
Rajendra meminta izin pada Leon untuk bermain bersama Bram di luar.
"Pa, boleh Lendla main sama Om Blam?"
"Oke, tapi jangan main jauh-jauh ya!"
"Iya pa, lendla janji."
"Sebentar, papa akan menelpon Om Bramnya dulu."
"Halo Bram,"
"Iya tuan?"
"Datang keruanganku sekarang!"
"Baik tuan segera."
Bram menemui Leon di ruang kerjanya.
"Bram, bawa Rajendra bermain di luar!"
"Iya Tuan,"
"Pa, boleh Lendla pelgi ke tempat pelmainan?"
"Papa kan udah bilang jangan jauh-jauh!"
"Lendla mohon pa, Lendla kan pelginya sama Om Blam, jadi papa tidak usah hawatil! Om Blam akan jagain Lendla kok, iya kan Om Blam?"
"Iya, iya tentu saja Tuan."
"Emh, baiklah papa kalah kamu yang menang."
"Ye, makasih papa! Lendla sayang papa." Kata Rendra sambil memeluk papanya.
"Hmm, papa juga sayang Rendra. Bram jaga anakku dengan baik jika tidak kamu akan tamat!"
"Ba baik tuan, saya akan menjaga Tuan Kecil dengan segenap jiwa dan raga saya."
"Bagus, kamu boleh bawa Rajendra pergi sekarang!"
"Ayo Tuan Kecil!"
"Iya Om, dah papa!"
Leon membalas dengan lambaian tangan.
Sementara Leon bertemu klien, Bram dan Rajendra pergi ke tempat permainan, Rajendra sangat senang dia memainkan berbagai macam mainan bersama Bram.
Hari sudah semakin sore, Leon menelpon Bram untuk segera membawa Rajendra kembali.
"Apa jagoan papa sudah puas bersenang-senang?"
"Iya, itu sangat menyenangkan apalagi kalau bisa pelgi baleng papa sama mama." Ucap Rajendra dengan penuh semangat.
Leon merasa sedih mendengar perkataan anaknya, karna Rajendra anak yang cerdas dia menyadari apa yang sedang Leon Rasakan.
"Maaf pa, Lendla tidak belmaksud membuat papa sedih. Lendla gapapa kok meskipun Lendla, mama, sama papa gak bisa pelgi belsama yang penting Lendla masih bisa menghabiskan waktu belsama papa dan mama."
"Iya, papa sama mama selalu sayang sama Rendra, ayo kita pulang!"
Leon membawa Rajendra pulang ke rumah Anindira.
"Mama," Teriak Rajendra memanggil Anindira ketika dia melihat Anindira keluar rumah untuk menyambut kedatangannya.
"Rendra?"
__ADS_1
Rajendra berlari dan memeluk mamanya.
"Apa kabar sayang?"
"Baik ma,"
"Mama sangat merindukan kamu."
"Lendla juga,"
"Wah, lihatlah ibu dan anak ini benar-benar tidak terpisahkan ya! ini hanya satu hari loh, tapi kalian sudah seperti terpisah bertahun-tahun."
"Tentu saja, dia adalah separuh jiwaku." Kata Anindira sambil menggendong anaknya.
Leon menatap Anindira lalu mengalihkan pandangannya seperti orang yang kebingungan.
"Ada apa bang?"
"Gapapa."
"Rendra kamu sama nenek dulu ya!"
"Rendra sini Nak, nenek buatkan kue kesukaanmu ayo ikut nenek!"
"Ayo nek, Lendla udah gak sabal mau mencicipi kue buatan nenek."
Rajendra dan neneknya pergi ke dapur untuk mencicipi kue kesukaan Rajendra buatan neneknya.
"Ayo duduk bang!" Anindira mempersilahkan Leon untuk duduk.
Leon pun duduk di kursi yang ada di teras depan rumahnya Anindira.
"Sebentar ya, aku akan mengambil minum dan camilannya dulu."
Leon memegang tangan Anindira, "Dira, duduklah! aku ingin bicara sesuatu padamu."
"Tentang hubunganku dengan Aira."
"Jadi, apa keputusan abang?"
"Aku akan menikahinya."
"Benarkah?"
"Iya,"
"Syukurlah kalau begitu, selamat ya bang, abang akan memulai kehidupan abang yang baru aku ikut senang untukmu."
"Itu tidak seperti yang kamu bayangkan Dira."
"Maksud abang?"
