Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 26


__ADS_3

" Selamat ya! Anak Anda, laki-laki. " Perawat menggendong putraku, lalu menunjukkan nya.


" Terima kasih, " jawabku dengan tersenyum puas. Aku bersyukur, bisa melewati masa persalinan dengan normal.


Dokter pun membersihkan ari-ari ku, lalu membungkus nya.


" Sus, apa suami saya sudah datang? " tanyaku pada perawat yang menggendong anakku.


" Seperti nya belum, " jawabnya yang sudah merapikan anakku dengan memakaikan anakku bedong.


Perawat pun melihat ke depan pintu, untuk melihat keluarga ku yang sudah datang.


" Masih kakak iparnya saja, " katanya melapor padaku.


" Bisa minta tolong untuk dia mengazankan anakku?" Aku meminta pada perawat.


" Baiklah, setelah Anda di rapikan baru kami mempersilahkan kakak ipar Anda masuk! "


Selang beberapa setengah jam, tubuhku sudah bersih. Dan masih menunggu di ruang persalinan, untuk mendapatkan kamar.


" Bu ...? " Perawat menanyakan nama ku.


" Karina, " sahutku.


" Bu Karina, akan kami panggilkan kakak iparnya, " ucap perawat yang akan memanggil Ardi


" Iya boleh, " kataku menganggukkan kepala


Ardi masuk ke ruang UGD, dia langsung menemuiku.


" Keadaan kamu, gimana? " Ardi nampak cemas melihat ku.


" Aku baik-baik saja, Bang! " Aku berucap seraya tersenyum bahagia.


" Bang, bisa azankan putraku? " Aku meminta Ardi untuk segera mengazankan putraku. Karena aku ingin suara azan, yang pertama di dengar oleh anakku.


" Bisa, dimana anakmu? " tanya Ardi seraya menoleh kepalanya ke kanan dan ke kiri.


" Kamu tanya saja suster, tadi aku sudah minta tolong padanya agar kau mengazankan putraku, " kataku


Ardi langsung menghampiri perawat, untuk mengazankan putraku.


Selang beberapa menit, tiba-tiba datanglah mertuaku.


" Karina, bagaimana keadaan mu, Nak? " Ambar berdiri di sebelah ku, raut wajahnya nampak kelelahan.


" Ibu, uda larut malam kenapa maksain datang? " Aku mencemaskan kondisi ibu mertuaku

__ADS_1


" Ibu mau lihat cucu pertama, jadi ibu belain datang. Dari Bandung minta di anterin langsung ke sini. " Ambar berucap dengan antusias.


" Anakku laki-laki, dan kini sedang di azankan oleh bang Ardi, " ucapku melapor pada ibu mertuaku.


" Ardi? Kok bukan Rudi? " Ambar bingung dengan ucapan ku.


" Ibu ... " Ardi memanggil ibunya, " bapak dimana?" tanyanya.


" Bapak di depan, katanya gak boleh banyak-banyak masuk ke UGD. " Ambar menjelaskan.


" Rudi mana? " Ambar nampak menatap tajam ke arah Ardi.


" Di rumah, aku hubungi nomor handphone nya gak aktif. " Ardi mencoba memberikan penjelasan, dan akhirnya aku mengetahui seperti nya Rudi tidak akan datang.


Rudi sama sekali tidak peduli denganku atau anakku. Sedih hatiku, seharusnya aku bahagia saat kelahiran anakku. Tapi ternyata, ulah suamiku yang membuat aku bersedih.


" Bu, sebaiknya pulang. Biar Karina aku yang menjaga, " ucap Ardi yang menyuruh ibunya pulang. Ardi melihat kelelahan di raut wajah ibunya.


" Ibu belum melihat cucu, " katanya yang sangat penasaran dengan anakku.


" Besok saja balik lagi, sebaiknya sekarang ibu pulang. Dan beritahu Rudi untuk segera datang melihat istri dan anaknya. " Ardi memberikan pesan pada Ambar.


" Karin, ibu pulang dulu. Besok balik lagi, " pamit Ambar yang langsung mencium kening ku. " Ardi, kalau Karin sudah dapat kamar langsung hubungi ibu, " sambungnya mengingatkan Ardi


" Iya, Bu! " jawab Ardi.


Perawat pun datang, membawa map berisi riwayat pemeriksaan ku.


