
Karina telah membalas email yang baru saja di terima. Sesuai kesepakatan, Karina akan menemui CEO PT Arini Sentosa esok siang. Mereka menginginkan pertemuan langsung, di kantor PT Arini Sentosa.
Wajah Karina terlihat sumringah, karena dia berhasil mendapatkan supplier untuk rekanan butik tempatnya bekerja.
****
Karina telah menyiapkan dirinya, untuk kembali pulang. Dia sudah sangat merindukan anaknya.
Karina pulang menggunakan motor kesayangannya.
Sesampainya di rumah, Karina langsung membersihkan dirinya. Usai membersihkan diri, Karina langsung menghampiri sang ibu mertua.
" Bu, Arjuna uda mandi? " Karina sudah di depan Ambar yang sedang menggendong Arjuna.
" Sudah, " jawab Ambar sambil mengusap kepala Arjuna.
Karina melihat ketulusan dari ibu mertua nya, mungkin dia merasa bersalah karena pernah mempunyai niat jahat pada Karina.
Karina pun mengambil Arjuna dari tangan Ambar.
" Arjun, kamu sama mama. " Karina mengambil alih Arjuna dari tangan Ambar.
" Karina, maafin ibu. Ibu mohon, kamu jangan pergi dari sini. Tempati rumah Rudi, karena hanya Arjunalah keturunan Rudi. " Ambar memohon pada Karina.
Karina hanya tersenyum pias, dia belum memikirkan hal yang jauh.
" Bu, boleh aku bertanya? " Karina duduk di kursi sambil menggendong Arjuna.
" Kamu mau nanya apa? " Ambar bertanya pada Karina.
" Soal bang Ardi, " jawab Karina
" Ada apa dengan, Ardi? " tanya Ambar.
" Kenapa dia pulang ke kotanya, gak pamit sama aku? " Karina menatap Ambar, mencoba mencari kejujuran di raut wajahnya.
" Ardi juga gak bilang sama ibu, dia hanya pamit sama bapak. " Ambar menjawab
" Loh kok? " Karina mengerutkan keningnya.
" Sebenarnya bang Ardi, tinggal dimana? " tanya Karina
" Mmm ... " Terlihat Ambar berpikir. " Memangnya ada apa kamu bertanya soal Ardi? " Ambar balik bertanya pada Karina.
" Oh, aku hanya ingin tahu saja. Soalnya sikapnya beda jauh sama bang Rudi. "
" Salah ibu, kenapa terlalu memanjakan Rudi. Hingga membuatnya lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki. " Ambar termenung, meratapi anaknya yang sudah meninggal.
Karina hanya tersenyum mendengar, cerita Ambar.
" Ardi, bukanlah anak ibu. Dia adalah anak dari istri pertama bapak. " Ambar menceritakan pada Karina.
__ADS_1
" Keberadaan nya kini tidak kami ketahui, karena usai melahirkan Rudi, kami gak tahu lagi keberadaan nya, " sambungnya.
" Apa? Jadi bapak punya istri dua? " Karina membatin, dia yakin jika sifat Rudi berasal dari bapaknya.
" Oh kalau begitu, aku kembali ke rumah dulu. " Karina langsung bangun dari duduknya dan berjalan menuju rumahnya.
" Kenapa bang Ardi gak pernah cerita? " Karina terus bermonolog sendiri memikirkan Ardi.
Dulu Ardi mengaku pada Karina ingin bekerja di luar kota. Agar perekonomiannya membaik.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga suaminya? Pertanyaan itu selalu terngiang di benak Karina. Dia tidak ingin seperti orang bodoh, yang tidak tahu tentang asal usul keluarga suaminya.
Malam pun tiba, Karina telah menidurkan anaknya. Dan dia telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Termasuk mempersiapkan baju kerja, yang akan di pakai besok.
" Selesai, " ucap Karina seraya menepuk-nepuk kedua tangannya.
Kemudian dia langsung membaringkan tubuhnya, di sebelah Arjuna.
" Sayang, kini hanya tinggal kita berdua. Mama akan selalu membuat mu bahagia. " Karina mengecup pipi Arjuna seraya membisikkan doa untuk anak satu-satunya.
****
Pagi pun tiba, Karina telah merapikan anaknya. Setelah memandikan anaknya, Karina langsung menyerahkan kepada ibu mertuanya. Kemudian berlanjut dia yang membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri, dia langsung memerah air susunya. Untuk di taruh di tempat khusus ASI.
