
" Bu Karina maaf ya, kemarin aku gak bisa datang." Kata Abel karyawan lama yang satu ruangan denganku.
" Iya enggak apa-apa, Abel. Aku minta doanya aja." kata Ku sambil mengulas senyum.
Aku pun kembali ke tempat ku, sebagai manajer pemasaran. Tugasku saat ini, menawarkan produk terbaru untuk departemen pemerintahan. Biasanya aku melakukan tugas lapangan, dengan meluncur ke kantor-kantor yang bekerja sama dengan kantor ku.
Namun karena perutku yang sedang buncit, maka aku berinisiatif mengirimkan penawaran melalui email. Nanti tinggal oleh karyawan gudang untuk di kirim sampel kepada pemesan. Hal itu membuat kerjaku menjadi efisien, tidak perlu membawa contoh bahan. Hanya mengirimkan design kepada para customer. Soal bahan, mereka sudah tahu kualitas dari perusahaan butik milik bosku.
Bu Christina sering memujiku, karena omzet penjualan terus meningkat. Sehari aku bisa mendapatkan puluhan konsumen. Ada yang membeli eceran, maupun partai besar.
Aku membuat web khusus penjualan, jadi memudahkan masyarakat untuk mengetahui produk dari butik tempat ku bekerja.
" Bu Karina, semenjak kamu gak masuk kemarin. Pendapatan kita berkurang, hingga lima puluh persen. Kamu pakai trik apa sih, untuk menaikkan penjualan?" tanya Abel yang mendekati ku.
" Aku hanya menyebarkan produk butik, ke medsos kantor dan akun pribadi ku." kataku menjelaskan.
" Ah gak mungkin, kemarin aku coba menjual lewat medsos. Nyatanya aku gak bisa mendapatkan konsumen, katanya harganya mahal-mahal." keluh Abel padaku.
" Sebenarnya aku juga masih belajar, menggunakan medsos. Hanya saja aku terus belajar, dan menawarkan di grup." kataku pada Abel, namun dia masih tak percaya.
" Apa kamu pakai, susuk?" tanya Abel dengan mata yang menatap curiga ke arah ku.
" Kamu bertanya atau sedang curiga padaku?" tanyaku sambil menyipitkan kedua mataku, karena aku sedikit kesal dengan tuduhan Abel.
" Hanya bertanya, namun curiga juga. Soalnya kamu kan baru setahun lebih di sini. Sedangkan aku sudah hampir lima tahun." kata Abel menyindir ku.
" Maaf Abel, aku sedang hamil. Jadi gak mau menimpali ocehanmu." geramku yang langsung fokus pada layar komputer.
" Ish ...." Abel menatap sebal ke arahku.
Abel merasa iri kepada ku, karena dia bekerja di butik sudah sangat lama. Sedangkan aku yang baru setahun lebih, sudah diangkat menjadi manajer pemasaran.
Aku tidak pernah tahu, alasan bu Christina menaikkan jabatan ku. Yang pasti, aku merasa kinerjaku bagus. Apalagi hasil report pendapatan yang terus melonjak selama tiga bulan kemarin.
Waktunya jam istirahat, aku lekas menuju pedagang kaki lima. Karena di tempat ku bekerja, belum tersedia kantin. Yang ada hanya warung kelontong, yang hanya menjual rokok dan kue-kue kering serta kopi seduh.
Ajeng dan Nanik menghampiri ku, mereka berdua sudah akrab denganku semenjak aku di khianati oleh Silvia.
" Karina, kamu mau makan apa?" tanya Ajeng.
__ADS_1
" Aku mau makan nasi Padang aja, Mbak.' kataku yang langsung mengambil dompet dan ponselku.
" Karina, ada lowongan kerja jadi kurir. Siapa tahu, sodara kamu ada yang butuh." Kata Nanik memberi ku informasi.
" Kurir?" kataku sambil berpikir.
" Sebaiknya aku tawarkan bang Rudi, barangkali dia mau bekerja menjadi kurir." batinku sambil tersenyum-senyum menggigit bibir bawahku.
" Karina, kamu ngapain senyum sendirian?" tanya Ajeng sambil menepuk lenganku.