" Bu Karina, mari kita ke ruang rawat inap, " kata perawat yang langsung memindahkan ku ke atas brankar khusus pasien rawat inap.


Aku pun di bawa oleh perawat, dan Ardi menggendong anakku.


Sepanjang perjalanan menuju ruang rawat, Ardi berjalan di samping ku. Aku begitu nyaman berada dekat Ardi, seolah-olah dialah suamiku saat ini.


Ada apa dengan Rudi? Kenapa dia sama sekali tidak menjawab telpon Ardi?


Alasan apa yang membuatnya marah padaku? Padahal dia sudah menyakiti perasaan ku, dan ragaku.


Sesampainya di ruang rawat inap, perawat langsung memindahkan ku ke atas tempat tidur khusus kelas satu. Karena di asuransi di kartu kesehatan ku adalah tingkat kelas satu.


" Bang, apa kamu tidak lelah? " tanyaku saat sudah terbaring di atas tempat tidur.


" Tidak, justru aku mencemaskan mu. " kata Ardi yang telah meletakkan putraku di sebelah ku


" Bang Rudi, kenapa tidak datang ke sini? " Aku bertanya dengan wajah lesu.


" Mungkin istrinya, melarang dia untuk kesini, " ucap Ardi, " atau mungkin, dia marah soal tadi? " sambung Ardi.

__ADS_1


" Tapi Bang, aku tidak selingkuh, " ucapku lirih sambil memejamkan kedua mataku


" Kamu gak usah sedih, ada aku di sini. " Ardi memberikan semangat untuk ku


" Terima kasih, Bang, " ucap ku


***


Keesokkan paginya, aku melihat Ardi sedang tertidur di bawah. Terlihat jelas aura kelelahan di wajahnya. Karena tidurnya nampak pulas, sambil meringkuk di lantai.


Sungguh aneh, kenapa Ardi begitu perhatian kepada ku? Apa yang dia harapkan dariku? Hingga Ardi dengan rela menjagaku, di rumah sakit. Aku ingin bertanya dengan dia, kenapa sangat perhatian kepada ku? Namun aku urungkan, karena aku tak ingin membuatnya merasa tak di hargai.


Hari sudah siang, Diana datang menjenguk ku. Dia tak membawa kedua anaknya, karena anak kecil tidak di ijinkan masuk ke ruangan Anggrek.


" Karina, mana suamimu? " tanya Diana yang sudah datang ke dalam kamar rawat inap.


" Dia belum datang, " jawabku lemah.


" Lalu, siapa laki-laki di depan? " Diana menaruh curiga pada Ardi.


" Dia abangnya, Rudi, " jawabku.


" Loh kok, bukannya si Rudi yang jagain kamu? " Diana terlihat emosi saat mendengar jawaban ku.


" En- enggak tahu Kak, " jawabku lesu.


" Kak, bagaimana dengan kak Bedah? Apa kakak bekerja sama dengan dia? " ucapku menatap sinis ke arah Diana.


" Bedah hilang, gak tahu kemana. " Diana terlihat kesal, saat aku menanyakan tentang Bedah.


" Kak, aku mau pindah ke rumahmu. " Aku berucap meminta pada Diana.


" Lalu bagaimana dengan, Rudi? " Diana menatapku seraya menyipitkan kedua matanya.


" Aku ingin bercerai saja, gak sanggup hidup seperti ini, " keluhku pada Diana.


" Iya sudah, nanti kamu diskusi kan dulu sama mertuamu, " kata Diana. " Setelah kamu pulih, nanti aku carikan kontrakan dekat rumah. Karena gak mungkin kamu tinggal di rumahku yang kecil itu. Biar anak-anak mu, aku yang menjaga. " Diana memberi saran.


" Iya, Kak. "


" Eh tapi, kamu belum waktunya lahir. Kenapa tiba-tiba bayi kamu sudah keluar? " Diana curiga.


Aku tidak mungkin menceritakan jika Rudi telah menganiaya ku. Tapi jika aku terus diam, maka Rudi akan terus berbuat semena-mena.


Diana terus menginterogasi ku, layaknya seorang polisi. Aku hampir terjebak dengan berbagai pertanyaan nya. Apa yang harus aku lakukan? Melindungi Rudi, atau membuat dia jera atas perlakuannya kepada ku?


Apakah aku masih mencintai Rudi? Itu sebuah pertanyaan yang konyol, setelah tahu semua sifat Rudi.

__ADS_1


__ADS_2