
Leon menangis mendengar perkataan anaknya dia menggendong dan memeluk Rajendra.
"Kenapa papa nangis? papa melindukan Mama Aluna ya?"
"Iya, papa sangat merindukannya."
"Papa yang sabal ya Mama Aluna sudah tenang di sana, Lendla tau kok kata mama papa sangat menyayangi Mama Aluna tapi papa gak boleh nangis nanti Mama Aluna juga ikut sedih."
"Papa bukan hanya menyayangi Mama Aluna tapi papa juga sayang sama Rendra dan Mama Dira."
Rendra terdiam sejenak lalu tersenyum dan berkata, "Lendla juga sayang papa sama mama."
"Iya papa tau, kamu masuk mobil dulu ya sama Om Bram! nanti papa nyusul."
"Iya pa,"
"Tuan Kecil ayo naik ke punggung saya." Kata Bram.
"Gapapa om, Lendla jalan kaki aja Lendla kan udah besar."
Bram tersenyum, "Baiklah, tapi Tuan Kecil jalannya hati-hati ya."
"Iya om,"
Rendra dan Bram masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kamu lihat kan Rajendra sekarang sudah besar, dia tumbuh dengan baik. Rendra memang lebih baik tinggal bersama Dira dia bisa mendidiknya menjadi anak yang baik dan pintar."
"Kamu adalah orang yang paling memahami aku, tanpamu hidupku terasa sepi sekarang satu-satunya tujuanku, alasanku untuk hidup adalah Rajendra."
"By, orang tua kita menjodohkanku dengan Aira tapi aku mencintai Anindira aku tidak tau harus bagaimana, setelah aku berpisah dengannya aku baru sadar kalau aku mencintainya, selain kamu dialah satu-satunya wanita yang mampu membuatku kembali merasakan cinta."
"Tapi aku tidak berhak atas cinta ini, aku adalah laki-laki pertama yang hadir dalam kehidupannya aku juga laki-laki pertama yang telah menyakitinya dan menghancurkan hidupnya."
"Anindira berhak mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang mencintai dia dan mampu melindunginya seumur hidup."
"Apa aku terima saja Aira untuk menjadi istriku?"
"Om kenapa papa lama banget bicala sama Mama Alunanya." Ucap Rajendra pada Bram lalu dia keluar dari mobil.
"Mungkin Tuan Muda lagi curhat sama Almarhumah Nona Muda Tuan Kecil."
"Emang papa selalu celita apa aja sama Mama Aluna?" tanya Rajendra pada Bram dengan polosnya.
"Emmh, kalau itu saya gak tau Tuan Kecil karna itu rahasia mereka." Jawab Bram sambil tersenyum miring.
"Oh, papa, apa papa sudah selesai? pelut Lendla lapal mau makan." Teriak Rajendra.
Leon mengusap air matanya Lalu berkata, "Iya, sebentar ya sayang! Sayang aku pulang dulu ya kasian Rendra nunggu lama."
Leon menghampiri Rajendra dan menggendongnya lalu membawa dia masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di kediaman Pradana, Nenek dan Kakek buyutnya menyambut Rajendra dengan penuh kebahagiaan.
"Kakek buyut, nenek buyut," Rajendra berlari dan memeluk mereka.
"Cucu buyut nenek, apa kabar sayang?"
__ADS_1
"Lendla baik nek."
"Mana mamamu?" tanya kakeknya.
"Mama gak ikut kakek buyut, so'alnya Lendla hali ini mau nginep di sini."
"Oh, benarkah Rendra mau nginep di sini?" ucap kakeknya.
"Iya,"
"Kalau gitu nanti malam Rendra tidurnya sama nenek dan kakek buyut aja ya." Kata neneknya.
"Gak bisa nenek." Ucap Leon
"Kenapa kami gak boleh tidur bersama cucu buyut kami?"
"Karna Rendra akan tidur bersamaku."
"Tidak bisa! Rendra akan tidur bersama nenek dan kakek buyut. Iya kan sayang?" ucap kakeknya.
"Lendla gak mau jawab sebelum nenek dan kakek buyut membeli Lendla makan."
