Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 33


__ADS_3

Meskipun Leon dan Anindira sudah berpisah, mereka tetap menjalin hubungan yang baik, terkadang mereka bertiga menyempatkan waktu untuk sekedar bermain bersama Rajendra.


Hari itu, Anindira menelpon Leon.


"Halo, bang." Kata Dira


"Iya Dira,"


"Rajendra mau bicara sama kamu."


"Halo, papa."


"Iya jagoan, ada apa?"


"Hali ini aku mau menginap di lumah papa."


"Benarkah? hari ini?"


"Iya Hali ini pa."


"Baiklah, papa akan segera menjemput kamu sekarang juga."


"Iya pa, lendla tunggu di lumah ya."


"Iya," Leon menutup telponnya, "Vino, batalkan semua jadwal dengan klien hari ini." Kata Leon pada asistennya.


"Baik, Presdir."


Leon sangat senang mendengar Rajendra mau menginap di rumahnya, ini pertama kalinya Rajendra menginap di rumah Leon.


Leon langsung pergi ke rumah Anindira untuk menjemput Rajendra.


Sesampainya di rumah Anindira, saat Rajendra melihat Leon turun dari mobil, dia langsung berlari dan memeluk Leon.


"Papa!"


Leon menggendong Rajendra, "Apa jagoan papa sudah bersiap?"


"Sudah."


Anindira memberikan tas yang berisi pakaian ganti untuk Rajendra.


"Ok, tapi sebelum pergi papa mau bicara dulu sama mama sebentar, papa belikan kamu mainan baru kamu main sama Om Bram dulu ya!" Leon memberikan mainan itu pada Rajendra.


Rajendra berlari dan mengajak Bram bermain dengannya.


"Dira, kalau aku menikah lagi apa Rajendra tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Kalau masalah Rajendra biar nanti aku yang memberi taunya pelan-pelan, di lihat dari status Aira adalah adik kandung dari Mba Aluna sepertinya dia gadis yang baik dan penyayang."


"Aku tidak tau dia akan menyayangi anakku atau tidak!"


"Sebaiknya abang tanya langsung padanya sebelum abang mengambil keputusan."


"Iya, sepertinya aku harus menyempatkan waktu untuk bicara lagi dengannya nanti."


"Oh ya, apa Dean sering kemari? kok aku gak pernah lihat dia setiap kali aku kesini."


"Emmh, dia jarang kesini sih karna dia sibuk."


"Begitu ya, aku akui Dean memang lebih unggul dariku tapi tetap saja aku lebih tampan darinya."


"Hei, dari mana abang punya kepercayaan diri seperti itu?"


"Hahaha, akui saja sebenarnya kamu juga terpesona kan dengan ketampananku?"


"Hahaha, ya abang memang tampan tapi sayangnya sikapmu dingin kaya kulkas dua pintu, siapa yang akan menyukai pria dengan wajah kaku seperti itu? yang ada mereka pada kabur ketakutan." Kata Anindira sambil tersenyum jahil.


"Itu dulu, sekarang bahkan semua wanita mengantri untuk mendapatkan cinta dariku.


Dulu aku memang tidak pernah tersenyum pada orang lain selain istriku Aluna."


"Aku begitu mencintainya, orang-orang bilang melihat aku tersenyum itu adalah sebuah keajaiban hanya aluna yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa lepas." Ucap Leon sendu


Leon melanjutkan perkataannya, "Bagiku dia adalah malaikat, dia menyelamatkanku dari maut, dia memberikan aku kehidupan kedua.


Jika bukan dia yang menolongku mungkin sekarang aku sudah lenyap dari dunia ini."


"Itulah sebabnya aku tidak bisa menerima kehadiran wanita lain dalam hidupku aku menganggap Aluna sangat penting dan berharga, selain dari Aluna aku mengabaikan semuanya, aku tidak perduli dengan orang di sekitarku, aku tidak perduli meskipun semua orang melihatku sebagai orang yang kejam."


"Sampai akhirnya Aluna memintaku untuk menikah denganmu, dan aku memperlakukanmu dengan buruk, berulang kali dia memintaku untuk mencoba lebih dekat denganmu, dulu aku marah ketika dia bicara seperti itu."


