
" Apa maksudnya?" tanyaku sekali lagi, karena merasa tidak percaya dengan ucapannya.
Tiba-tiba ada seseorang dengan stelan jas rapi, menghampiri ku.
" Sore, nona." sapanya sambil membuka kacamata hitamnya.
" Kamu siapa?" tanyaku sambil menahan emosi.
" Aku Renaldi Wahidin, pemilik baru rumah ini." ucapnya dengan nada angkuh, lelaki setengah baya itu sudah berdiri di hadapan ku.
" Siapa yang menjual rumah ini?" hardikku.
" Zubaedah, dia yang menjualnya." Ujar Lelaki bernama Renaldi.
" Bedah..." geramku, saat melihat tanda tangan yang terbubuh di atas selembar kertas.
" Bagaimana dengan sertifikat nya, dia kan tidak memiliki sertifikat rumah ini?" bentakku yang tidak ingin mengalah, karena aku ingin mempertahankan rumah ibuku.
" Ini sertifikat nya, di saksikan oleh notaris dan pejabat pemerintah." ucapnya santai.
" Apa?" Aku terkejut, saat melihat sertifikat rumah ibuku sudah berada di tangannya.
Seketika aku pun jatuh pingsan, dan tak sadarkan diri.
Sungguh tega Bedah menjual rumah tanpa seijinku.
Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku, melihat cahaya berkilau menyinari mataku.
Suasana ruangan yang tidak aku kenali, bukan di rumahku. Ini rumah Rudi, aku sangat ingat kala aku masih tinggal bersama dengan nya.
" Bang, kenapa aku bisa ada di sini?" tanyaku sambil memijat pelipis ku.
" Oh, kamu sudah sadar?" cibir Silvia, yang suaranya sangat terdengar jelas di telinga ku.
" Bang, kenapa aku bisa berada di sini?" tekanku pada Rudi yang duduk di pinggiran tempat tidur.
" Kamu tadi pingsan." katanya sambil memijat kaki ku.
" Apa benar, Kak Bedah sudah menjual rumah ku?" kataku sambil menangis histeris.
" Iya, " jawab Rudi yang menatapku iba, " Untuk sementara, kamu tinggal sama ibu. Dan kalau abang sudah kerja, nanti kita mencari rumah kontrakan." katanya merayuku.
" Baik, bang." kataku menurut, aku bersyukur di saat sedang tertimpa musibah, ada suamiku yang berada di samping ku.
Walaupun Silvia menatapku benci, dan tidak suka. Aku tidak perduli, yang pasti aku hanya ingin Rudi menjadi milik ku.
" Udah cepat sana ke rumah ibu." usir Silvia sambil menatap sinis ke arahku.
Segera aku bangkit dari tempat tidur, dan pergi meninggalkan kamar Rudi. Aku berjalan menuju rumah mertua ku, yang jaraknya hanya lima meter.
__ADS_1
" Bu, sementara Karina tinggal di sini. Nanti kalau sudah melahirkan aku akan carikan rumah kontrakan." kata Rudi yang berbicara pada Ambar.
" Oh, ya sudah. Ibu akan bersihkan kamar Ardi." kata Ambar yang langsung bangkit dari duduknya.
Aku akan tinggal di kamar Ardi, yaitu kakak dari Rudi yang sedang merantau. Sudah sejak lama dia tidak kembali, dan mungkin kamar itu kosong saat lima tahun kepergian nya. Ardi merantau ke kota, untuk meneruskan pendidikannya. Berharap kembali ke rumah nya menjadi orang sukses, dan dapat membahagiakan kedua orang tuanya.
Sampai saat ini, aku belum pernah melihat sosok Ardi. Jika Rudi saja tampan, bagaimana dengan kakaknya.
Di dinding rumah nya pun, tak nampak foto Ardi.
" Karina, kamarnya sudah ibu rapikan." panggil Ambar dari arah dalam kamar.
Segera ku langkahkan kaki menuju kamar milik Ardi.
" Terima kasih, bu." kataku yang sudah masuk ke dalam kamar.
Kamar yang masih rapi, tanpa ada debu ataupun pakaian berserakan.
Mungkin ibu mertuaku, selalu merapikan setiap harinya.
