
Sebelum membaca karyaku, aku harapkan kalian like dan vote cerita ku. Dan jangan lupa komentarnya di setiap bab nya
❤️❤️❤️
Pagi pun tiba, aku sudah mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.
Diana sudah di jemput oleh suaminya, karena anaknya sudah mulai masuk sekolah.
" Ibu, Karin tinggal kerja dulu ya!" kataku sambil mencium tangan ibuku.
" Hati-hati ya, Nak!" pesan ibuku sambil mengecup kening ku.
Terlihat raut kesedihan di wajah ibuku. Mungkin dia sedang memikirkan nasibku, yang sangat tidak beruntung.
Namun, aku tak ingin membuat ibuku bersedih. Aku langsung berjalan meninggalkan kamarnya.
Aku berjalan menyusuri jalanan, menuju jalan raya. Dan aku tidak membawa motor, karena kepala ku sedang pusing. Semalaman menangis, memikirkan masalah yang aku hadapi.
Mobil angkot telah berhenti di depanku, dan saat aku hendak naik tiba-tiba dari arah belakang ada mobil yang membunyikan klaksonnya.
Kudengar suara seseorang, yang memanggil namaku, dari arah belakang.
" Karina ...."
Aku menghentikan langkahku, kulihat orang yang memanggil ku dari arah belakang mobil.
" Bu Christina!" gumamku.
Lalu aku menurunkan kaki ku, dan menyuruh angkot untuk pergi.
" Maaf ya Bang, ada yang memanggil ku." kataku, lalu sopir langsung melajukan mobilnya.
Aku menghampiri Christina Lee, bos ku yang sudah tua namun masih terlihat cantik.
" Bu Chris!" sapa ku.
" Ayo, naik!" ajak nya sambil mengulas senyum di bibirnya yang sudah mulai keriput.
Lalu aku pun menuju pintu belakang mobil, dan membuka handle nya dan duduk di kursi belakang.
" Maaf Bu, jadi merepotkan." kataku yang sudah duduk di jok belakang.
" Enggak apa-apa, kamu mau berangkat ke kantor juga, bukan?" ucapnya lembut.
Sungguh amat baik hati bosku, walaupun kami berbeda suku dan ras dia tetap menunjukkan keramahan nya. Ternyata yang membuat perpecahan dan peperangan bukanlah suku dan ras, melainkan kesombongan pada diri manusia itu sendiri.
Aku melihat dia mendampingi suaminya, duduk di jok depan.
Sungguh amat romantis, melihat pasangan paruh baya yang berada di hadapan ku.
" Biasanya kamu naik motor?" tanyanya seraya kepalanya menoleh ke arah belakang.
" Aku sedang hamil, jadi takut jika harus membawa motor sendiri." jawabku
" Memang suami kamu kemana?" tanyanya.
" Oh, eh ...." aku menjadi salah tingkah, saat bos ku menanyakan tentang Rudi
" Dia ..." ucapku bingung dengan pertanyaan dari bosku. " Dia sangat sibuk." kataku mencari alasan yang tepat, karena tak mungkin aku menjelekkan nama suamiku di depan bosku.
" Oh, " jawabnya.
__ADS_1
Kemudian dia mengalihkan pandangannya menghadap depan. Dan tak lagi bertanya tentang aku dan juga suamiku.
Selang beberapa menit, kami pun sampai di kantor. Aku pun membuka pintu, begitu juga dengan Christina. Dia mencium pipi suaminya, sebelum turun dari mobil.
" Mari, masuk." ajaknya sambil memegang lengan ku.
Aku dan Christina berjalan beriringan, sikapnya begitu hangat. Walaupun aku hanya bawahan nya, namun dia tidak sombong.
" Kamu bareng, bu Chris?" tanya Ajeng yang berdiri di samping loker, dia hendak menaruh tasnya.
" Iya, Mbak. Memangnya kenapa?" tanyaku, aku hanya takut jika Ajeng berpikiran macam-macam terhadap ku.
" Dia memang baik, dan gak pernah membeda-bedakan karyawan." kata Ajeng memuji Christina.
" Iya, aku rasa begitu." kataku sambil menaruh tasku.
" Karin, kemarin aku melihat mu di bentak oleh suamimu. Apa dia berbuat kasar sama kamu?" tanyanya menyelidik.
" Mbak, memang melihatku?" balikku bertanya pada Ajeng, aku sangat cemas jika kehidupan ku menjadi buah bibir di kantor ini.
" Ish kamu, di tanya kok malah balik nanya!" kata Ajeng mencibirku.
Lalu dia pergi meninggalkan ku tanpa bertanya-tanya lagi menuju bagian display.
Aku mulai pusing dengan Rudi, sikapnya malah membuatku malu.
" Karin, kamu masih belum punya handphone?" tanya Nanik yang kini duduk di sebelah ku.
" Belum, Mbak."
" Uangnya masih belum cukup, untuk membeli handphone." jawabku
" Terima kasih, Mbak!" jawabku seraya mengulas senyum
Aku dan Nanik kembali bekerja, dan menghitung baju-baju yang baru saja datang.
