Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 82


__ADS_3

"Boleh aja sih, hanya saja dulu aku harus berhenti karena ngidam yang kepayahan." Karina pun curhat kepada Bebi.


"Oh iya, namaku Bebi." Bebi mengulurkan tangannya ke arah Karina.


"Karina," jawab Karina


"Apa aku boleh berteman sama kamu, Mbak?" tanya Bebi sambil mengulas senyum kepura-puraan. Bebi ingin menunjukkan pada suami Karina, yang telah mengedipkan satu mata ke arahnya. Jika Bebi bisa mendekati istrinya, kemudian akan mendekati Ardi.


Perasaan nya semakin penasaran, apakah sosok Ardi bisa di rebut hatinya? Karena dari pandangan Bebi, sepertinya Ardi adalah orang kaya.


"Mbak, boleh minta nomor teleponnya?" tanya Bebi seraya mengeluarkan ponselnya.


"Untuk apa?" tanya Karina seraya mengerutkan keningnya.


"Aku ingin berteman lebih dekat sama kamu, barangkali banyak perihal yang ingin aku tanyakan soal kehamilan!" ucap Bebi penuh percaya diri.


Tanpa menaruh rasa curiga, Karina memberikan nomor telepon nya kepada Bebi. Saat ini dia memang sedang butuh teman curhat. Karena wanita hamil sering sensitif dengan keadaan.


"Terima kasih ya, Mbak! Kapan-kapan aku boleh telepon kan?" tanya Bebi yang langsung berdiri dari duduknya.


"Iya," jawab Karina.


Kemudian Bebi bergegas menuju meja kasir, menghampiri Juwita.

__ADS_1


"Aku dapat mangsa baru," ujar Bebi seraya tersenyum licik di hadapan Juwita.


"Maksudnya?" tanya Juwita dengan memicingkan mata ke arah Bebi. "Kamu ingin mengganggu hubungan rumah tangga orang?" tanya Juwita.


"Aku hanya ingin mencoba, barangkali dia juga jodoh aku. Aku juga rela di jadikan istri kedua dari lelaki tampan itu," ucap Bebi seraya melihat ke arah Ardi. "Eh, tadi aku lupa nanya siapa nama suaminya?"


"Sudah gila, kamu!" ucap Juwita seraya menggelengkan kepalanya.


Kemudian mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.


Terlihat Ardi sudah selesai menemani Arjuna, lalu menghampiri Karina yang sedang duduk di stand makanan.


"Sudah selesai?" tanya Karina yang telah menyelesaikan makannya.


Bebi hanya tersenyum tipis saat melihat kepergian Ardi. Dia sedang berpikir untuk mendekati sosok Ardi. Pria tampan yang terlihat sangat mapan. Tak apalah kalau Bebi hanya jadi simpanan, jika Ardi menyukainya. Asalkan hidupnya bisa terjamin. Tetapi satu hal yang Bebi inginkan, dia akan tetap memiliki Ardi dengan berbagai cara. Karena dia sudah terpikat dengan sosok Ardi.


"Aku harus mendapatkannya." Bebi berucap dalam hati.


Karina telah sampai di depan mobil, lalu masuk ke dalam setelah Ardi membukakan pintu.


"Arjuna tidur, sebaiknya dia di bangku belakang." Ardi langsung menaruh Arjuna, lalu menyangga kepalanya dengan bantal, yang memang mereka siapkan untuk Arjuna jika tertidur.


Karina pun duduk di bangku depan, agar Arjuna bisa bebas tertidur di bangku belakang.

__ADS_1


Ardi pun masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarainya.


"Bagaimana? Apa sudah tidak mual lagi?" tanya Ardi


"Tidak," jawab Karina.


"Apa kamu ingin mengunjungi makam ayah kamu?" tanya Ardi mencairkan suasana yang tegang sedari tadi.


"Makam ayahku jauh," sahut Karina.


"Kalau kamu kuat, aku pasti akan mengantarmu." Ardi tidak mau kalah.


"Letaknya di bawah kaki gunung, karena di sana adalah kampung halamannya." Karina menjelaskan.


"Baiklah, aku akan mengambil cuti agar bisa mengantar mu ke sana. Aku ingin sekali melihatnya," ucap Ardi yang terus mencoba untuk membujuk istrinya agar tidak marah.


"Apa perlu ajak kak Diana?" tanya Karina.


"Terserah! Jika kamu ingin mengajaknya, aku akan meminjam mobil kantor agar bisa membawa mereka," ujar Ardi.


"Baiklah, nanti akan aku tanyakan." Karina langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Silakan like dan berikan komentar mu

__ADS_1


__ADS_2