
Perkataan Rajendra begitu menyayat hati, Leon tidak bisa berkata-kata lagi di buatnya.
"Papa, Lendla sudah menghabiskan makan malamnya, susunya juga, sekalang Lendla ngantuk mau tidul."
"Sebelum tidur gosok gigi dan cuci muka dulu! ayo, papa akan temani kamu."
Leon membawa Rajendra ke wastafel yang ada di kamar mandi, untuk gosok gigi dan cuci muka.
Setelah selesai, Leon menggendong Rajendra. Saking ngantuknya Rajendra sampai tertidur di bahunya Leon.
Leon menidurkan Rajendra di atas ranjangnya.
Ketika Leon bersiap-siap untuk tidur Mata Leon tertuju ke Ranjang gantung yang ada di samping tempat tidur Rajendra.
Leon mendekati ranjang gantung itu dan mengusapnya, dia ingat ranjang gantung itu Aluna yang membelikannya untuk Rajendra.
Dia teringat lagi ketika Rajendra masih bayi Anindira selalu menidurkannya di atas ranjang gantung yang di belikan oleh Aluna itu.
Ranjang Gantung itu juga mengingatkan Leon saat Rajendra di bawa pergi oleh Gena, dan hampir celaka karnanya.
Semua itu membuat jiwa Leon terguncang, dia mengusap wajahnya dan memijat-mijat keningnya.
Lalu Leon pergi ke dapur untuk mengambil minum dan menyimpan piring bekas makan malam dia dan Rajendra.
Semua lampu rumah dan dapur sudah di matikan karna semua orang telah tertidur.
Ketika Leon mau mengambil minum, Aira hampir saja memukulnya dengan pentungan, karna dia mengira Leon adalah maling.
Leon menahan pentungan itu, dan menyalakan lampu dapurnya.
"Mas Leon, sedang apa di sini?"
"Kamu yang sedang apa di sini? aku pergi ke dapur untuk mengambil minum."
"Maaf, aku kira Mas Leon maling."
"Kamu ada-ada saja."
"Ya udah, kalau gitu biar aku yang ambilkan minumnya." Kata Aira
Leon hanya diam saja, dia menaruh piring dan nampan yang dia bawa di westapel tempat pencucian piring.
"Ini mas minumnya!"
"Terimakasih!"
Setelah Leon meminum air itu, Leon merasa pusing.
"Ada apa mas?"
"Gapapa." Leon bermaksud untuk pergi ke kamarnya dengan berjalan sempoyongan.
__ADS_1
"Hati-hati mas, biar aku antarkan Mas Leon ke kamar." Aira memapah Leon ke kamarnya dan menidurkannya di atas ranjang.
Keesokan harinya Leon terbangun dan memijat-mijat kepalanya yang masih sedikit agak pusing.
Kemudian dia melihat ke arah sampingnya, sontak dia kaget ketika melihat Aira tertidur di sebelahnya.
Dia melihat dirinya telah telanjang dada.
Aira terbangun dan kaget ketika sadar dia tidak mengenakan pakaian.
Aira membalut tubuhnya dengan selimut, Leon merasa kebingungan, dia tidak ingat apa yang terjadi padanya dan Aira semalam.
"Aira, apa yang terjadi! kenapa kita berdua ada di kamarku?"
Aira tidak menjawab, dia malah menangis terisak-isak.
"Kenapa kamu menangis? jangan bilang aku telah melakukan sesuatu padamu? katakan, apa yang.. apa yang aku lakukan padamu semalam?" ucap Leon dengan nada panik.
"Aku.. kita.. Semalam kita sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan." Jawab Aira di tengah isak tangisnya.
"Tidak mungkin! semalam kepalaku terasa pusing dan kamu memapahku ke kamar, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, kapan kita melakukan itu?" Leon merasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.
"Waktu itu, aku mau pergi dari kamar ini tapi Mas Leon menarik tanganku dan mengigau, lalu.. lalu Mas Leon melakukan itu padaku." Aira mencoba meyakinkan Leon kalau semalam mereka benar-benar melakukannya.
"Lalu kenapa kamu tidak berusaha untuk menolak?"
