Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 10


__ADS_3

Yuk tap like karyaku sesudah membaca nya, dan jangan lupa vote agar tahu notifikasi selanjutnya saat aku update bab baru 😘


" Terima kasih, Bang!" jawabku sambil mengambil sebungkus martabak di tangannya.


Rudi masih berdiri di depan pintu, karena aku ragu untuk menyuruh nya masuk ke dalam rumah. Setahu tetanggaku, aku dan Rudi telah berpisah. Jadi aku tidak ingin ada gosip buruk soal hubungan ku dengan Rudi saat ini.


" Abang, gak di suruh masuk?" tanyanya seraya melihat ku dengan tatapan menggoda.


" Bang, apa kata Silvia nanti? Aku tidak ingin dia salah paham." ucapku yang ingin melarang Rudi, masuk ke dalam rumahku. Karena aku merasa tak enak hati pada ibuku.


" Silvia sudah tidur, jadi abang langsung jalan beliin martabak buat kamu." ucapnya lembut sambil melempar senyum kepada ku.


Sungguh manis senyum nya, mengingatkan ku sewaktu dia menjadi pacarku.


Kenapa setelah menikah, sikapnya berubah sangat kasar. Hal itu yang membuat aku bingung, karena saat ini sikap Rudi telah berubah seratus delapan puluh derajat. Entah, malaikat apa yang merasuki tubuhnya saat ini?


Hatiku terus bertanya-tanya, karena sikap Rudi tak seperti biasanya.


" Boleh, abang masuk?" tanyanya sekali lagi, seketika lamunan ku menjadi buyar.


" Tapi Bang, Karin gak enak jadi omongan tetangga nanti. Karena mereka tahunya kita sudah berpisah." kataku berbisik, sambil mengeluarkan kepala ku dan melihat ke arah rumah tetanggaku.


" Gak akan ada yang ngomongin kita, kan kita masih sah menjadi suami istri." kata Rudi meyakinkanku.


" Tapi Bang, tetangga Karin semua mengolok pernikahan kita. Apalagi sekarang di rumah Abang ada Silvia." ucapku tertunduk lesu.


" Nanti Abang tegur, orang yang udah mengolok kamu."


" Ya udah, masuk Bang." ajak ku pada Rudi, lalu aku membukakan pintu yang lebar untuk Rudi.


Rudi dengan cepat, langsung membuka sepatunya. Rudi langsung masuk ke dalam rumah, dia pun sudah duduk di sofa.


Kedua matanya membelalak, saat melihat televisi layar lebar di hadapannya.


" Nih tipi, kamu beli kredit?" tanya Rudi sambil mendekati televisi. Menyentuh nya lalu merabanya, dia ingin mengecek apakah televisi nya masih baru atau beli second?


" Cash, Bang! Aku anti membeli kredit." Sahut ku yang sedang membuatkan teh manis untuk nya.

__ADS_1


Usai membuat teh manis, aku langsung membawakan ke meja tamu.


" Ini tehnya, Bang!" Kataku yang menaruh segelas teh manis.


" Terima kasih." Jawab Rudi.


Aku terus memperhatikan raut wajahnya, dan terus bertanya-tanya tentang maksudnya datang ke rumah ibuku. Sambil mengeluarkan martabak, dan ku tata di atas piring.


" Abang, mau ngapain ke sini?" Tanyaku memberanikan diri. Awalnya aku ragu, jika nanti membuat Rudi tersinggung.


" Abang, mau nengokin anak Abang!" Ucapnya sambil menyeruput teh manis.


" Apa, Bang?" Ucapku terkejut mendengar perkataan Rudi.


" Memangnya abang, gak boleh liatin si utun?" Rudi mengulang pertanyaan yang sama.


" Bo-boleh, Bang." Jawabku sedikit terbata-bata karena terkejut mendengar penuturan Rudi.


Lalu Rudi mendekatiku, dan mengelus perutku yang sudah membuncit.


" Berapa bulan?" Tanyanya sambil mengelus perutku.


" Nanti abang akan minta ibu untuk bikin acara nujuh bulan." Kata Rudi.


" Tok, tok, tok..." terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras.


" Siapa sih malam-malam begini ketuk-ketuk pintu?" Tanya Rudi sambil melihat ke arahku.


" Enggak tahu, Bang. Bentar Karin buka ya!" Kataku yang langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.


" Heh, mana suamiku?" Tanya Silvia yang tiba-tiba saja masuk setelah aku membukakan pintu. Kemudian dia mendorong tubuh ku, hingga hampir terjatuh


" Eh, kamu kalau bertamu yang sopan." Kataku yang menghampiri Silvia.


" Alah, dia itu gak pernah cinta sama kamu." Ejek Silvia sambil menatapku rendah.


" Silvia, jaga bicaramu. " Bentak Rudi yang langsung berdiri.

__ADS_1


" Oh, jadi kamu uda kena guna-guna si cewek gendut ini lagi?" Umpat Silvia sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arahku.


" Maksud kamu apa, Sil?" Kataku yang emosi mendengar tuduhan dari Silvia.


" Sebaiknya kita, pulang." Kata Rudi yang langsung menarik tangan Silvia dan membawanya keluar rumah.


" Karin, besok abang jemput ya!" Kata Rudi sambil menoleh ke arahku, kemudian dia langsung menutup pintu.


Aku bingung dengan sikap Rudi, yang tiba-tiba saja menjadi baik kepadaku.


" Karin, " panggil Ibuku yang keluar dari kamarnya.


" Iya, bu." jawabku sambil mengunci pintu depan.


" Kamu, enggak apa-apa?" tanya Ibuku yang sudah duduk di ruang tamu.


" Enggak apa-apa, Bu." jawab ku sembari menghampiri nya.


" Makan, Bu. Martabak nya enak, loh." kataku yang mengambil satu martabak coklat.


" Rudi, mau kembali padamu?" tanya Ibuku memastikan kehadiran Rudi yang tiba-tiba datang, saat dia sudah menalak cerai.


" Karin, juga gak tahu bu." jawabku masih mengunyah martabak.


" Anak laki, kalau sudah mengucap talak tiga kali akan di catat sama Allah SWT." jelas ibuku.


" Seingat Karin, dia baru mengucapkan dua kali. " kataku yang keceplosan. Aku memang tak bisa menjaga rahasia dari ibuku.


" Suami yang melakukan talak 1 bisa melakukan rujuk dengan cara perbuatan seperti mencium istrinya dan mengucapkan rujuk untuk mengembalikan ikatan pernikahan di depan dua orang saksi yang adil. Talak 1 dan talak 2 membolehkan suami rujuk tanpa harus melakukan akad nikah lagi selama masa iddah belum selesai." ucapku menjelaskan pada ibuku.


Ibuku selalu bisa memancing ku, agar aku bisa jujur kepada nya.


Mungkin itu adalah naluri seorang ibu, yang tidak ingin membuat anaknya menderita.


" Ibu berharap, semua keputusan mu adalah yang terbaik. Karena ibu tidak selamanya berada di samping mu. " kata Ibuku dengan wajah bersedih.


" Ibu, jangan ngomong kayak gitu. Aku selalu berharap jika ibu bisa menemani ku, dan bermain bersama anak-anak ku." kataku yang langsung menghampiri ibuku, lalu memeluk nya erat.

__ADS_1


Aku tidak ingin kehilangan ibuku, bagiku dialah segalanya.


Silahkan tap like yang banyak, biar author semangat ya!!!


__ADS_2