Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 65


__ADS_3

Sesampainya di butik, Anindira turun dari mobil, dia menatap sedih butik miliknya itu seolah tidak percaya kalau perusahaan butiknya sekarang sudah berpindah tangan pada mantan suaminya.


Leon menghampiri anindira, dan menarik tangannya masuk ke dalam, semua karyawan memberi salam pada mereka.


Leon menarik Anindira masuk ke ruang ganti, dia memberikan baju yang khusus dia pilihkan untuk Anindira di toko pakaian tadi.


Setelah bajunya di berikan Leon langsung menutup pintunya.


"Baju yang kamu kenakan tidak cocok untukmu, ganti dengan baju itu."


Anindira tidak punya tenaga lagi untuk bicara dengan Leon, dia menuruti perkataan Leon, mengganti pakaiannya.


Selesai ganti baju, Leon menyuruh Anindira duduk di kursi dekat kasir, dia menata rambut Anindira dengan mengepangnya ke samping.


"Ayo, kita ada pertemuan penting hari ini." Ucap Leon sambil pergi.


Anindira mengikutinya dari belakang.


Ternyata Leon mengajak Anindira bertemu dengan petinggi dari perusahaan SW grup, dan akan menjalin kerja sama dengan perusahaan itu.


Anindira tercengang ketika mengetahui siapa yang akan mereka temui, "Presdir dari perusahaan ternama, SW grup?!"


"Kendalikan dirimu, beliau tamu terhormat kita." Ucap Leon


Anindira menutup mulutnya rapat-rapat.


"Selamat siang Pak Presdir, apa saya membuat anda menunggu lama?"


"Oh, ho ho ho, tidak sama sekali, saya baru saja datang."


"Silahkan duduk,"


"Terimakasih, ho ho ho, bukankah anda ingin memamerkan seseorang yang katanya sangat berbakat dalam dunia bisnis, terutama fashion, mana dia?"


"Ekhem, orangnya ada di sini Presdir, di samping saya."


"Oh, Perkenalkan dia padaku!"


Leon mempersilahkan Anindira untuk memperkenalkan diri.


Anindira berdiri, dan membungkuk memberi salam, "Halo, saya Anindira Putri pemi.. maksud saya direktur dari perusahaan Diandra Butik."


"Ho ho ho, baiklah-baiklah silahkan duduk kembali."


"Terimakasih Presdir," kata Anindira kembali duduk.


"Anda benar-benar cekatan, saya sudah mendengar tentang kinerja anda, saya dengar anda bukan berasal dari negara ini, katakan bagaimana cara anda mengelola butik anda hingga mendapat banyak respon positif dari dalam negri maupun luar negri."

__ADS_1


"Saya tidak mempunyai trik khusus apapun dalam mengembangkan bisnis ini, menurut saya ini adalah sebuah keberuntungan."


"Ho ho ho, begitukah? lalu bagaimana anda membawa bisnis anda sampai kesini, hingga bisa mendirikan butik anda sendiri di sini?"


"Dulu saya hanya membuka usaha kecil-kecilan di desa, awalnya tidak banyak yang datang karna waktu itu saya hanya bisa membangun toko kecil saja, tidak banyak orang yang tau, akhirnya saya berpikir untuk mempromosikannya lewat sosial media, dengan di bantu oleh sahabat saya."


"Berkat itu, makin banyak yang minat dengan desain-desain saya setiap harinya, bahkan beberapa kali saya menerima pesanan dari luarnegri, sampai akhirnya saya menerima ajakan dari sahabat saya untuk memulai bisnis di sini, awalnya saya hanya bekerja sebagai fhasion designer di salah satu perusahaan dengan sahabat saya menjadi Creative Directornya."


"Dan tentu saja perjalanan saya dari awal membangun bisnis di desa sampai ke sini tidaklah mudah banyak menuai pro kontra, pernah mengalami kerugian hingga terancam bangkrut, dan sebagainya."


"Wo ho ho ho, sungguh mengagumkan, anda hebat bisa bertahan sampai mempunyai perusahaan butik sendiri di sini, anda juga pintar mendisiplinkan karyawan-karyawan anda, saya lihat semua karyawan yang bekerja di sini murni, bersih, dan jujur."


"Karna di sini orang-orangnya baik."


