
Pagi pun tiba, Karina bangun terlebih dahulu. Karena dia harus menyiapkan kebutuhan Ardi untuk berangkat bekerja.
Arjuna telah bangun dari tidurnya, lalu mengetuk pintu kamar Karina.
"Ma..." panggil Arjuna.
Karina pun membukakan pintu untuk Arjuna, "eh, anak mama sudah bangun." Karina langsung memeluk putranya.
"Ayo, kita mandi!" ajak Karina yang langsung menggendong Arjuna.
Badan Arjuna semakin berat, karena kini usianya menginjak umur enam tahun.
"Karin, sebaiknya kamu jangan menggendong Arjuna." Ardi langsung mengambil Arjuna dari gendongan Karina.
"Juna sama papa, ya!" Ardi langsung menggendongnya.
"Tapi, Bang! Aku masih kuat," jawab Karina
"Juna sudah besar, dan kehamilan mu juga sudah mulai membesar." Ardi mengelus perut Karina.
"Iya, sudah. Aku mau mandikan Juna." Karina kembali ingin mengambil Arjuna.
"Biar Arjuna mandi sama aku," ucap Ardi. "Kamu masak saja," lanjutnya.
Kemudian Ardi langsung membawa Arjuna ke kamar mandi, sedangkan Karina berjalan ke arah dapur.
***
Waktu pun terus berlalu, senakin hari perut Karina sudah terlihat sangat besar. Sembilan bulan sudah usia kandungan Karina. Kini dia harus bersiap diri untuk memeriksa kandungan nya.
"Kamu sudah siap?" tanya Ardi yang sudah berdiri di depan kamar.
"Sudah, tapi sepertinya aku tidak kuat jalan," keluh Karina seraya memegang perutnya.
"Bang, perutku terasa sakit." Karina meringis kesakitan sambil membungkuk dengan kedua tangan memegang lututnya.
"Karin, apa kamu mau melahirkan?" tanya Ardi cemas.
"Entahlah, Bang! Coba kamu panggil kak Diana," perintah Karina
Ardi langsung bergegas keluar kamar, lalu menghampiri Diana.
"Kak..." Ardi mencari keberadaan Diana
Diana berada di dapur, sedang menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anaknya.
"Aku di dapur..." teriak Diana yang sedang menumis bumbu.
Ardi berjalan sambil tergopoh-gopoh menghampiri Diana
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Diana yang melihat kepanikan di wajah Ardi.
"Karin, Karin perutnya sakit." Ardi berbicara dengan nafas tersengal-sengal.
"Sakit perut kenapa?" tanya Diana.
"Sepertinya mau melahirkan," jawab Ardi.
"Apa?" Diana terkejut, dia langsung menaruh sodet ke atas wajan lalu mematikan kompor nya. Diana langsung berlari keluar dari dapur menuju rumah Karina
"Karin, kamu gak apa-apa?" panik Diana yang sudah menghampiri Karina
Karina terlihat kepayahan membawa perutnya, apalagi dia sedang merasakan sakit.
"Perutku sakit sekali," ucap Karina sembari meringis kesakitan.
"Ayo kita ke dokter," ajak Diana yang langsung membangunkan Karina yang sedang terduduk di lantai.
Ardi datang membantu Diana yang terlihat sangat kerepotan.
"Cepat bawa ke mobil," perintah Diana.
Ardi langsung memapah Karina berjalan menuju ke arah mobil.
"Bang, nitip Arjuna. Anak-anak kamu antar ke sekolah," pesan Diana pada Farhan sang suami.
Diana dan Farhan dulu adalah teman sekelas sewaktu SMP.
Benih cinta mulai tumbuh di saat kelulusan tingkat SMP. Saat itu Diana hanya bisa membantu ibunya berjualan nasi uduk untuk membiayai sekolah Karina.
Setiap pagi, Farhan selalu menyempatkan datang untuk membeli nasi uduk. Padahal dia hanya ingin bertemu dengan Diana. Ikatan cinta yang begitu kuat, meyakinkan Farhan untuk melamar Diana di saat dia lulus sekolah dan memiliki pekerjaan sebagai office boy.
