
Bram tertunduk sedih.
"Ada apa, apa yang terjadi?" Tanya Anindira dengan perasaan hawatir
"Tuan.. tuan sedang di rawat di rumah sakit."
"Apa?! papa di rawat? kenapa, apa yang terjadi, kemarin waktu aku mengantarnya ke bandara papa baik-baik saja."
"Tenang, tenang Rendra." Anindira berusaha membuang kehawatirannya dan mencoba menenangkan Putranya.
"Maaf Tuan Muda, tapi.. memang itulah kenyataannya, sebenarnya Tuan sudah lama sakit, tapi beliau tidak mau ke dokter dan beliau melarang saya untuk tidak memberitahu nona dan Tuan Muda."
"Bisakah kamu mengantar kami untuk bertemu dengannya." Kata Dean.
"Baiklah, mari,"
Bram membawa mereka bertiga ke rumah sakit.
"Silahkan,"
Anindira langsung masuk dan mengomeli Leon, "Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu tiduran di tempat tidur pasien? kalau kamu cape atau lelah kamu bisa tidur di rumah, di kamarmu bukannya di rumah sakit."
"Dira, kamu di sini?"
"Iya aku di sini untuk memarahimu, kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu, kenapa kamu tidak memberitahuku tentang keadaanmu, kenapa kamu berbohong padaku? kamu selalu membuatku terkejut, apa kamu ingin membuatku mati karna serangan jantung hah!"
"Hei, jangan mengomel terus aku sedang sakit, aku tidak bisa menghadapi omelanmu kali ini."
"Kepalaku sakit setiap kali berhadapan denganmu, kepalaku rasanya mau meledak setiap kali bicara atau berdebat denganmu."
"Kalau begitu jangan bicara ataupun berdebat denganku."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Apa?"
"Jangan pura-pura, dasar pembohong." Ucap Anindira sambil menangis.
"Jangan menangis, jangan membuatku semakin merasa bersalah."
"Kalau kamu merasa bersalah setidaknya jangan membuat kesalahan lagi."
"Maaf, aku tidak mau membuat kamu dan anak kita cemas."
"Bagaimana aku tidak cemas, kamu membuatku bingung, kamu pergi begitu saja tanpa memberitahu apapun."
"Hei, sudahlah, setidaknya aku berpamitan pada anak kita."
"Oh, iya tentu saja, berpamitan pada Rendra itu sangat penting karna kalau tidak dia akan mengutukmu."
"Bicaramu kasar sekali."
"Aku kesal, aku marah, sehingga rasanya ingin aku hancurkan tulang rusukmu itu, apa kamu senang terus mempermainkanku!"
"Ma, tenang, ini rumah sakit. Tolong mama tenang dulu ya."
__ADS_1
"Entah ada apa dengannya baru saja datang langsung marah-marah."
"Pa,"
"Iya, papa tau, mamamu memang pemarah dan papalah yang telah membuatnya menjadi orang yang pemarah seperti ini."
"Pa, cepat jelaskan pada mama kenapa papa pergi tanpa memberitahu mama."
"Kenapa papa harus menjelaskannya, itu sangat merepotkan."
"Baiklah, kalau begitu percuma aku menyusulmu kesini." Anindira melangkah pergi dari kamar pasien.
"Hei, mau kemana?"
Anindira berbalik, dan memberikan sebuah map pada Leon, "Ini, aku hanya akan mengambil kembali hakku, aku tidak menginginkan sesuatu yang bukan merupakan milikku."
Leon mengambil map itu, dan memegang tangan Anindira, "Duduklah, setelah menempuh perjalanan jauh, kamu pasti merasa lelah kan? aku hanya bercanda, jangan di masukkan ke dalam hati, maaf."
"Aku tidak mau memaafkanmu, aku tidak ingin berkompromi."
"Siapa yang mengajakmu berkompromi? aku menyuruhmu duduk, supaya kamu bisa mendengarkanku bicara."
"Hanya bicara, tidak mau menjelaskan?"
"Baik, baik, maksudku juga begitu, bicara untuk menjelaskan."
"Kalau begitu katakan,"
"Seperti yang sudah kamu ketahui, aku memberikan saham perusahaanku padamu supaya kamu, dan Rendra bisa mengelolanya bersama, aku ingin kamu memilikinya supaya bisa di turunkan pada Rendra putra kita atau bahkan pada cucu kita nanti."
