Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 88


__ADS_3

Anindira menghidangkan makanan untuk makan malam, Dokter Jo bermaksud membantunya.


"Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Ah, tidak apa-apa Dokter, aku sudah selesai."


"Ini bukan di rumah sakit, jadi kamu tidak perlu terlalu pormal terhadapku, santai saja."


Anindira tersenyum.


"Hei Jo, apa kamu sedang berusaha menggodanya."


"Apa? aku hanya menawarkan bantuan, kamu jangan terlalu over Dean."


"Hahh, kau ini."


"Aku pinjam kamar mandimu dulu ya."


"Iya, iya, silahkan."


"Dean, apa Rajendra bilang padamu dia pulangnya kapan?"


"Katanya sih dia pulang malam."


"Oh ya? "


"Hmm, Dira,"


"Iya,"


"Malam ini menginaplah di sini."


"Tapi.."


"Untuk malam ini saja ya,"


"Hmm.. (sebenarnya, aku juga gak tega membiarkan kamu sendiri dalam keadaan seperti ini, apalagi penyebab kamu jadi begini adalah aku.)" Ucapnya dalam hati.


Anindira menatap Dean,


"Pleace," Kata Dean.


Anindira mengangguk setuju.


"Terimakasih," Kata Dean sambil tersenyum.


"Ini sudah pukul 19.00, kok Rendra belum pulang juga ya."


"Coba kamu cat dia."


"Iya, aku akan tanya kapan dia pulang."


Ting tong,


"Itu pasti Rendra," Kata Dean


"Kalau gitu aku buka pintu dulu ya."


"Oke,"


"Malam ma,"


"Kamu sudah pulang,"


"Iya ma,"


"Ayo masuk,"


"Dimana paman?"


"Dia di ruang makan."


"Ruang makan? apa malam ini kita makan malam di sini?"


"Hmm, kita akan makan malam bersama Dokter Jo."


"Oh, ada tamu terhormat rupanya."


"Lalu.. malam ini, kita juga akan menginap di sini."


"Benarkah?" Ucap Rendra merasa senang.


Anindira mengangguk.


"Rendra senang, kita akan menginap di sini."


"Rendra,"


"Malam paman," Rajendra menghampiri Dean dan duduk di sampingnya

__ADS_1


"Malam boy," Dean merangkul bahu Rajendra.


"Wow, kalian bertiga sudah seperti keluarga bahagia, sempurna." Ucap Dokter Jo, yang baru saja selesai mandi.


"Jo,"


"Ck, kenapa kalian tidak menikah saja, dengan begitu kamu akan mempunyai istri, Anindira akan mempunyai suami dan Rendra akan mempunyai ayah."


"Aku setuju," Kata Rajendra.


Dean menatap Anindira, tapi Anindira tidak berani membalas tatapannya, dia malah mengalihkan pembicaraaan.


"Sebaiknya kita bersiap-siap untuk makan malam, Rendra bersihkan dirimu terlebih dahulu."


"Iya ma, paman apa aku boleh pinjam kamar dan kamar mandinya?"


"Tentu saja, apapun untukmu boy, Ganti pakaianmu, di lemari ada pakaian baru aku belum pernah memakainya, pakai saja itu."


"Terimakasih paman,"


"Itu tidak perlu, cepat pergi sana."


Rajendra langsung bergegas menuju kamar Dean yang ada di lantai atas.


"Dira, ini untukmu,"


"Ini.."


"Baju ganti, kamu juga perlu membersihkan diri, pakailah itu."


"Kamu sudah mempersiapkan ini dari awal?"


Wajah Dean memerah, "Tidak, itu.. tadinya aku beli itu untuk sepupu perempuanku di kampung, tapi karna waktu itu gak kebawa jadinya gak jadi aku kasih (Bohong)."


"Oh,"


"Gantilah pakaianmu,"


"Baiklah, aku.. aku harus mengganti pakaianku dimana?" Wajah Anindira berubah menjadi merah seperti tomat.


"Ah, iya, iya, aku lupa,"


"Boleh aku pinjam kamar tamunya?"


"Tidak, jangan kamar tamu."


"Karna kamu adalah keluargaku, mm.. maksudku kamu sudah seperti keluargaku kamar tamu itu bukan untuk anggota keluarga, jadi kamu tidak boleh memakai kamar tamu, lagi pula kamar tamu sudah di pakai oleh Jo."


"Hhah, memangnya kalau aku sudah memakainya kenapa? kan yang di pakai kamar dan kamar mandinya, tinggal ganti handuk dan peralatan mandinya saja kan?sebegitu tidak relanya kamu membiarkan Anindira memakai kamar yang sudah aku pakai, ck." Kata Dokter Jo geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


"Lalu aku harus kemana?"


"Hmm, kamu pakai kamar yang di lantai atas aja, sebelahan dengan kamarku yang sedang di pakai Rendra, atau kalau kamu mau kamu bisa pakai kamar yang sedang aku tempati sekarang." Kata Dean ragu.


