
Dalam hati Ardi sangat takut sekali, jika Karina memutuskan untuk meninggalkan nya.
Setelah sampai di depan pintu kamar, Ardi langsung berdoa. Dia memohon kepada Tuhan agar Karina tidak lagi marah kepadanya. Kemudian dia langsung membuka pintu secara perlahan. Ardi takut jika Karina akan marah dan mengamuk seperti yang di bilang oleh Diana. Ardi tidak ingin ada piring terbang melayang di rumahnya.
"Karina..." Arlan memanggil dengan pelan.
Pintu di buka secara perlahan, lalu Ardi melihat Karina yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur.
"Huft..." Ardi menghembuskan nafas berat. Sungguh terkejut saat melihat Karina sedang terbaring di ranjang.
Dia tak menyangka, ternyata dugaannya salah. Karina terlihat sangat kelelahan, hingga tak sempat mengganti bajunya.
Perlahan langkah kakinya berjalan mendekati tempat tidur. Ardi mendekati Karina, lalu duduk di sebelahnya.
Ada yang terlihat berbeda dari sudut matanya. Kedua mata Karina terlihat sembab, seperti nya habis menangis.
Ardi tahu dengan luka hati yang Karina rasakan saat ini. Kemudian dia mengelus pelan pipi Karina.
"Sayang, maafkan aku yang telah membuatmu menjadi menderita." Ardi langsung mencium pipi Karina.
Tiba-tiba kedua mata Karina terbuka, karena merasakan sentuhan dari Ardi.
"Karin, kau sudah bangun?" Tanya Ardi.
"Iya, Bang!" Karina terbangun dari tidurnya, lalu duduk di sebelah Ardi.
"Kamu enggak apa-apa?" Tanya Ardi seraya mengelus pipi Karina.
"Maaf, Bang! Aku mau mandi," ujar Karina dengan tatapan dingin ke arah Ardi, kemudian dia langsung bangkit dan berdiri ingin berjalan ke kamar mandi.
"Karin, apa kau masih marah kepada ku?" Tanya Ardi yang menahan langkah Karina dengan memegang lengannya.
"Aku tidak ingin membahas hal itu, sebaiknya Abang juga harus membersihkan diri." Karina melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ardi.
Ardi hanya menatap nanar ke arah Karina yang pergi meninggalkan nya.
Ardi terus mengamati pintu kamar mandi, berharap jika Karina dapat memaafkan nya.
Usai membersihkan diri, Karina langsung memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Melihat Ardi yang masih diam terpaku di atas ranjang.
"Karin, kita lupakan masalah ini. Aku harap kita bisa buka lembaran baru," pinta Ardi.
Karina langsung berjalan menuju ke arah lemari pakaian. Sebelumnya Karina telah berpikir, jika semua yang telah terjadi membuat dia menjadi kuat.
Karina telah memakai daster kesukaannya, lalu berjalan mendekati Ardi.
__ADS_1
"Bang, aku memaafkan mu," ucap Karina yang sudah duduk di tepi ranjang sembari mengelus perutnya yang sudah buncit.
"Terima kasih," jawab Ardi seraya memeluk tubuh Karina. "Berapa bulan lagi anak kita lahir?" tanya Ardi bersemangat.
"Dua bulan lagi," jawab Karina.
"Baiklah, aku akan mengajakmu ke tempat yang paling indah bersama anak-anak kita setelah dedek ini lahir." Ardi langsung mengelus perut Karina dengan lembut.
"Aku akan buatkan makanan untuk kita makan malam," ucap Karina yang langsung melepaskan pelukannya.
"Kita makan di luar saja, kamu gak usah masak. Karena kamu sudah sangat kelelahan, aku tidak ingin kamu sakit." Ardi mencegah Karina.
"Iya, sudah. Sekarang kamu mandi dulu," titah karini sambil mendorong pelan dada Ardi dengan jari telunjuknya.
Ardi kembali bersemangat, perasaannya sudah membaik tak lagi cemas. Kemudian dia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karina pun keluar dari kamar, dia langsung berjalan mengambil Arjuna di rumah Diana.
"Kak, dimana Arjuna?" tanya Karina yang sudah masuk ke dalam rumah Diana.
