
Aku yakin, Silvia akan sangat marah pada Rudi.
" Bang, jelaskan kepada ku. Ada hubungan apa Abang sama Abel?" Silvia mendesak Rudi sambil memukul-mukul lengan Rudi.
Rudi menatap tajam ke arah ku, seperti nya dia kesal karena aku membongkar rahasia nya.
" Abel itu ... pegawai di butik," jawab Rudi sambil berpikir." Abang hanya mengajaknya makan siang," tutur Rudi memberi alasan.
" Karina, kamu jangan manas-manasin Silvia." Rudi membentukku.
Aku memutar kedua bola mata dengan malas, mendengar bentakan Rudi.
" Bang, aku cuma nanya. Kenapa kamu sewot gitu, sih!" cibirku.
" Kamu tuh sengaja, mancing Silvia biar marah. Padahal tadi siang, aku hanya makan bersama Abel," ucap Rudi yang keceplosan.
" Tuh kan, kenapa kamu bisa makan siang sama Abel? Hah!" Silvia marah sambil memukul-mukul dada Rudi.
" Karin, sebaiknya kamu keluar. " Rudi mengusirku, dia langsung menuntun tanganku dan membawaku keluar rumah.
Rudi pun menyeretku keluar rumah, lalu dia langsung menutup pintu dengan keras." Brak ...."
Aku tak menyangka, sikap Rudi akan berubah lagi. Aku menyandarkan tubuh ku di dinding, membayangkan tentang nasib pernikahan ku dengan Rudi.
Apakah akan kulanjutkan, atau ku hentikan?
Kulihat mobil Ardi terparkir, di halaman rumah mertuaku. Terlihat Ardi keluar dari mobil, dan acuh melihatku yang sedang bersandar di dinding rumah Rudi
Aku putuskan, untuk pergi saja dari rumah mertuaku. Dan pergi ke rumah Diana, sekaligus meminta penjelasan tentang rumah ibuku.
Kehadiran ku, sangat tidak berarti di rumah mertuaku. Aku merasa bosan, karena tidak ada kegiatan yang berarti selama tiga bulan waktu cuti kerjaku.
Segera ku langkahkan kakiku, menuju rumah mertuaku.
Saat aku sampai di depan pintu, kulihat Ardi sedang berkemas. Baju-bajunya dia masukkan, ke dalam koper besar berwarna hitam.
Aku ingin bertanya, tetapi ragu karena sejak tadi dia mengacuhkanku.
Aku pun masuk ke dalam kamar, melewati Ardi yang sedang berkemas. Tak ada tegur sapa antara aku dan Ardi.
Kebetulan kedua mertuaku sedang tidak di rumah, mereka sedang menghadiri acara khitanan keponakannya. Malam nanti baru akan pulang ke rumah.
Aku memutuskan untuk tinggal di rumah Diana, karena merasa bosan tinggal di rumah mertuaku. Punya suami, tapi tak pernah di sentuh. Walaupun kami tinggal berdekatan, rasanya aku sangat asing di hadapan Rudi.
__ADS_1
Perceraian yang sempat tertunda, kini di batalkan oleh mertuaku. Karena mereka menginginkan seorang cucu di rumah ini.
Tetapi kalau hanya cucu yang mereka harapkan saja, percuma aku tinggal di sini.
Toh Rudi sudah di kuasai oleh Silvia, dan dia tidak memberikan waktu Rudi untuk ku barang sebentar saja. Rudi pun tak bisa bersikap, dia tidak bisa memilihku untuk berada di sampingnya.
Sebaiknya aku berkemas, perkara kedua mertuaku marah itu kupikirkan nanti. Nyatanya hidupku sudah hampa, karena aku sudah kehilangan suami, ibu dan rumahku.
Tas besar sudah ku persiapkan untuk membawa semua baju-baju ku. Setelah semua sudah tertata, aku pun langsung keluar kamar.
Ku lihat Ardi sedang di dapur, seperti nya dia akan memasak sesuatu.
Aku pun menghampiri nya, dan berdiri di depan pintu dapur.
" Bang ...."
Aku memanggil Ardi yang sedang menaruh mie instan, ke dalam panci yang berisi air dan sudah panas.
" Iya," jawab Ardi tanpa menoleh ke arahku.
" Aku mau pamit," ucapku pelan.
