Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 11


__ADS_3

Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.


Kini sikap Rudi berubah, dia menjadi baik dan sangat perhatian kepada ku.


Sering mengantarkanku pergi bekerja, dan juga menjemputku. Mimpi apa aku semalam, hingga Rudi bisa bersikap baik kepadaku?


Aku yang ingin keluar rumah, terkejut saat melihat kehadiran Rudi.


Rudi telah tiba untuk mengantarkan ku bekerja, motor nya di parkir di halaman rumah.


" Karin, besok di rumah ibu akan di adakan pengajian. Dan nanti malam kamu, disuruh menginap di rumah ibu, mau ya?" pinta Rudi sambil memberikan helm untuk ku. Ibu mertua ku mendadak membuat acara pengajian. Dan aku belum mempersiapkan diri.


" Apa, Bang? Acara pengajian?" ucapku terkejut sambil mengambil helm dari tangan Rudi


" Iya, besok acara pengajian nujuh bulanan anak kita. Jadi kamu harus datang." kata Rudi sambil menyalakan mesin motor nya.


" Tapi kok mendadak, Bang?" tanyaku, yang sambil mengaitkan tali helm agar tidak terlepas saat terkena angin.


" Gak tahu ibu,"


" Semalam dia datang ke rumah, dan langsung menyuruhku untuk menjemputmu nanti malam." kata Rudi.


" Baiklah, Bang!" kataku yang sudah naik motor Rudi.


Rudi menjalankan motornya, menuju kantor tempatku bekerja.


Sesampainya di kantor, aku berpapasan dengan bosku.


" Bu Chris. " sapa ku yang langsung turun dari motor dan berdiri di sebelah motor Rudi.


" Karin, kamu?" ucap Christina seraya melirik ke arah Rudi.


" Perkenalkan, suami saya." kataku yang langsung memperkenalkan Rudi padanya.


" Halo, " sapa Christina seraya mengulurkan tangannya.


" Iya, Bu!" sahut Rudi sambil membalas jabatan tangan Christina.


" Baiklah, aku masuk dulu." pamit Christina dengan melepaskan senyum nya yang masih terlihat cantik.


" Iya, Bu!" jawab Ku sambil tersenyum


" Bos kamu sepertinya tidak suka melihat, abang?" dengus Rudi kesal sambil menaiki motor nya.


" Maafkan bos Karin, sepertinya dia sangat mengenal Abang saat pertengkaran kita tempo dulu." sahut ku yang mengingatkan kejadian tempo dulu.


" Oh, maafkan Abang, Karin. " sesal Rudi seraya menundukkan kepalanya.


" Sudahlah Bang, Karin sudah melupakan semuanya. Karina yakin, kalau Abang akan sayang sama Karin." kekehku yang percaya dengan ketulusan Rudi.


Aku tak pernah berpikir yang lain, tentang Rudi saat ini. Yang aku rasakan, Rudi benar-benar tulus ingin kembali kepadaku.


" Abang pamit dulu, nanti sore abang jemput." kata Rudi sambil mencium keningku.

__ADS_1


" Iya, Bang! Hati-hati, ya ..." ucapku mengiringi kepergian Rudi.


Setelah melihat Rudi pergi meninggalkan kantorku, aku langsung masuk ke dalam.


" Pagi, Bu!" sapa salah seorang karyawan yang baru saja magang di kantorku.


" Pagi, Abel!" sahutku sambil tersenyum.


" Maaf Bu, itu suaminya?" tanya Abel sambil melihat ke arah pintu utama.


" Iya, ada apa?" tanyaku membalas dengan senyuman.


" Oh, enggak apa-apa." sahut Abel, dan dia kembali menuju ruang display.


" Karin, kok kamu mau sih balikan lagi sama suami kamu?" tanya Nanik yang menghampiriku.


" Sepertinya dia sudah berubah, Mbak!" jawabku yang telah duduk di kursiku.


" Iya aku doakan, semoga suamimu berubah." ujar Nanik seraya mengusap lengan ku.


" Terima kasih." jawabku.


Sore pun tiba, kulihat Rudi sudah memarkirkan motornya di halaman parkir.


" Karin, suamimu tuh!" Panggil Ajeng yang berjalan bersama ku.


