa malu.


"Aku tidak akan banyak berbasa-basi, aku datang ke sini untuk meminta pertanggung jawaban kalian."


Anindira dan Dean saling pandang.


"Kenapa kalian diam saja seperti orang bodoh, jangan bilang kalian sudah merencanakan sesuatu untuk lari dari tanggung jawab."


"Aku bisa mengerti perasaanmu sebagai seorang ibu, tapi putraku tidak melakukan apapun terhadap putrimu."


"Kamu jangan mengelak, jelas-jelas anakmu itu sudah menodai putriku, aku tidak mau tau, aku minta kompensasi, jika putriku sampai hamil dan melahirkan seorang putri maka dia berhak atas rumah ini, dan jika putriku melahirkan seorang putra, maka dia berhak mendapatkan semua aset yang kalian miliki."


"Kenapa kamu tidak nikahkan saja putrimu dengan putraku?"


"Aku tidak sudi! daripada aku harus menikahkan putriku dengan anakmu yang tidak tahu malu itu lebih baik anakku tidak pernah menikah sama sekali."


"Aira, jaga bicaramu, itu sama saja kamu mengutuk putrimu sendiri."


"Dia yang bilang, jika dia tidak menikah dengan anak itu, maka dia tidak akan pernah mau menikah."

__ADS_1


"Ma," Teriak Siren.


"Cukup, kalian jangan teriak-teriak di rumahku,"


"Ini semua gara-gara kalian." Teriak Aira.


"Dengarkan aku baik-baik, aku sudah bilang putraku tidak melakukan apa-apa terhadap putrimu."


"Apa buktinya?"


"Aku punya rekaman pembicaraan kami tadi pagi, silahkan dengarkan," Kata Rajendra mengeluarkan Handphonenya.


"Apa ini?! kamu sengaja mengancam putriku, dan diam-diam merekamnya."


"Ma, sudahlah, Rendra merekam itu untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah, aku lah yang salah, aku berbohong pada kalian semua."


"Apa?!" Ucap Aira kaget.


"Iya ma, aku bohong sama mama demi untuk mendapatkan Rendra, aku mengira dengan begitu mama akan menikahkanku dengannya, tapi malah sebaliknya mama mempersulit keadaan."


"Anak kurang ajar,"


"Aira, jangan salahkan anakmu, dia seperti itu karna dia kurang perhatian orangtua."


"Tau apa kamu tentang anakku, aku dan suamiku memberikan segalanya untuk putri kami, kami memberinya kasih sayang yang tidak terbatas, putriku tidak kekurangan kasih sayang, sedangkan kamu, kamu hanyalah wanita kesepian tanpa suami, suka mengundang pria menginap di rumah, dan juga tidak becus mengurus anak."


Deg,


Deg,


Deg,


"Dira, jangan dengarkan ucapannya." Kata Dean.


Rajendra mengepalkan tangannya, dia sangat marah mendengar ucapan Aira.


"Tante salah, mamaku adalah mama terbaik di dunia, mama membesarkanku sendirian, mendidikku, memberiku kasih sayang yang belum tentu anak lain mendapatkannya, meskipun aku jauh dari papaku tapi aku tidak pernah merasa kesepian dan kekurangan kasih sayang, meskipun papaku telah meninggal dunia, sampai sekarang aku masih merasakan kasih sayangnya..."


"Aku mendapatkan begitu banyak kasih sayang, tarutama dari Mama, Papa dan juga Paman Dean."


"Dan ya, yang tante katakan mama suka mengundang pria menginap di rumah, pria itu adalah calon papaku, wajar saja kalau dia bolak-balik ke rumah kami, satu hal yang perlu tante ingat, Mama dan Paman Dean adalah orang yang sangat mengutamakan moralitas, jadi, jangan mengatakan hal-hal buruk tentang mereka."


"Benar-benar anak tunggalnya Leon, masih bocah aura membunuhnya sudah sangat kuat." Kata Aira dalam hati.


"Rendra, maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku."


"Jangan meminta maaf, kamu tidak boleh menundukkan kepalamu di hadapan orang lain."


"Sudahlah ma, ayo kita pergi, setelah sampai rumah, mama boleh menghukumku sebanyak mungkin, aku akan patuh."


Siren menarik tangan Aira dan pergi dari rumah Anindira.


"Jimy, tunggu sebentar,"


"Maafkan atas kelancangan istriku Dira, dia makin lepas kendali, aku tidak bisa menghentikannya."


"Tidak perlu meminta maaf, aku hanya minta satu hal sama kamu, jangan biarkan putrimu sendirian, luangkan waktu lebih banyak untuknya, dengarkan keluh kesahnya, jadilah teman untuknya, perbaikilah perilaku istrimu, jadilah suami dan ayah yang baik."


Jimy merasa malu, dia merasa gagal menjadi suami dan juga sebagai seorang ayah.


Dia pun pamit pulang.


"Rendra, tenanglah, mama baik-baik saja."


Rajendra memeluk Anindira dan menangis.


"Sudah, sudah, ini bukan pertama kalinya mama mendengar ucapan seperti itu, mama sudah tidak perduli dengan ucapan orang."


"Tapi Rendra tidak bisa mendengar hal-hal buruk tentang mama, Rendra tidak bisa menerimanya."

__ADS_1


"Shhh, tenanglah, jangan seperti ini, jangan biarkan emosi menguasaimu."


__ADS_2