"Iya," jawab Farhan sambil menggendong Arjuna.
Kemudian Ardi langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah.
"Kak, sakit!" lirih Karina sambil memegang perutnya.
"Sabar, Karin." Diana mengelus perut Karina.
Sepanjang perjalanan Ardi terlihat panik dan juga cemas. Walaupun sudah sekali menemani Karina melahirkan, tetapi Ardi tetap saja ketakutan. Karena kali ini anak yang ada di dalam perut Karina adalah buah hati dari benihnya.
Perjalanan yang di lalui tidak terlalu jauh, karena Karina memeriksa kandungan nya di rumah sakit yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumahnya.
Karina tidak ingin terlalu lama untuk menempuh jarak ke rumah sakit, jika dirinya sudah mengalami kontraksi saat akan melahirkan.
"Kita sudah sampai, aku akan memanggil suster." Ardi langsung keluar dari mobil dan memanggil suster yang sedang bertugas.
Sementara kontraksi pada perut Karina semakin intensif, hingga membuat dia merasakan kesakitan yang luar biasa.
__ADS_1
"Kak, sakit banget." Karina semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Diana
"Sabar, Karin. Sebaiknya kamu banyak baca doa, agar persalinannya lancar." Diana memberikan saran.
Kemudian Ardi datang bersama dua orang suster dan juga seorang dokter jaga.
Karina segera mendapatkan tindakan, lalu dia di bawa ke ruang persalinan.
Ardi dan Diana sangat cemas menunggu Karina yang sedang bertaruh nyawa di dalam.
"Suaminya, Bu Karina!" panggil seorang perawat wanita yang keluar dari pintu operasi persalinan.
"Iya, saya!" Ardi langsung menunjukkan dirinya.
"Silakan masuk!" ucap perawat.
Ardi pun masuk ke dalam ruang operasi, kemudian dia di pakai kan baju ala operasi.
"Silakan masuk!" ucap sang perawat yang sudah membukakan pintu operasi untuk Ardi
Ardi tak tega, melihat Karina mengeluh kesakitan.
"Pak, kehamilan bu Karina sudah memasuki bulannya. Kami sudah mengecek jalur lahirnya, dan sudah masuk pembukaan lima. Diperkirakan jika sang anak aktif, maka akan cepat mengalami pembukaan." Dokter menjelaskan pada Ardi.
"Iya, sudah. Bagaimana baiknya saja, saya percaya kan keselamatan istri dan anak saya pada Anda." Ardi membalas pernyataan sang dokter.
"Baiklah, akan kami usahakan semampu kami," ucap dokter. "Sebaiknya Anda banyak berdoa dan bersabar. Karena di kelahiran normal, kami menunggu reaksi dari sang jabang bayi."
"Iya," jawab Ardi.
"Anda bisa menemani bu Karina, selama masa kontraksi. Berikan motivasi pada bu Karina agar sang anak mampu mencari jalan lahir sendiri.
Ardi pun mendekati Karina, dia mengelus dan mencium keningnya.
"Bang, sakit!" ucap Karina lirih seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Ardi.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi anak kita akan segera lahir, jadi kamu harus tetap semangat. Aku akan selalu berada di samping mu." Ardi membisikkan kalimat motivasi pada Karina
Selang beberapa menit kemudian, rasa mules di perutnya mulai intensif.
"Bang, aku mau buang air besar." Karina mengeluh pada Ardi.
"Sebaik aku panggilkan dokter," ucap Ardi yang langsung berjalan keluar ruang persalinan.
Karena dokter meninggalkan mereka berdu di ruang persalinan. Jika Karina mengeluhkan ingin buang air besar, langsung teringat dalam ingatan dari pesan dari dokter.
Dokter telah memeriksa keadaan Karina, dan Ardi berada di sebelahnya. Karina telah di cek, oleh sang dokter.
Kemudian dokter melakukan tindakan untuk menuntun Karina mengejan teratur.
__ADS_1
Selang beberapa menit, anak Karina pun lahir.
"Selamat, putri cantik telah lahir ke dunia." Dokter sambil menggendong bayi yang baru saja di lahirkan, lalu di tunjukkan pada Ardi.