"Eh, kamu lapar ya sayang? maafin nenek buyut ya! ayo kita ke ruang makan, nenek dan kakekmu juga ada di sana mereka sedang bersiap untuk makan siang." Kata neneknya.
"Iya,"
Mereka pun pergi ke ruang makan, Orang tuanya Leon memeluk dan mencium kedua pipi Rajendra mereka sangat merindukan cucunya itu.
"Nenek, Lendla sudah sangat lapal bisakah kita makan sekalang." Ucap Rendra sambil memegang perutnya.
Mereka pun makan siang bersama.
Setelah mereka selesai makan siang, Terdengar suara bel berbunyi ting tong.
"Bi Sri, ada yang datang tolong bukakan pintu!"
"Baik Nyonya."
Bi Sri membukakan pintu, Ternyata itu adalah Aira dia datang berkunjung dengan membawa bingkisan.
"Silahkan masuk Nona Aira!"
"Makasih bi, tante sama om ada?"
"Ada, nyonya besar dan keluarga baru saja selesai makan siang bersama."
"Oh begitu,"
"Aira,"
"Halo tante apakabar?" sapa Aira sambil cipika cipiki dengan mamanya Leon.
"Baik, bagaimana denganmu?"
"Baik tante."
"Ayo duduk sini! oh ya Aira kenalkan ini Ranjendra cucuku, putranya Leon."
__ADS_1
"Oh ini Rajendra, udah besar ya." Ucap Aira sambil mengusap dagunya Rajendra.
"Tante siapa?" tanya Rajendra.
"Kenalkan, namaku Aira adiknya Mama Aluna senang bertemu denganmu jagoan." Sambil mencubit pelan pipi Ranjendra saking gemasnya.
"Tante gak boleh bilang Lendla jagoan!"
"Memangnya kenapa?"
"Hanya papa yang boleh bilang Lendla jagoan."
"Oh, begitukah! baiklah tante gak akan mengulanginya maaf ya Rendra! apa sekarang kita bisa berteman."
"Lendla masih kecil, Lendla gak boleh belteman sama olang dewasa."
"Loh kok gitu, tante gak jahat kok kenapa kamu gak mau berteman sama tante? tante bisa temani kamu main, kita bisa main apa saja yang kamu suka?"
"Maaf tante tapi Lendla hali ini mau main sama papa, papa udah janji mau nemenin Lendla main sehalian." Rajendra turun dari kursi dan pergi menghampiri Leon.
"Ada apa jagoannya papa?"
"Pa, ayo kita main! papa kan udah janji sama mama mau nemenin Lendla sehalian ini."
"Iya iya, ayo kita ke kamar kamu! kita main di sana, papa udah belikan banyak mainan untuk kamu." Leon menggendong Rajendra dan membawa dia ke kamarnya.
"Wah, mainannya makin banyak."
"Iya, papa belikan lebih banyak mainan baru untuk kamu."
"Lendla suka semua mainannya, tapi sehalusnya papa gak pellu buang-buang uang sebanyak ini, kan sayang uangnya pa, papa udah cape-cape kelja tapi uangnya habis buat beliin Lendla mainan."
"Gapapa kok sayang, papa kan kerja cari uang buat kamu juga."
Rendra memainkan mainannya sambil cemberut.
"Kenapa, apa kamu marah sama papa?"
"Gak kok, Lendla gak malah sama papa."
"Terus kenapa kamu cemberut begitu?"
"Lendla gak suka sama tante yang belnama Aila itu."
"Kamu habis bertemu dengannya ya, kenapa kamu gak suka sama tante Aira? dia itu kan adiknya Mama Aluna."
"Kalau tante itu adiknya Mama Aluna kenapa dia gak sepelti Mama Aluna yang seling mama Lendla celitain."
"Ya ampun, jagoan papa ini terlalu pintar bicara ya." Ucap Leon sambil memangku Rajendra, "Apa yang membuatmu tidak suka padanya?"
"Cala bicalanya, dali tadi tante itu juga liatin papa telus Lendla gak suka."
"Emh, ya udah Rendra gak usah pikirin tante aira ya sekarang kita main saja oke!"
"Iya,"
"Ayo senyum, kita ambil foto dulu." Leon mengambil foto bersama Rajendra.
__ADS_1