
Anindira merasa sedih bercampur bingung, dia tidak tau harus bagaimana, dia masih ragu dengan perasaannya.
Claira duduk di sebelah Anindira, "Dira, menurutku kamu itu gak sadar sama perasaan kamu sendiri, aku tau sebenarnya kamu juga mencintai Dean."
"Ohok, ohok," Dean tersedak.
Anindira memberikan air minum, sambil menepuk-nepuk punggung Dean.
"Kamu kenapa sih Dean?" Tanya Claira.
"Kamu yang benar aja, bicara kayak gitu di depan orang nya langsung."
"Habisnya aku greget banget, hubungan kalian tuh gak ada kemajuan tau gak."
Dalam hati Anindira bertanya-tanya, "Apa iya, sebenarnya aku juga mencintai Dean?"
"Sekarang gini aja, biar aku yang tanya sama kamu, bagaimana perasaanmu ketika kamu dekat dengan Dean?" Tanya Claira sambil memegang kedua tangan Anindira sahabatnya.
"Aku, aku.."
"Apa kamu merasakan sesuatu, seperti jantungmu berdetak dengan kencang, atau hati mu berdebar-debar, atau kamu merasakan panas dingin ketika Dean menyentuhmu? wajahmu memerah ketika dia memujimu? atau kamu merasa tidak nyaman ketika Dean dekat denganku?"
"Iya aku merasakannya, aku merasakan semua yang Clair katakan." Ucap Anindira dalam hati.
"Apa kamu merasa nyaman ketika bersama Dean?" Tanyanya lagi sambil memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu.
"Iya," Katanya lagi dalam hati.
"Dira?"
"Hmm,"
"Jika kamu merasakan semua itu, sudah bisa di pastikan kalau kamu juga mencintai Dean."
"Benarkah?"
"Jadi?"
Anindira berbalik dan menatap Dean, "Mungkin saja, aku.."
"Apa?" Tanya Dean.
"Emh, aku harus pulang dulu, masih ada pekerjaan kantor yang belum aku selesaikan." Katanya sambil pergi.
"Dira,"
"Gapapa Clair, biarkan saja dia pergi, kita harus memberinya waktu."
"Dean, aku benar-benar udah ikhlas kok kalau Anindira sama kamu, lagian sepertinya sekarang aku sedang jatuh cinta pada seseorang."
"Oh ya, siapa dia?"
"Ada deh, rahasia, hehe."
"Dasar,"
"Kalau gitu aku pergi juga deh, gak baik kalau aku lama-lama bareng sama calon suami sahabatku sendiri." Katanya sambil pergi.
"Belum jadi calon."
"Suka-suka aku lah, bye Dean, good luck ya."
"Bye, makasih Clair."
Sementara itu, Anindira sudah sampai di rumahnya.
Tidak lama kemudian Claira menyusul.
Sampai di rumah, Anindira duduk bengong di depan tv.
"Ya ampun Dira, kamu tuh ya maen pergi-pergi aja, tadi kamu pulang naik apaan?"
"Aku naik taxi."
__ADS_1
"Kalau tadi kamu pulang bareng aku kamu gak perlu ngeluarin ongkos buat naik taxi, hemat dong gimana sih."
"Emang bener ya, jatuh cinta itu seperti itu?"
"Emngnya kamu gak pernah jatuh cinta sama papanya Rendra?"
"Waktu sama papanya Rendra, aku hanya berperan sebagai istri, menantu, dan juga seorang ibu, ada kalanya aku memang menyukai dia karna dia terlihat keren, aku menyukainya saat dia tersenyum, tapi.."
"Kenapa?"
"Aku tidak pernah merasakan semua yang kamu katakan tadi dengannya, malah aku lebih nyaman bersamanya ketika kami sudah berpisah, dan menjadi teman."
"Mungkin karna pernikahan kalian bukan atas dasar cinta, jadinya seperti itu."
"Tapi aku sangat menghormati papanya Rendra semasa hidupnya sampai sekarang."
"Jadi kamu baru sekarang merasakan perasaan semacam itu?"
Anindira mengangguk.
"Ya ampun, selamat ya Dira, berarti Dean adalah cinta pertamamu."
"Apa maksudnya? aku adalah seorang janda anak satu Clair, aku sudah pernah menikah."
"Iya aku tau, papanya Rendra itu adalah suami pertamamu, tapi Dean, dia adalah cinta pertama dan cinta sejatimu, percayalah kalian di takdirkan untuk bersama."