"Karna Mas Leon bilang, Mas Leon mencintaiku dan akan menikahiku, makanya.. makanya aku dengan suka rela menyerahkan diriku sepenuhnya pada Mas Leon."
"Sekarang aku sudah tidak suci lagi, kalau ternyata ucapan Mas Leon semalam itu hanya untuk merayuku saja, dan Mas Leon melakukannya hanya karna nafsu semata, lalu tidak berniat untuk bertanggung jawab aku gapapa kok, lagi pula aku juga salah seharusnya aku berusaha untuk menolak."
Leon terdiam sejenak dan menatap Aira lalu berkata, "Kalau aku memang benar-benar melakukannya padamu maka aku tidak akan lari dari tanggung jawab, aku akan menikahimu! Aku tidak akan mengulang kesalahanku untuk yang kedua kalinya."
"Dulu, aku melakukannya pada Anindira dalam keadaan marah dan dalam keadaan Anindira terpaksa menerima perlakuanku, dia memberontak memintaku untuk tidak melakukannya malam itu, karna dia ingin melakukannya saat dia benar-benar siap dan ketika amarahku sudah mereda, tapi.. tapi aku tidak mendengarkan dia dan terus memaksanya." Ucap Leon dalam hati.
"Aku memang benar-benar orang yang buruk!" Gumam Leon, air matanya menetes.
Dia menundukan kepala dan memijat-mijat keningnya.
"Aku mau memakai pakaianku dulu! aku harus keluar dari kamar Mas Leon sebelum yang lainnya terbangun."
Aira turun dari ranjang dengan balutan selimut lalu pergi ke kamar mandi.
Leon tidak mengatakan apa pun lagi.
Setelah selesai, Aira langsung keluar dari kamarnya Leon dia tersenyum menyeringai.
"Selamat pagi Aira!" kata mamanya Leon.
"Selamat pagi tante." Jawab Aira.
"Sepertinya suasana hatimu sangat baik pagi ini, Apakah kamu tidur dengan nyenyak semalam?"
__ADS_1
"Iya tante, sangat nyenyak."
"Baguslah, sebelum kamu pulang Ayo kita sarapan pagi dulu!"
Mereka sarapan pagi bersama.
"Selamat pagi nenek, kakek, nenek buyut, dan kakek buyut!"
"Selamat pagi sayang." jawab kakek dan kakek buyutnya Rajendra serempak.
"Selamat pagi tampan!" jawab nenek buyut Rajendra sambil mencium pipinya.
"Selamat pagi jagoannya nenek." Ucap mamanya Leon sambil memeluk dan menciumi kedua pipi cucunya itu dengan gemasnya.
Dia memangku Rajendra di pangkuannya.
"Nenek, papa mana?"
"Bukannya semalam papa tidur sama kamu?"
"Iya, tapi pas Lendla bangun papa udah gak ada."
"Mas Leon ada di kamarnya tante." Ucap Aira sengaja mengatakannya.
Semua orang yang ada di meja makan itu menatap Aira dengan heran.
"Maksudnya mungkin saja Mas Leon ada di kamarnya." Aira pura-pura salah bicara.
"Oh, iya juga sih! Bi sri, tolong lihat Leon apa dia ada di kamarnya! suruh dia cepat turun untuk sarapan bersama."
"Iya , nyonya."
Leon masih termenung di kamarnya dia belum beranjak sama sekali dari tempat tidurnya.
Tok.. tok.. tok.. Bi Sri mengetuk pintu kamar Leon, "Tuan, apa tuan ada di kamar?"
"Ada apa bi?" tanya Leon dari dalam kamarnya.
"Nyonya menyuruh tuan untuk sarapan bersama tuan."
"Bilang saja hari ini aku akan sarapan di kantor."
"Baik tuan,"
"Oh ya bi, apa Rendra sudah bangun?"
"Sudah tuan,"
"Antarkan dia ke sini, dan bawakan juga sarapan pagi untuknya!"
"Iya tuan,"
__ADS_1
"Nyonya, Tuan Muda bilang tuan akan sarapan di kantor, Tuan Muda menyuruh saya untuk membawa Tuan Kecil ke kamarnya dan membawakan sarapan paginya Tuan Kecil juga ke sana."