"Bukan, bukan seperti itu, aku.. aku sudah tidak mau mengurus perusahaan, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama kedua orangtuaku, aku sudah bosan bekerja, otakku sudah tidak bisa menampung ide-ide brilian lagi, aku akan berhenti makanya aku serahkan tanggung jawab itu padamu."
"Kenapa harus aku? kalau kamu lelah bekerja bukankah masih ada pegawai-pegawaimu? orang-orang kepercayaanmu bisa menghandle semuanya, kamu tidak perlu terlalu bekerja keras, itu akan meringankan pekerjaanmu."
"Tetap saja aku harus turun tangan kalau ada masalah kan? aku tidak mau dibebani oleh semua itu, aku ingin menikmati hidupku, selama ini aku habiskan setiap waktuku untuk mengurus perusahaan, dan sekarang waktunya aku menikmati hidup, aku ingin merasakan rasanya menganggur dan pergi dengan damai."
"Apa maksudmu pergi dengan damai?!"
"Maksudku aku ingin bepergian tanpa harus memikirkan pekerjaan, aku juga ingin bebas, bebas dari semua hal yang membuatku kerepotan."
"Bukannya bekerja itu bagaikan urat nadimu, kamu dan pekerjaanmu tidak terpisahkan, kamu orang yang sangat ambisius, bagaimana bisa orang yang punya ambisi tinggi sepertimu merubah pola pikirnya."
"Kamu tidak bisa menebak pikiran seseorang Dira, semua orang bisa berubah, merubah pola pikir diri sendiri itu sangat mudah."
"Untukmu?"
"Ya, bagiku itu sangat mudah, apa yang tidak bisa di lakukan oleh seorang Leon Pradana, aku bisa melakukan apa saja yang aku mau, kalau aku pikir mesti begitu maka harus begitu, dan itu keputusan mutlak, tidak bisa di ubah lagi."
"Masih ada orangtuamu mereka lebih berhak."
"Tapi aku memberikan hakku padamu untuk menjamin kehidupan putrakku dan karirnya nanti."
"Kalau seperti ini, dia tidak akan bisa berkembang, aku pun begitu."
"Maka biarkan dia berkembang sendiri dan jadikan hartaku sebagai cadangan atau sampingannya."
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengambil keputusan besar seperti ini, aku perlu bicara dengan ayah dan ibumu, keputusan sebesar ini harus dibicarakan dengan orangtua."
"Baiklah, hari ini juga kita akan membicarakannya dengan ayah dan ibuku."
"Hari ini? apa kamu bisa?"
"Jangan hawatir, aku hanya sakit bukan sekarat."
"Aku baru saja sampai dan kamu juga butuh istirahat, bagaimana kalau besok saja."
"Tidak, aku hawatir kalau besok aku tidak bisa."
"Kenapa? kamu tidak akan kemana-mana kan kamu sedang dalam masa perawatan memangnya kamu mau kemana?"
"Besok aku ingin tidur sepuasnya, tidak ingin di ganggu, aku akan telpon orangtuaku sekarang juga."
"Leon, tidak usah terburu-buru, masih banyak waktu kalau tidak besok bisa besoknya lagi kan." Ucap Dean.
"Tidak apa-apa, aku bisa menanganinya."
"Pa, jangan keras kepala." Kata Rendra.
"Kenapa kalian melarangku? aku kan sudah bilang aku ini hanya sakit, tidak separah itu hingga aku harus menunda hal sepenting ini."
"Bram,"
"Iya tuan,"
"Jemput ayah dan ibuku sekarang juga."
"Baik tuan,"
"Sebenarnya papa sakit apa, kenapa papa tidak pernah memberitahu aku dan mama."
"Ini hanya sakit biasa, papa tidak perlu mengatakannya pada kamu atau pun mama kamu."
"Papa jangan bohong, kalau hanya sakit biasa papa tidak mungkin sampai di rawat di rumah sakit seperti ini."
"Ini ide nenekmu, nenekmu itu memang berlebihan, hawatir tanpa sebab."
"Anindira," Ucap mamanya Leon yang baru saja datang.
"Ma, Pa, apakabar?" Sapa Anindira seraya mencium tangan mama dan papanya Leon.
"Baik sayang, bagaimana kabarmu?"
"Baik ma,"
"Dia.." Ucap papanya Leon.
"Dia Rendra."
"Rendra, cucuku,"
"Kakek,"
__ADS_1