" Kamu tidur lah, kasian cucu ibu. Jangan sampai dia sakit." kata mertuaku sambil mengelus perutku.
Aku pun membaringkan tubuhku di atas kasur, tanpa terasa kedua mataku pun terpejam.
****
Aku berniat untuk menghampiri kakakku Bedah di rumahnya. Ingin menanyakan perihal penjualan rumah ibuku.
Sayangnya aku tidak tertarik secuil pun soal hartanya.
Hari ini aku mengajukan cuti hamil, karena sisa sebulan pasca aku akan melahirkan. Dan sisa dua bulan lagi, adalah pasca setelah melahirkan.
Setelah mengajukan surat cuti, aku meminta maaf pada seluruh karyawan. Berharap persalinan ku, yang akan berlangsung sebulan lagi akan lancar.
Kemudian aku menghampiri Rudi, yang sudah menunggu ku di depan gerbang. Karena tadi aku sudah berpesan padanya, untuk menunggu ku.
" Ayo, bang jalan." kataku yang sudah naik ke atas motor nya.
Aku meminta Rudi untuk memperlambat laju kendaraannya. Karena perutku sudah terasa sakit, bila kami melintasi polisi tidur.
Sesampainya di rumah Bedah, aku pun turun dan berjalan ke arah depan pintu.
Kulihat suasana rumah yang teramat sepi, seperti tak ada kehidupan.
" Kak, " panggilku seraya mengetuk pintu.
" Dek, cari po Bedah?" Sapa salah seorang tetangga yang melintas di depan rumah Bedah, saat melihatku.
" Iya, bu." Jawabku.
__ADS_1
" Tadi pagi, po Bedah pindahan. Dia gak ngomong mau kemana. Pergi juga gak bilang-bilang sama tetangga." Katanya memberitahuku.
Kakiku terasa lemas, mendengar penuturan dari tetangga Bedah.
Begitu teganya dia kepada saudaranya sendiri, menjual rumah ibu serta membawa uangnya.
Segera ku ambil ponsel, dan mencoba menghubunginya.
" Nomor yang anda panggil sedang di luar jangkauan, silakan hubungi beberapa saat lagi."
Hanya suara operator telepon yang menjawab panggilanku.
Tiga kali ku hubungi, ternyata mendapat jawaban yang sama dari operator.
Langsung ku cari nomor Diana, siapa tahu Bedah sedang di sana.
" Berdering...."
" Halo, kak." Sapaku
" Iya, Karin. Ada apa?" Tanyanya.
" Kak Bedah gak ada di rumahnya, sedangkan rumah ibu sudah di jual." Kataku sambil menangis.
" Apa? Kenapa dia tidak bicarakan dulu hal itu sama kita?" Kata Diana dengan suara yang emosi.
" Aku gak tahu, padahal sertifikat rumah sudah ku taruh di tempat yang aman. Tapi kenapa dia bisa mendapatkannya?" Aku masih penasaran soal Bedah yang mengetahui seluk beluk rumah ibuku.
Padahal dia hanya datang setahun sekali, dan tak pernah tahu tentang keberadaan sertifikat rumah.
Diana hanya terdiam, dia tidak berkata apa-apa. Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikannya. Diana pasti tahu, soal rencana Bedah.
"Kak, kenapa kau diam saja. Apa kau tahu tentang hal ini?" Desakku pada Diana.
Kemudian Diana langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Aku benar-benar curiga, pasti dia bekerjasama pada Bedah.
" Ada apa, Karin?" Tanya Rudi yang melihatku menangis histeris.
" Kedua kakakku benar-benar jahat." Kataku yang menangis dalam pelukkannya.
Selang lima belas menit, Rudi mengajakku pulang.
Sesampainya di rumah, terlihat ada seorang pria gagah dan tampan sedang duduk di teras depan rumah mertua ku.
Penampilan nya sungguh berkelas, tetapi saat ku perhatikan wajahnya hampir mirip Rudi.
Apakah dia Ardi, kakak sulung Rudi?
__ADS_1
" Bang, sejak kapan kau datang?" tanya Rudi yang sudah turun dari motor nya.
Dia begitu sinis memandang kami, tak ada senyuman di wajahnya.