"Aku telah melakukan sesuatu padanya, sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan."
Anindira terkejut dengan pengakuan Leon, "Kenapa bisa begitu?! maksudku bagaimana bisa abang melakukan itu pada Aira sebelum abang menikahinya."
"Aku tidak tau, aku tidak ingat apapun."
"Kapan kejadiannya?"
"Kemarin malam, waktu itu aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum ternyata Aira juga ada di sana, dia yang mengambilkan air minum untukku setelah aku meminumnya kepalaku terasa pusing."
"Aku bermaksud untuk pergi ke kamar tapi kepalaku terasa berat, langkahku tidak karuan aku hanya ingat Aira membantu memapahku, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi."
"Lalu bagaimana abang bisa tau kalau abang melakukan itu padanya?"
"Dia sendiri yang bilang. Aku terkejut ketika aku terbangun, aku melihat dia tertidur di sampingku aku bertanya padanya apa yang terjadi semalam, dan dia bilang aku telah melakukan sesuatu padanya."
__ADS_1
"Dan karna itu, alasanmu setuju untuk menikahinya."
"Iya, aku tidak punya pilihan hanya itu jalan satu-satunya aku tidak mau menjadi pengecut dengan tidak mempertanggungjawabkan perbuatanku."
Leon menangis di hadapan Anindira.
"Kenapa abang jadi serapuh ini, Sejak kapan seorang Leon Pradana menjadi laki-laki cengeng seperti ini?"
Leon mengusap air matanya lalu menatap Anindira, "Sejak Aluna pergi meninggalkanku untuk selamanya, dan semenjak kita berpisah."
"Setelah aku berpisah darimu jiwaku semakin terguncang tidak ada lagi yang tersisa sekarang satu-satunya tujuan hidupku hanya satu yaitu Rajendra anak kita."
"Jika aku tidak melakukan perbuatan itu pada Aira, mungkinkah kita masih bisa rujuk kembali?"
"Maaf, aku tau ini berat untuk abang tapi meskipun abang tidak melakukan itu kita sudah tidak bisa rujuk lagi karna aku.. aku mencintai Dean dan aku sudah berjanji padanya untuk selalu bersamanya." Ucap Anindira sambil menunduk sedih.
"Ah, tidak apa-apa, seharusnya aku yang meminta maaf aku terbawa suasana."
"Abang jangan patah semangat ya, aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk abang. Semuanya sudah terjadi yang terpenting Abang sudah mau bertanggung jawab jangan bersedih lagi!"
"Terimakasih Dira, terimakasih untuk semuanya." Kata Leon sambil menatapnya dalam-dalam.
Anindira menunduk malu, "Abang tidak perlu berterimakasih, aku tidak melakukan apapun." Dira menatap ke arah langit, "Hari sudah semakin gelap."
"Iya, tak terasa ya! aku harus segera pulang sekarang."
"Abang jangan pergi! maksudku tinggallah untuk makan malam dulu di sini."
"Baiklah,"
"Ayo masuk! Kak Bram ikutlah makan malam bersama kami!"
Bram melirik Leon.
"Ikutlah Bram!"
Mereka pun makan malam bersama di rumah Anindira.
"Lendla seneng deh bisa makan malam belsama mama, dan papa di tambah lagi ada Om Bram jadi tambah rame."
Anindira dan Leon terdiam mendengar perkataan Rajendra.
"Rendra, tambah lagi sayurnya biar kamu tumbuh kuat dan sehat." Kata ibu Anindira mencoba mencairkan suasana.
Setelah selesai makan malam, Leon pamit untuk pulang.
Rajendra tampak sedih melihat Leon akan pergi.
"Rendra, papa pulang dulu ya! nanti papa akan datang lagi."
"Iya pa, papa hati-hati di jalan ya."
"Iya sayang,"
Leon masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya, Rajendra membalas lambaian tangan papanya.
Anindira tidak tega melihat Rajendra, dia tau sebenarnya Rajendra masih ingin tinggal lebih lama lagi bersama Leon.
"Sayang, Ayo kita masuk!"
"Iya ma,"
Anindira duduk di sofa bersama Rajendra, "Vlm kartun kesukaan Rendra sudah mulai loh."
"Benelan ma?"
Anindira mengangguk, Rajendra menyalakan tv dan menonton vlm kartun favoritnya.
__ADS_1
Anindira sengaja mengalihkan perhatiannya supaya dia melupakan kesedihannya.