"Menurutmu begitu?"
"Tanya pada hatimu sendiri, aku yakin kamu akan mendapatkan jawabannya."
Keesokan paginya,
Anindira, Dean, dan Claira kembali bekerja seperti biasa.
Tok, tok, tok,
"Masuk, Kak Bram,"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil nama saja."
"Emm,"
"Ada apa? apa ada masalah?"
"Tidak, saya kesini untuk memberikan ini, titipan dari Tuan Dean." Bram menaruh paper bag berisi kopilate dan camilan di meja kerja Anindira.
"Tuan juga menitipkan ini,"
Sebuah buket mawar merah yang di rangkai dengan indah dengan kartu kecil yang berisi tulisan "Semoga harimu menyenangkan, semangat bekerja."
"Ini dari Dean?"
"Iya,"
"Kenapa dia tidak memberikannya langsung?"
"Kata tuan, kalau ketemu langsung nona pasti akan mengomel panjang kali lebar, maaf itu kata tuan."
"Oh, jadi sekarang tuanmu adalah dia?"
"Iya, sesuai permintaan Tuan Muda, setelah kepergian beliau saya harus mengikuti Tuan Dean, dan Nona."
Anindira merasa sedih setelah mendengar perkataan Bram.
"Maaf Nona, jangan bersedih itu pesan dari Tuan Muda."
"Oke, apa ada lagi yang ingin Kak Bram sampaikan?"
"Tidak ada,"
"Ini untuk Kak Bram," Anindira memberikan sebuah kotak makan untuk Bram.
"Untuk saya?"
__ADS_1
"Iya,"
"Terimakasih, saya sudah lama tidak makan masakan Nona, pasti ini sangat enak."
Anindira tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit dulu."
Anindira mengangguk.
Tiga hari berlalu, Dean tak pernah menemui Anindira, dia hanya menitipkan bunga, kartu berisi tulisan penyemangat, kadang makanan ringan, kadang cake, kopi dan soda.
Anindira merasa kesal dengan sikap Dean, "Susi," Anindira memanggil sekertarisnya.
"Iya bu,"
"Untuk pertemuan dengan klien hari ini kamu saja yang handle, aku mau keluar sebentar, beritahu aku kalau ada masalah."
"Baik bu," Kata sekertarisnya sambil membungkuk.
Anindira pergi ke perusahaan Leon yang kini sedang di kelola oleh Dean.
Sebelum masuk kesana Anindira terdiam sejenak kemudian menarik nafas, lalu melangkah masuk.
"Apa aku bisa bertemu dengan Pak Direktur?" Tanya Anindira pada resepsionis.
"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"
"Tidak,"
"Saya yakin anda pasti tau jika mau bertemu dengan Pak Direktur harus membuat janji terlebih dahulu."
"Ah, aku mengerti."
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Pak Bram,"
"Kenapa kamu bicara seperti itu pada beliau! beliau adalah pemilik dari perusahaan ini, kamu tidak berhak menghalangi beliau untuk bertemu dengan Tuan."
"Saya melakukan kesalahan, maafkan saya." Katanya sambil membungkukan badan.
"Tidak masalah, Kak Bram jangan terlalu keras padanya, dia menjalankan tugasnya dengan baik, berdiri tegak tidak usah membungkuk."
"Terimakasih Nona Besar."
"Apa sekarang aku sudah bisa bertemu dengan Direktur kalian?"
"Tentu saja, silahkan,"
"Terimakasih,"
"Huf, dasar bodoh, kenapa aku bisa melakukan kesalahan seperti itu, untung ownernya baik." Ucap Resepsionis itu.
Anindira langsung membuka pintu tanpa permisi, dia mendapati Dean sedang bersama sekertarisnya, sekertaris itu seorang perempuan, dia berdiri menghadap ke arah Dean dengan posisi sekertaris itu terpojok ke tembok, satu tangan Dean melingkar di pinggangnya, dan tangan yang satunya menempel ke tembok.
Anindira terkejut melihat mereka berdua.
"Ekhemm, permisi Tuan," Ucap Bram.
Dean melepaskan tangannya dan menengok, "Bram, Dira?!"
Anindira termangu.
"Saya, saya permisi dulu," Kata sekertaris itu sambil pergi.
"Ck, sia-sia aku datang kesini." Ucap Anindira.
"Dira, jangan salah paham, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Hahh, sudahlah," Anindira mengelengkan kepala lalu pergi.
"Dira tunggu,"
__ADS_1