"Sedang tertidur di kamar bersama Keyla dan Kesya." Diana menjawab sembari menjahit baju
"Apa pesanannya sangat banyak?" tanya Karina
"Kak, sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kamu berisitirahat, agar tidak kelelahan." Karina memyarankan pada Diana.
"Karin, menjahit saat ini adalah mata pencaharian ku. Aku akan mengerjakannya dengan serius," ungkap Diana..
"Ada masalah serius antara kau dan Ardi?" tanya Diana dengan tatapan menyelidik.
"Entahlah," jawab Karina yang sudah duduk di bangku.
"Nanti akan aku ceritakan, untuk saat ini aku masih tidak ingin memikirkan nya dulu," ucap Karina.
Selang beberapa menit, Ardi pun datang ke rumah Diana.
"Karin, dimana Arjuna?" tanya Ardi.
"Di dalam kamar Keyla dan Kesya," jawab Karina.
"Ya, sudah. Aku akan membawa Arjuna pulang. Kita delivery order saja makanannya lewat aplikasi online," ucap Ardi.
"Kak, aku akan mengambil Arjuna di kamar." Ardi langsung berjalan ke arah kamar Keyla dan Keysa.
"Hari ini aku tidak masak, jadi aku memesan makanan lewat aplikasi. Sedangkan bang Farhan belum pulang sejak sore tadi," ucap Diana
__ADS_1
"Iya, sudah! Kakak doakan saja biar bang Farhan selalu selamat pulang dan pergi," ucap Karina memberi dukungan.
Ardi telah keluar dari kamar sembari menggendong Arjuna yang kini tubuhnya kian membesar.
Ardi pun pamit pada Diana, "Kak, aku pulang dulu."
Disusul oleh Karina yang sudah bangun dari tempat duduknya. Lalu Diana kembali melanjutkan menjahit baju pesanan bu Cokro.
Ardi dan Karina telah sampai di rumah, kemudian Ardi meletakkan Arjuna di atas tempat tidur.
Lalu Ardi mengambil ponsel, untuk memesan makanan. Karena perutnya sudah lapar sejak tadi.
Sembari menunggu delivery makanan, Ardi pun duduk di ruang tamu. Sedangkan Karina berjalan menuju dapur untuk membuat susu hamil.
"Bang, kamu mau teh manis?" tanya Karina
"Iya, buatkan saja." sahut Ardi.
Selang beberapa menit kemudian, pintu gerbang terdengar ada yang mengetuk.
"Aku akan melihat nya, barangkali tukang ojek yang mengantarkan makanan." Ardi langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu.
Sementara Karina menyiapkan piring di atas meja makan. Karena perutnya sudah sangat lapar sekali.
Ardi membawa tiga paket nasi ke dalam rumah, kemudian mereka berdua langsung menyantapnya.
Saat ini Ardi menjadi orang yang sangat bahagia, karena tak ada lagi rahasia di antara mereka berdua.
Ardi berjanji kepada Karina akan terus menjaganya serta tidak akan menyakitinya. Ardi akan menjaga Arjuna dan tidak akan membedakan kasih sayang antara anak yang di kandung Karina dengan Arjuna.
"Bang! Sudah malam, aku ingin tidur." Karina langsung berjalan menuju kamarnya.
Kemudian Ardi pun masuk menyusul Karina masuk ke dalam kamar
Malam pun semakin larut, keduanya sudah terlelap dalam tidurnya.
Sementara Silvia sudah mendapatkan rumah kontrakan berupa ruko kecil. Silvia berencana ingin berjualan seperti yang Ardi katakan kepadanya.
Ardi memberikan ATM seraya berpesan kepada Silvia, untuk memanfaatkan uang yang di berikan dengan baik.
Karena Ardi akan selalu mengeceknya melalui m bangking.
Usai mendapatkan ruko, Silvia langsung memikirkan usaha apa yang akan dia jalani. Untuk saat ini Silvia hanya membutuhkan tempat tinggal untuk berteduh. Silvia tidak ingin tidur di jalanan lagi seperti kemarin.
Jangan lupa untuk like dan berikan komentar
__ADS_1