"Tapi sekarang aku baru mengerti maksud Aluna, Dia ingin membuktikan kalau kamu adalah orang yang berhati malaikat, aku baru menyadarinya setelah aku dekat denganmu."


"Aku memang bodoh."


"Tidak apa-apa bang semuanya sudah berlalu sekarang aku lihat abang banyak berubah, Kamu yang sekarang juga banyak senyum."


"Itu karna berkatmu dan anak kita, terimakasih kamu sudah membuatku menjadi orang yang lebih baik. Tapi aku penasaran selama kita berstatus suami istri apa kamu tidak pernah memiliki sedikit saja rasa cinta untukku?"


Anindira tersenyum dan berkata, "Aku memang terpaksa menikah denganmu karna uang, waktu itu hutangku sangat menumpuk, uang hasil kerja pun di ambil oleh bibiku. Orang tuaku sangat menderita aku merasa putus asa, makanya aku setuju untuk menikah denganmu."


"Meskipun seperti itu, aku tetap menghormatimu sebagai suami tapi aku tau kamu tidak menginginkanku, aku pun tidak pernah berharap menjadi istri yang di inginkan oleh suamiku."


"Maka aku berpikir aku akan bertindak jika di suruh saja, tapi ya aku akui dulu aku pernah menyukaimu."

__ADS_1


"Kapan?"


"Saat aku mengandung Rajendra, sedikit perhatian darimu membuatku tersentuh."


"Kapan aku perhatian padamu? aku tidak ingat pernah berbuat baik padamu."


Anindira tertawa, "Hahaha, waktu aku ngidam kamu menanyakan apa aku mau sesuatu, mau di belikan camilan apa, sambil marah-marah, dan waktu abang memarahiku karna terlalu banyak beraktivitas."


"Iya, aku ingat! waktu itu aku sangat kesal dan tidak tau apa yang harus aku lakukan, karna itu pertama kalinya aku menghadapi wanita hamil dan akan memiliki seorang anak."


"Kalau di ingat lagi..."


"Jangan di ingat, aku hanya memberi kenangan buruk selama kamu hidup bersamaku."


"Iya iya, pokoknya kalau di tanya apa aku pernah menyukaimu, jawabannya adalah iya. Tapi sekarang aku menyukaimu sebagai seorang teman, aku lebih nyaman dengan hubungan kita yang seperti ini."


Leon tersenyum mendengar perkataan Anindira, "Tidak apa-apa, aku senang walaupun kamu menyukaiku hanya sebagai seorang teman, kata orang cinta itu tidak harus memiliki siapa orang yang berani mengorbankan cintanya demi kebahagiaan orang yang dia cintai itulah yang namanya cinta sejati." Ucap Leon dalam hati


"Aku ingin melihat kamu bahagia dengan orang yang kamu cintai! semoga kamu mendapatkan banyak cinta dari orang yang mencintaimu yang tidak pernah kamu dapatkan selama kamu hidup bersamaku." Kata Leon.


Anindira hanya terdiam, dia tidak merespon ucapan Leon dia bingung harus mengatakan apa.


"Oh ya bang, boleh aku tau bagaimana waktu pertama kali abang dan Mba Aluna bertemu?" Ucap Anindira mengalihkan pembicaraan.


"Emh, ceritanya panjang aku akan cerita singkatnya saja ya."


"Papa mau celita tentang apa?" Tanya Rajendra sambil menghampiri Leon


"Papa mau cerita tentang mama Aluna sayang." jawab Anindira.


"Mama Aluna yang ada di foto itu ya ma? yang kata mama mamanya lendla juga!"


"Iya,"


"Lendla juga mau dengar ceritanya ma, pa,"


"Oke, sini duduk dipangkuan papa!" ucap Leon.


Bram juga ikut penasaran, dia berdiri di samping Leon sambil menunggu Leon mulai bercerita.


"Kamu ngapain di sini?" kata Leon pada Bram.


"Mau ikut mendendengarkan tuan muda bercerita."


"Siapa yang nyuruh kamu ikut mendengarkan ceritaku? pergi sana!"


"Gapapa bang, ini kan tentang Mba Aluna bukan tentang hal lain." Kata Anindira

__ADS_1


Leon menghela nafas, "Hhaahh, baiklah, kali ini aku izinkan."


__ADS_2