"Anda cerdas, tapi jangan lupa dalam dunia bisnis baik atau buruk semuanya di lakukan demi memperluas kekuasaan."


"Mungkin ada beberapa orang yang seperti itu tapi saya berharap saya tidak akan bertemu dengan orang seperti itu."


"Bagus, bagus, saya menyukai anda sekarang juga saya akan menandatangani kontrak dengan perusahaan ini."


"Apa anda tidak akan bertanya bagaimana dengan cara kinerja saya, bagaimana cara saya bekerja, bagaimana saya mengontrol pembukuan, mengontrol pemasukan dan pengeluaran supaya tetap seimbang, atau berapa keuntungan yang di peroleh Butik ini tiap bulannya, atau berapa keuntungan yang bisa di peroleh setiap tahunnya?"


"Ho ho ho, tidak perlu, saya sudah tidak muda lagi pengalaman saya banyak, saya bisa melihat kinerja seseorang hanya dengan sekejap mata, anda jujur, dan tekun maka saya setuju, itu sudah cukup." Kata Presdir seraya mengambil surat kontrak lalu menandatanganinya.


Begitu juga sebaliknya Anindira menandatangani surat kontrak itu.


"Sama saja, mau kamu atau aku sama saja yang penting ada tandatangannya."


"Dasar aneh, itu kan kontrak yang kamu buat dengan Presdir."


"Ya, apa salahnya kalau aku wakilkan, anggap saja tandatanganmu itu mewakiliku, kamu kan juga masih kerja sebagai direktur di sini, oh, dan ya, mulai sekarang kamu juga akan menjadi wakilku, kalau aku sibuk kamu yang akan menghandle semuanya."


Anindira menghela nafas, "Haah.. terserah."


Dia merasa lelah, lalu pergi keluar untuk beristirahat.


Leon memperhatikan sikap Anindira sambil tersenyum kecil, dia tau Anindira merasa terbebani dengan semua itu, tapi dia tidak berani menghiburnya.


Leon melihat di sebuah meja kasir ada minuman dingin dia mengambilnya.


"Maaf Tuan Muda, itu minuman saya mau di bawa ke mana ya?" Kata salah satu karyawan yang berjaga di tempat kasir.


"Oh, ini milikmu?"


"Iya Tuan,"


"Aku beli," Leon memberikan uang tunai Rp100.000 padanya.

__ADS_1


Karyawan itu tidak bisa berkata-kata.


Leon menengok kesana kemari, lalu melihat ke arah Bram.


"Ada apa Tuan?"


"Bukan kamu, minggir sedikit."


Bram berpindah tempat, Leon melihat di situ ada Dean yang sedang berbicara dengan Claira, lalu dia menghampirinya.


Leon menepuk pundak Dean.


"Ada apa?"


Leon memberikan minuman dingin yang dia ambil.. lebih tepatnya yang dia beli dari seorang kasir pada Dean.


"Jus dingin?! Kamu memberikan itu untukku?"


"Bukan untukmu, tapi untuk wanita yang sedang duduk di sana." Leon menunjuk ke arah Anindira yang sedang duduk di bangku taman depan butik.


"Untuknya?! kenapa tidak kamu berikan sendiri?"


"Aku banyak urusan, tidak ada waktu." Ucap Leon sambil melempar botol jus dingin itu.


Dean menangkapnya, "Dasar aneh, perduli tapi gengsi." Gerutunya.


Claira cengengesan melihat tingkah mereka, "Sudah, cepat kasih ke orangnya, nanti kamu kena omel lagi."


"Aku ke sana dulu ya."


"Oke,"


Dean menghampiri Anindira yang dari tadi terus menghela nafas.


"Kenapa kamu terus-terusan menghela nafas seperti itu?"


"Dean, entahlah aku merasa bingung."


"Bingung kenapa, karna Leon?"


Anindira diam.


"Ya aku juga bingung sih, kesel juga, tau gitu waktu itu aku tidak akan mempertemukan dia dengan kalian, tapi entah kenapa kali ini aku merasa Leon tidak ada maksud jahat sama kamu."


"Haah, kamu tau apa sih Dean."


"Ya aku emang gak tau apa-apa, tapi aku rasa Leon masih perduli sama kamu."

__ADS_1


__ADS_2