Wajah Anindira semakin memerah, "Tidak perlu, aku.. aku ke kamar atas saja." Katanya buru-buru pergi.


"Ya ampun, apa aku salah lihat? pipi Anindira memerah, apa dia malu?" Dean tersenyum, "Tapi kenapa dia harus malu, dulu kalau main ke rumah, kita suka nyelonong maen masuk aja ke kamar satu sama lain, kenapa sekarang dia malu."


"Ya sekarang beda lah parjo,"


"Namaku Dean bukan parjo."


"Hahaha,"


"Jo, menurutmu apa Anindira mencintaiku?"


"Mana ku tau, aku kan bukan dia."


"Ya maksudnya, aku nanya pendapat kamu gitu."


"Kamu tanya aja sendiri."


"Kalau ternyata dia tidak mencintaiku."


"Ya itu sudah resiko kamu, sebagai laki-laki sejati kamu harus bisa menerima apapun keputusannya."


"Iya sih, tapi aku sudah mencintainya sejak lama."


"Makanya kamu tanya dia."


"Aku sudah melamarnya, aku bilang aku tidak terburu-buru, dia boleh memikirkannya dulu."


"Lalu,"


"Lalu sekarang aku malah tidak sabar."


"Bersabarlah sedikit lagi Dean, dia juga perlu berjuang untuk dirinya sendiri."


"Aku tau,"

__ADS_1


"Paman, Dokter Jo,"


"Hai Rendra, panggil saja aku paman seperti Dean, tidak perlu memanggilku dengan sebutan formal seperti itu."


"Hahaha, baiklah paman."


Anindira turun dari tangga dengan memakai pakaian pemberian Dean, dia tampak anggun dengan dress berwarna merah panjang di atas tumit, lengan dress tiga perempat dengan tali pita, leher dress polos dan ikat pinggang mutiara daun emas di bagian pinggang dressnya, rambutnya terurai panjang sepunggung menambah keanggunannya.


"Sempurna." Ucap Dean.


Jo tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Wah, mamaku sangat cantik seperti peri."


"Kamu bicara apa sih Rendra, lagian kamu kenapa menyuruh aku memakai dress? aku lebih suka memakai pakaian santai."


"Emm, itu juga bisa di pakai buat santai kok."


"Ya ampun Dean, kamu serius mau aku tidur dengan memakai dress seperti ini?"


"Gapapa ma, apa salahnya tidur dengan memakai dress."


"Ya gak salah sih, ya udah deh gapapa, ayo kita makan, kalian pasti udah pada lapar kan."


Mereka berempatpun makan malam bersama.


"Dean,"


"Iya,"


"Apa aku boleh pinjam baju kamu, sayang dressnya kalau di pakai buat tidur."


"Ohok, ohok," Dean terkejut mendengar ucapan Anindira sampai dia tersedak.


Dokter Jo mengambil air minum dan memberikannya pada Dean.


"Kamu gapapa Dean?" Tanya Anindira.


"Gapapa, gapapa."


Rajendra dan Jo tersenyum.


"Ekhem, oke kamu boleh pinjam bajuku,"


"Oke, makasih, emm.. Rendra tolong kamu ambilkan bajunya Dean ya."


"Iya ma, di kamar atas ada kok, nanti aku ambilkan."


Setelah selesai makan Dokter Jo pamit pulang.


"Ma ini bajunya, pas banget ada baju tidurnya Paman Dean di lemari."


"Oh ya, kalau gitu mama ganti baju dulu ya."


"Iya ma," Rajendra tersenyum, "Hari ini banyak hal yang terjadi di antara mama sama paman semoga mereka cepat bersatu." Gumam Rajendra.


Rajendra mengambil sebuah foto di dalam tas nya, dia selalu membawa foto itu kemana-mana.


"Pa, do'ain mama sama Paman Dean ya, semoga mereka cepat bersatu."


Pagi hari,


Anindira akan pamit pulang, dia melihat pintu kamar Dean terbuka.


"Dean,"


Anindira mendapati Dean sedang ganti baju.


"?!"


"Dira?!"


"Maaf," Katanya sambil membalikan badan.


"Tidak apa-apa, apa kamu memerlukan sesuatu?"


"Tidak, aku cuma mau bilang, aku akan pulang ke rumah, aku sudah menyiapkan sarapan dan yang lainnya, apa ada sesuatu yang kamu butuhkan lagi? biar aku siapkan sebelum pergi."


"Itu sudah cukup, terimakasih, tapi.. apa kamu tidak bisa tinggal lebih lama di sini?"


"A apa maksudmu?"


"Aku membutuhkanmu,"


"Apa, apa yang kamu butuhkan biar aku siapkan sekarang."


"Bukan, bukan hal yang lain, tapi kamu, aku butuh kamu."


"Aku tidak mengerti."

__ADS_1


__ADS_2