" Maaf Mbak, aku ingin menawarkan pekerjaan itu untuk suami aku." kataku
" Apa? Suami kamu?" kaget Ajeng dan Nanik.
" Apa, kamu yakin?" tanya Nanik ragu.
" Aku rasa dia akan berubah, jika anakku lahir. Siapa tahu dia akan menjadi rajin." kataku bersemangat.
" Tapi Karin, kurir nya buat kantor pusat. Tempat Silvia dulu di mutasi." kata Ajeng menjelaskan.
" Iya enggak, apa-apa. Aku memberi syarat untuk nya, jika ingin kembali padaku, dia harus menemukan pekerjaan." kataku optimis.
" Aku berharap, rumah tangga mu menjadi baik. Walaupun kehadiran Silvia akan terus mengganggu kalian." kata Ajeng yang sudah duduk berhadapan denganku.
" Aku pesankan, ya!" kata Nanik yang masih berdiri, lalu dia berjalan ke arah penjual nasi Padang.
" Karin, kamu mau jus alpukat?" teriak Nanik.
" Boleh, Mbak." sahutku sambil melihat ke arah Nanik.
Usai makan siang, kami langsung bergegas menuju kantor.
Banyak sekali kerjaan yang membuatku lelah, tanpa terasa waktu menunjukkan pukul lima sore.
Kami bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
" Bu, itu suaminya ya?" tanya Abel yang berdiri di sebelah ku sudah menggendong tasnya.
" Iya, " jawabku sambil memasukkan ponsel ke dalam tas, " Memang, ada apa?" tanyaku.
__ADS_1
" Ganteng ya, Bu. " kata Abel memuji Rudi.
Aku tak menaruh curiga padanya, karena kupikir si Rudi memanglah tampan. Namun sayangnya mereka belum tahu, kalau suamiku pemalas dan juga tempramental.
Yang mereka tahu, Rudi berwajah tampan dan juga ramah. Jika ada orang baru yang berkenalan dengannya. Apalagi wanita, akan di buat klepek-klepek dengan mulut manisnya.
Dan aku salah satu dari wanita yang terbujuk rayu Rudi. Andai kata wajah ku masih jelek, mungkin Rudi tak lagi mengejar ku hanya karena aku hamil anaknya.
Mungkin aku akan di buang atau di ceraikan olehnya, tanpa mengakui keberadaan anakku.
" Kamu suka sama suamiku?" tanyaku dengan tatapan curiga pada Abel.
" Eh, enggak. Mana mungkin aku suka sama suami orang. " kata Abel yang tertunduk malu.
" Karin, ada suami kamu tuh." kata Nanik memanggilku.
" Iya, Mbak." kataku dengan seulas senyum.
" Aku duluan ya, Abel." kataku pamit pada Abel.
" Iya, Bu." jawab Abel, wanita berusia lima tahun lebih tua dariku. Dia memang sudah bekerja lama di butik. Hanya saja kedudukan nya tidak mengalami perubahan, selama dia bekerja selama lima tahun.
Nasibnya sama seperti Silvia, di pekerjakan karena memandang ibunya yang sudah lama bekerja di butik.
Itulah kebaikan bu Christina, dia selalu menyuruh anak dari pegawai lama untuk bekerja di kantor nya.
" Karin ..." panggil Rudi yang berdiri di depan pintu.
" Bang, kan sudah aku bilang jangan pernah menemui ku kalau belum mendapatkan pekerjaan." kataku dengan suara pelan.
" Abang udah usaha, tapi belum dapat juga." kata Rudi dengan wajah memelas.
" Abang niat kerja, gak?" tanyaku penuh penekanan.
" Demi kamu dan anak kita." kata Rudi.
" Kantor sedang butuh kurir, kalau Abang mau nanti Karin minta tolong sama atasan untuk masukin Abang ke kantor pusat." kataku memberi harapan pada Rudi.
" Iya, iya abang mau. Kalau Karina mau nerima abang lagi." kata Rudi sambil memegang kedua tangan ku.
__ADS_1
Seperti nya dia senang sekali, saat aku berikan tawaran pekerjaan. Soal Silvia, aku tidak mau tahu. Yang jelas, saat anakku lahir si Rudi harus sudah mempunyai pekerjaan.
Silahkan like, vote dan berikan komentar mu.