Karina hanya akan memberikan ASI esklusif pada Arjuna, hingga usia 6 bulan.
" Bu, susunya ada di kulkas. Kalau Arjun haus, tinggal di hangatkan. " Karina berpesan pada ibu mertuanya.
" Iya, " jawab Ambar.
" Mama jalan dulu, ya! " Karina mendekati sang anak, lalu mencium pipinya.
Karina pamit kepada ibu mertuanya dan meninggalkan banyak pesan untuknya.
Saat ini Karina akan mulai terbiasa lagi, mengendarai motor miliknya. Sepanjang perjalanan, Karina selalu belajar berbicara. Dia tahu jika seorang marketing, harus pandai berbicara.
Sesampainya di kantor, dia langsung menghampiri ruangan Ajeng. Saat akan memasuki ruangan Ajeng, dia bertemu dengan Christina.
" Karin, " sapa Christina yang berpapasan dengan Karina.
" Bu Chris, selamat pagi. " Karina mengucapkan salam untuk Christina.
" Kamu sudah mulai masuk? " tanyanya.
" Sudah dari kemarin, " jawab Karina.
" Maaf, aku belum sempat menengok suamimu dan anakmu. " Christina menatap iba Karina. Dia memang bos yang sangat perhatian, dan tidak pilih kasih.
" Iya Bu, aku juga maklum, " jawab Karina. " Ibu bagaimana keadaan nya? " Karina bertanya pada Christina.
" Aku sehat, dan kau lihat sekarang lebih segar. " Christina mengangkat tangannya seperti bianaragawan.
__ADS_1
" Oh iya, Ibu lebih cantik! " Karina memuji bosnya.
" Kamu mau ke ruangan Ajeng? " tanya Christina.
" Iya, " jawab Karina.
" Ada hal penting? " tanya Christina dengan wajah penasaran.
" Aku baru saja mendapatkan supplier, dan meminta bantuan Mbak Ajeng untuk mengantarkan ku ke keluar kota. " Karina menjelaskan.
" Oh, aku baru dengar. " Christina membulatkan kedua bola matanya. " Terima kasih, kamu telah membantu usaha ku. " Christina memeluk Karina.
" Sudah kewajiban ku, karena tempat ibu adalah mata pencaharian ku. Jadi aku akan berusaha semaksimal mungkin, agar usaha Ibu bisa terus berkembang, " ujar Karina
" Karin, Bu Chris! " Suara Ajeng terdengar dari arah belakang.
" Oke, aku kembali ke ruangan ku. " Christina pamit pada Ajeng dan Karina.
" Iya, Bu! " jawab Karina dan Ajeng bersamaan.
" Mbak, " panggil Karina.
" Iya, Rin? " tanya Ajeng
" Bisa anterin aku, ke tempat supplier di luar kota? " tanya Karina.
" Memangnya kamu sudah dapat supplier nya? " tanya Ajeng seraya menautkan kedua alisnya.
" Sudah, dan jam makan siang kita harus sampai di kantor nya. " Karina memberitahu Ajeng.
" Dimana kotanya? " tanya Ajeng.
" Kota kembang, Mbak! " jawab Karina.
" Kalau kota kembang, sebaiknya kita langsung berangkat sekarang. Karena daerah sana pasti macet. " Ajeng terlihat antusias.
" Aku merapikan berkas dulu, ya! " Karina langsung berbalik badan dan meninggalkan Ajeng.
Karina langsung berjalan menuju ruangan nya. Merapikan semua berkas yang di perlukan untuk presentasi. Begitu juga contoh bahan dan juga desain.
" Kamu uda rapi? " Ajeng sudah menggendong tasnya, berikut air minum di botol Tuppy berwarna merah jambu kesayangan nya.
" Sudah, Mbak! "
Karina dan Ajeng berjalan menuju ruang Personalia. Meminta surat pengantar perjalanan, dan juga surat penggunaan fasilitas kantor yaitu mobil.
Usai mengurus surat-surat, mereka berduaan langsung menuju area parkir dan mencari mobil sedan berwarna putih.
" Ayo masuk, " ucap Ajeng yang sudah membukakan pintu mobil.
Karina pun duduk di sebelah Ajeng, dan memakai seatbelt .
__ADS_1
Ajeng pun melajukan mobilnya, meninggalkan kantor. Sedangkan Karina sedang mempersiapkan presentasi untuk memperkenalkan jenis produk yang akan di tawarkan.