" Oh, iya. Aku duluan ya, Mbak!" Pamitku pada Ajeng dan Nanik, lalu aku berjalan menghampiri Rudi.


" Si Karin kok, bisa nerima suaminya lagi sih?" Cibir Nanik menatap sinis ke arah Rudi.


" Bos Chris baik banget, sampai dia mau ngerubah Karina." Ujar Nanik memuji bos kesayangan nya


" Iya, dulu kita juga gitu, jelek. Semua berkat kebaikan bos, yang ingin karyawannya menjadi cantik." Puji Ajeng.


****


Sesampainya di rumah, aku pun langsung memberitahu ibuku.


" Bang, mau masuk?" Tanya ku sambil membuka helm.


" Iya, abang mau minum teh." Jawab Rudi yang telah menaruh helmnya di motor.


" Bu, " panggilku saat memasuki rumah.


" Karin, kamu sudah pulang?" Balas ibuku.


"Iya, Bu. Ibu sudah makan?" Tanyaku yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur.


" Sudah." Jawabnya, " Ada, Rudi?" Tanyanya yang mendengar suara motor Rudi.


" Ada, Bu. " Jawabku, " Besok akan ada pengajian tujuh bulanan, aku di suruh nginep di rumah ibunya bang Rudi." Ucapku tak tega meninggalkan ibuku sendiri di rumah.


" Iya sudah, kau menginap saja." Jawab Ibuku.

__ADS_1


" Ibu, enggak apa-apa?" Tanyaku ragu.


" Ibu enggak apa-apa, Karin!" Balas ibuku dengan tersenyum


" Karina buatin teh dulu buat bang Rudi ya, bu!" Kataku yang langsung berdiri dan berjalan meninggalkan kamar ibuku.


" Ini bang, tehnya." Kataku yang menaruh segelas teh di atas meja.


" Terima kasih." Jawab Rudi sambil tersenyum.


" Bang, Karin mau mandi dulu ya!" Kataku.


" Iya, abang tunggu." Jawab Rudi.


Aku pun masuk ke kamarku, dan bergegas menuju kamar mandi. Selang beberapa menit, aku selesai membersihkan diri.


Aku pun melintas di hadapan Rudi hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhku.


Rudi amat terpesona saat melihat tubuhku. Matanya tak berkedip, mengikuti langkahku menuju kamar.


Segera aku mengunci pintu, karena aku takut dengan pandangan Rudi yang ingin menerkamku.


Usai memakai baju, aku langsung mengambil baju untuk salinan acara nujuh bulan.


Setelah berkemas, aku pun keluar dari kamar. Kemudian menghampiri Rudi, yang sudah menungguku sejak tadi.


" Maaf ya, bang. Nunggu kelamaan." Ucapku yang langsung duduk di bangku.


" Karin, kamu semakin cantik." Ucap Rudi sambil menatapku dengan intens.


" Abang, bisa aja. " Sahutku yang malu dengan pujian Rudi.


" Ya sudah, kita berangkat." Kata Rudi yang sudah tidak sabar dan langsung menarik tanganku.


" Pamit dulu, sama ibu." Kataku yang menahan langkah Rudi.


" I-ya sudah." Jawabnya dengan melepaskan tangannya dari tanganku.


Aku menghampiri ibuku, " Bu, bang Rudi mau pamit pulang. Ibu gak apa-apa kan Karin tinggal?" Tanyaku yang sangat khawatir dengan keadaan ibuku.


" Ibu, gak apa-apa. Semoga Rudi sayang sama kamu ya, Nak!" Pesan ibuku sambil mengelus kepalaku.


Lalu aku membantu ibuku untuk berdiri, dan menuntunnya ke ruang tamu.


" Bu, " sapa Rudi yang langsung menghampiri ibuku dan mencium punggung tangannya.


" Rudi, ibu titip Karina. Jaga dia baik-baik." pesan ibuku, tak biasanya dia berpesan pada Rudi.


" Iya, bu. Rudi akan menjaga Karina." Jawab Rudi.


Aku dan Rudi pun keluar dari rumah, dan duduk berboncengan.


Sepanjang jalan, Rudi menggenggam tangan ku. Dan aku merasa kerepotan, karena terganjal dengan perutku yang sudah membuncit.

__ADS_1


. Silakan like dan berikan vote, jangan lupa masukin ke favorit kamu ya.


__ADS_2