Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 45


__ADS_3

Dalam perjalanan mereka berdua membicarakan, masalah bahan yang akan di presentasikan. Setelah setengah jam perjalanan, Ajeng memberhentikan mobilnya di rest area. Karena Ajeng mulai merasakan pegal pada bagian bokongnya.


" Karin, kita makan dulu, " ucap Ajeng yang mengajak Karina menuju restoran.


" Mbak, aku pesan air saja. Karena di rumah sudah sarapan. " Karina berjalan di sebelah Ajeng.


" Iya udah, kamu pesan minum. Kalau aku mau pesan makan, karena sudah laper. " Ajeng merengek.


" Iya, " jawab Karina dengan mengulas senyum.


Mereka mulai menyantap hidangan yang sudah di sediakan.


" Karin, apa kamu sudah menanyakan tentang Ardi pada ibu mertuamu? " tanya Ajeng yang masih penasaran dengan Ardi.


" Sudah, dan jawabannya dia juga tidak tahu keberadaan bang Ardi. " Karina menjelaskan kepada Ajeng.


Ajeng nampak bersedih, karena Karina tidak bisa membantu dirinya untuk dekat lagi dengan Ardi.


" Nanti kalau dia balik lagi ke sini, langsung aku kabarin. " Karina berjanji pada Ajeng.


" Iya, terima kasih. " Ajeng kembali fokus menatap jalanan.


Selang empat jam, mereka pun sampai di PT Arini Sentosa.


" Wah, gedungnya mewah ya? " Ajeng terpesona dengan gedung perkantoran milik PT Arini Sentosa.


" Iya, semoga saja mereka menyetujui kerjasama dengan kita. " Karina berharap.


Karina langsung mendatangi resepsionis, yang berada di lobby kantor.


" Permisi, kami sudah membuat janji dengan direktur PT Arini Sentosa. " Karina menyapa sang resepsionis yang berjaga.


" Boleh saya lihat, surat perjanjiannya? " tanyanya.


Karina menunjukkan email, yang kemarin dia print. Setelah menunjukkan bukti, Karina dan Ajeng pun di ijinkan menemui pimpinan.


" Silakan Anda ke lantai 12, direktur kami sudah menunggu. " Resepsionis mempersilahkan Karina dan Ajeng menuju ruang direktur.


" Terima kasih, " ucap Karina seraya mengulas senyum. Kemudian dia dan Ajeng berjalan menuju lift.


" Karin, apa aku menunggu di luar aja? " Ajeng terlihat gugup. Karena baru kali ini dia di ajak presentasi oleh Karina. Karena sebelumnya pekerjaan Ajeng hanya berkutat di dalam kantor, mengurus jadwal bu bos.


" Masuk aja, Mbak! Kamu bisa menemani aku, agar tidak grogi, " sahut Karina.


" Tapi itukan urusan kamu, aku cuma nganterin aja. " Ajeng sangat ragu, takut mengganggu presentasi Karina.


" Enggak apa-apa, kamu temani aku, ya! " Karina merengek seraya memeluk lengan Ajeng.

__ADS_1


Ajeng terpaksa menemani Karina, dia harus menjadi team yang solid.


" Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi aku gak akan ngomong apa-apa, ya! " seru Ajeng


" Enggak, kamu hanya sebagai pemikat. " Karina meledek Ajeng.


" Ish, emang aku pelet? " Ajeng mencubit lengan Karina.


" Ih sakit tahu, Mbak! " Karina memanyunkan bibirnya.


Mereka pun sampai di lantai 12, pintu lift pun terbuka. Karina dan Ajeng pun berjalan keluar, dan mendekati ruang resepsionis.


" Mbak, kami dari Butik Sindang Jaya. " Karina menyapa sang resepsionis.


" Oh iya, mari ikut saya! " Resepsionis pun berjalan menuju ruangan yang jaraknya lima meter.


Terlihat tulisan Area meeting room, di depan pintu. Karina dan Ajeng pun di persilahkan masuk ke dalam ruangan rapat.


" Silakan masuk, " ucap resepsionis yang telah membukakan pintu.


" Terima kasih, " balas Karina, kemudian dia dan Ajeng masuk ke dalam.


" Silakan duduk, sebentar saya panggilkan pak direktur. " Resepsionis pun bergegas pergi meninggalkan Karina dan Ajeng.


Karina dan Ajeng pun membuka berkas, yang akan di presentasikan.