" Nanik, Karin ... cepat kita rapikan baju-baju nya." kata Ajeng dengan nada suara yang tergesa-gesa.
" Memangnya ada apa, Mbak? Kok kelihatan buru-buru gitu?" tanyaku yang melihat kepanikan di wajah Ajeng.
" Baju-baju ini, semuanya sudah laku terjual. Dan harus di antar ke kota sebelah, karena besok akan di pakai." ucap Ajeng dengan nafas tersengal-sengal.
" Baik, Mbak!" jawabku dan Nanik bersamaan.
Segera kami merapikan baju batik, yang baru saja di keluarkan oleh kurir.
Selang setengah jam, semua baju telah tersusun rapi.
" Kalian ikut, aku!" ajak Ajeng yang langsung mengambil tasnya di loker.
" Mau ikut kemana, Mbak?" tanyaku yang bingung melihat kesibukan Ajeng.
" Ikut ke kota sebelah, kalian nanti yang bantu menghitung dan mencocokkan baju ke karyawan di sana!" katanya. " Aku tunggu di parkiran." Ucapnya terburu-buru.
" Baik, Mbak!" kataku dan aku langsung mengambil tasku yang berada di dalam loker.
Aku mengambil kardus, yang berisikan baju-baju batik.
" Karin, kamu lagi hamil. Jangan angkat yang berat-berat." kata Nanik yang melarangku mengangkat kardus berwarna coklat.
" Tapi Mbak, semua kardus ini harus di masukkan ke mobil." sahutku.
__ADS_1
" Pak Supri ...." panggil Nanik yang berdiri di depan pintu.
" Iya, Neng!" kata Supri yang menghampiri Nanik.
" Tolong kami, bawakan kardus ke mobil." perintah Nanik.
" Baik, Neng!" jawabnya yang langsung mengambil kardus di hadapannya.
" Maaf ya Pak, jadi merepotkan." lirihku sambil menggigit bibir bawahku.
" Enggak apa-apa, Neng. Kalau angkat-angkat itu tugas laki-laki." Katanya sambil tersenyum.
" Terima kasih ya, Pak!" ujarku.
Setelah lima kotak kardus masuk ke dalam mobil, aku dan Nanik langsung masuk.
Ajeng mengemudikan mobilnya, berjalan meninggalkan kantor.
" Mbak Ajeng, bisa nyupir mobil toh!" kataku yang melihat kelihaian Ajeng mengendarai mobil matic.
" Bisa, cuma sayangnya belum punya mobil." katanya terkekeh.
" Nah itu bisa nyupir, belajarnya bukan pake mobil juga?" tanya Nanik.
" Iseng-iseng dulu, belajar sama pacar."
" Terus, aku langsung bikin SIM." Sambungnya
" Karin, bukannya itu suami kamu?" kata Nanik yang menepuk lengan ku. Kebetulan lampu lalulintas berwarna merah. Nanik sedang melihat ke arah kirinya.
" Mana, Mbak?" tanyaku sambil melihat jari telunjuknya.
" Ini di samping mobil, kenapa mata kamu lihat nya ke arah lain!" katanya yang menunjukkan jari nya ke arah samping.
Aku melihat Rudi sedang berboncengan dengan Silvia. Kemudian Nanik membuka kaca jendela.
" Ih, perempuan gak tahu malu." ejek Nanik sambil menantang Silvia. Kemudian dia langsung menutup kaca jendela mobil.
Terlihat Silvia dan Rudi menoleh ke arah mobil, yang kami tumpangi. Silvia melihat Nanik akan menutup kaca jendela mobil. Kemudian dia ingin turun menghampiri Nanik. Namun, saat Silvia akan turun, tiba-tiba Ajeng menjalankan mobilnya. Karena lampu lalulintas sudah berubah warna hijau.
Dan Silvia nampak kesal, karena telah di ejek oleh Nanik.
" Ha, ha, ha ... aku puas telah mengejeknya. Ngebayangin wajah nya yang kesal gitu." kata Nanik sambil tertawa lepas.
Sepertinya Nanik begitu benci pada Silvia, entah mereka punya dendam apa?
" Mbak, kita di kejar!" kataku panik melihat ke arah sebelah mobil dan melihat motor Rudi mencoba mengejar mobil kami.
Saat akan mendekati mobil yang di kendarai oleh Ajeng, tiba-tiba ada polisi yang melihat mereka sedang mengebut.
Dan mereka pun di kejar-kejar, oleh petugas polisi yang berjaga. Hingga akhirnya mereka di berhentikan, dan di suruh memarkirkan motornya di bahu jalan.
" Ha, ha, ha ... aku semakin puas, Nik!" balas Ajeng sambil melihat ke arah kaca spion.
Sebenarnya ada apa dengan mereka? Aku sangat bingung, melihat sikap mereka pada Silvia.
Sebenarnya aku ingin marah, karena melihat Rudi telah menikah lagi. Namun aku urungkan, karena melihat Ajeng dan Nanik, telah mengerjai Silvia. Dan hatiku seperti nya juga tertawa, melihat mereka di tilang oleh polisi.
" Maaf, kenapa kalian sebal sama Silvia?" tanyaku memberanikan diri.
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1