" Pamit, memangnya kamu mau kemana?" Ardi terlihat kaget saat aku pamit kepada nya.
" Aku mau ke rumah kakakku," jawabku lesu.
" Sampai kapan?" tanya Ardi.
" Selamanya, karena aku merasa tak dibutuhkan di sini!" ucapku lirih.
" Tapi, Bang! Aku merasa seperti tidak punya suami, dan aku sangat membutuhkan Rudi. Dia tak pernah sedikitpun memberikan kasih sayang untuk ku. Silvia yang selalu menguasainya, " tegasku." Dan aku sebagai wanita, juga butuh sentuhan kasih sayang dari tangan suamiku," ucapku sambil menangis sesenggukan sambil menutup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku.
Aku pun masuk ke dalam kamar, melewati Ardi yang sedang berkemas. Tak ada tegur sapa antara aku dan Ardi.
Kebetulan kedua mertuaku sedang tidak di rumah, mereka sedang menghadiri acara khitanan keponakannya. Malam nanti baru akan pulang ke rumah.
Aku memutuskan untuk tinggal di rumah Diana, karena merasa bosan tinggal di rumah mertuaku. Punya suami, tapi tak pernah di sentuh. Walaupun kami tinggal berdekatan, rasanya aku sangat asing di hadapan Rudi.
Perceraian yang sempat tertunda, kini di batalkan oleh mertuaku. Karena mereka menginginkan seorang cucu di rumah ini.
Tetapi kalau hanya cucu yang mereka harapkan saja, percuma aku tinggal di sini.
Toh Rudi sudah di kuasai oleh Silvia, dan dia tidak memberikan waktu Rudi untuk ku barang sebentar saja. Rudi pun tak bisa bersikap, dia tidak bisa memilihku untuk berada di sampingnya.
__ADS_1
Sebaiknya aku berkemas, perkara kedua mertuaku marah itu kupikirkan nanti. Nyatanya hidupku sudah hampa, karena aku sudah kehilangan suami, ibu dan rumahku.
Tas besar sudah ku persiapkan untuk membawa semua baju-baju ku. Setelah semua sudah tertata, aku pun langsung keluar kamar.
Ku lihat Ardi sedang di dapur, seperti nya dia akan memasak sesuatu.
Aku pun menghampiri nya, dan berdiri di depan pintu dapur.
" Bang ...."
Aku memanggil Ardi yang sedang menaruh mie instan, ke dalam panci yang berisi air dan sudah panas.
" Iya," jawab Ardi tanpa menoleh ke arahku.
" Aku mau pamit," ucapku pelan.
" Pamit, memangnya kamu mau kemana?" Ardi terlihat kaget saat aku pamit kepada nya.
" Aku mau ke rumah kakakku," jawabku lesu.
" Sampai kapan?" tanya Ardi.
" Selamanya, karena aku merasa tak dibutuhkan di sini!" ucapku lirih.
" Tapi, Bang! Aku merasa seperti tidak punya suami, dan aku sangat membutuhkan Rudi. Dia tak pernah sedikitpun memberikan kasih sayang untuk ku. Silvia yang selalu menguasainya, " tegasku." Dan aku sebagai wanita, juga butuh sentuhan kasih sayang dari tangan suamiku," ucapku sambil menangis sesenggukan sambil menutup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku.
Ardi mematikan kompor nya, lalu menghampiri ku. Dia langsung memeluk tubuhku, aku pun terkejut dengan sikap Ardi.
Tubuhnya begitu hangat, membuatku terasa nyaman dan tenang.
" Kau tidak sendirian, ada aku, ibu dan juga bapak." Ardi mengusap punggung ku serta memberikan kata-kata yang membuatku merasa tak sendiri tinggal di rumah ini.
Aku tak menyangka, Ardi sangat perhatian padaku.
Tanpa aku sadari, ada sepasang mata yang melihat kami sedang berpelukan.
" Bagus, ya! Ternyata kamu sudah berani main di belakang ku?"
Rudi melihat kami sedang berpelukan, segera kulepaskan pelukan Ardi.
" Kamu jangan salah paham, Bang!" Aku mencoba menjelaskan kepada Rudi.
" Kurang ajar kau, Bang!" Rudi datang menghampiri Ardi, lalu memukul nya. " Bugh ...."
__ADS_1
Silakan like dan komentar ya!