" Udah, " jawab Ajeng. " Pake banget, lagi! " canda Ajeng.


" Aku serius! " Karina terlihat mengerucutkan bibirnya.


" Aku duarius malah, " ucap Ajeng.


" Sini aku betulin rambutnya, " ucap Ajeng yang langsung berdiri lalu menata rapi rambut Karina.


" Perfect, " ucap Ajeng seraya mengedipkan satu matanya.


" Ceklek .... "


Terdengar suara pintu pun terbuka, Karina dan Ajeng pun menoleh ke arah pintu.


Ajeng pun segera menempati kursinya, dan Karina membenarkan cara duduknya.


Sungguh terkejut saat melihat direktur, yang telah memasuki ruangan rapat.


" Bang, " lirih Karina berucap pelan.


" Ardi, " ucap Ajeng tercengang saat melihat sosok laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Ardi sebenarnya pun sama terkejutnya dengan Ajeng dan Karina. Hanya saja, dia tidak ingin terlihat gugup di mata kedua wanita yang mempunyai kenangan yang berbeda.


" Kalian, apa kabar? " tanya Ardi memulai percakapan.


" Ba-- " Karina menghentikan panggilan nya. Dia harus sadar, jika posisi nya saat ini sebagai karyawan. " Maaf, Pak. Apakah Anda yang berwenang dalam perusahaan PT Arini Sentosa? " Karina pun menjawab pertanyaan dari Ardi.


" Iya, benar! " jawab Ardi seraya mengulas senyum, dan sikap berwibawa.


Tiga bulan sudah Ardi tidak melihat Karina, dan kini Karina semakin cantik. Ardi terus menatap Karina, tanpa berkedip. Jujur Ardi akui, dia sangat merindukan senyum Karina.


" Mas, " panggil Ajeng yang telah membuyarkan lamunan Ardi.


" Iya, maaf. Kalian bukannya ingin menawarkan produk jualan ? " tanya Ardi.


" Oh iya, maaf. Kami akan lanjutkan, " ucap Karina yang langsung membuka map berisikan catatan produk jualan nya.


Karina menjelaskan dengan rinci, di depan Ardi. Ardi begitu intens memandang gerakan Karina. Sangat luwes dan pandai dalam berbicara.


" Cocok, " gumam Ardi saat melihat Karina mengulas senyum nya.


" Cocok apa, Pak? " tanya Karina yang beralih pembicaraan. " Apakah produk yang kami tawarkan, cocok dengan selera pasar Anda? " tanya Karina.


" Kamu cocok menjadi, nyonya Ardi! " batin Ardi menjawab pertanyaan Karina.


" Pak, pak ... " Karina menjentikkan jarinya ke wajah Ardi.


Seketika lamunan Ardi pun buyar, saat di panggil oleh Karina.


" Maaf, aku sedang tidak fokus. Untuk selanjutnya biar asisten aku yang menghubungi kalian, " ucap Ardi yang langsung bangun dari duduknya. Kemudian dia pamit kepada Karina dan Ajeng, untuk melanjutkan kembali pekerjaan nya.


" Maaf, aku harus bertemu dengan klienku di restoran. Nanti asisten aku yang akan menghubungi kerja sama selanjutnya, " papar Ardi yang langsung pergi meninggalkan Karina dan Ajeng.


Karina dan Ajeng terlihat kecewa, saat kehadiran mereka seperti tidak di harapkan oleh Ardi.


" Karin, seperti nya Ardi tidak suka dengan keberadaan ku? " tanya Ajeng yang sedari tadi memperhatikan sikap Ardi.


" Ah itu perasaan Mbak Ajeng aja, mungkin? " Karina terlihat fokus merapikan seluruh pekerjaan nya.


Sebenarnya dia juga merasa kecewa dengan sikap Ardi, yang terkesan sombong dan angkuh.


Karina dan Ajeng bergegas pergi meninggalkan kantor PT Arini Sentosa.


" Karin, apa mas Ardi pemilik perusahaan ini? " tanya Ajeng yang berdiri di sebelah Karina.


" Gak tahu, Mbak! Bang Ardi gak pernah cerita apa-apa, saat itu! " jawab Karina.


Jangan lupa tinggalkan like dan juga berikan komentar mu ya guys. Terima kasih sudah mendukung karyaku, semoga kalian suka.

__ADS_1


__ADS_2