
" Apa kamu tahu, sekarang Karina ada di mana?" tanya Ardi yang sangat penasaran.
" Mas, gak enak kalo kita ngobrol di sini." Ajeng sembari melihat ke kiri ke kanan. Karena semua karyawan wanita, melihat Ardi dengan tatapan menggoda.
" Lalu aku harus mengetahui Karina di mana?" tanya Ardi
" Sebaiknya kita ke kafe depan," ucap Ajeng yang langsung menuntun tangan Ardi. Ardi tak menolak saat tangannya di pegang oleh Ajeng.
Bagi Ardi saat ini adalah, dia bisa mencari informasi tentang Karina.
Mereka sampai di coffe shop, seberang butik. Ajeng memesan minuman, untuk dirinya dan juga Ardi.
" Kamu mau minum apa, Mas?" tanya Ajeng sambil melihat buku menu.
" Samain aja sama kamu," ucap Ardi.
Ajeng memesan minuman yang sedang hits, di kafe itu.
" Sudah sampai mana, bahasan soal proyek kalian?" tanya Ajeng dengan menatap lekat wajah Ardi.
" Aku sedang melihat produk kalian, dan Karina akan menunjukkan nya hari ini. Hanya saja aku tidak tahu, jika dia tidak masuk," ucap Ardi beralasan.
" Mas, apa kamu benar-benar sudah melupakan aku?" tanya Ajeng menatap iba ke arah Ardi.
" Ajeng, apalagi yang harus aku jelaskan? Kamu sudah hilang dari ingatanku, dan aku sudah menemukan tambatan hatiku." Ardi begitu tegas menolah Ajeng
" Jadi, aku sudah tidak ada harapan lagi?" tanya Ajeng menatap Ardi penuh harap
" Tidak," jawab Ardi tegas.
Ajeng pun menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah dengan keputusannya dulu.
" Mas, aku minta maaf. Soal kabur di hari pernikahan kita!" ucap Ajeng lirih.
" Semua sudah terjadi, tak ada yang perlu di sesali." Ardi meminum pesanan yang baru saja di bawa oleh pelayan. " Coba kamu hubungi Karina, apakah dia sudah bisa menerima telepon?" tanya Ardi yang membujuk Ajeng.
" Sebentar," jawab Ajeng yang langsung mengambil ponselnya.
Panggilan pertama, belum juga di jawab oleh Karina.
" Mungkin dia sedang sibuk," ucap Ajeng yang telah meletakkan ponsel nya di atas meja.
" Coba kau hubungi lagi," kata Ardi yang sangat penasaran.
Ajeng kembali mengambil ponselnya, dan menghubungi Karina.
" Halo, Mbak! Ada apa?"
__ADS_1
Karina menjawab panggilan telepon dari Ajeng.
" Kamu kok susah di hubungi? Memangnya belum selesai masalah nya?"
" Belum Mbak," jawab Karina.
" Sekarang kamu lagi dimana?" tanya Ajeng
" Aku di rumah kakakku, memang nya ada Mbak?" tanya Karina.
" Ma--"
Ardi langsung menutup mulutnya dengan satu jari, menandakan dia tidak ingin keberadaan nya di ketahui oleh Karina.
" Ma-- , ada apa Mbak?"
" Maksudnya kamu kok gak cerita kalau lagi ada masalah?" tanya Ajeng mengalihkan pembicaraan.
" Aku gak bisa cerita banyak, karena privasiku. Besok aku akan masuk kantor, karena kini aku sudah pindah ke rumah kakak ku."
" Rumah kakakmu dimana? " tanya Ajeng yang melihat Ardi memberikan isyarat dengan mulutnya.
" Di pinggir kota, dekat kecamatan." jawab Karina.
" Baiklah, semoga masalahmu cepat selesai."
" Terima kasih, Mbak!"
" Kamu tahu rumah kakaknya Karina?" tanya Ardi menyelidik.
" Mas, kamu kok ngotot banget pengen ketemu Karina? " tanya Ajeng penasaran. " Apakah kamu menyukai Karina?" tebak Ajeng.
" Iya," jawab Ardi lugas.
" Apa? Kamu suka sama adik iparmu?" tanya Ajeng terkejut.
" Perasaan suka, gak bisa dilarang." Ardi menatap lekat Ajeng. " Sama seperti kamu dulu, begitu tergila-gila pada Robi. Padahal saat itu, kamu akan menikah denganku," ucap Ardi kasar.
Ajeng segera bangkit, dan pergi meninggalkan Ardi. Hatinya begitu sakit, saat mendengar Ardi menyukai Karina.
Apakah Ajeng merasakan hal sama yang di alami Ardi saat di tinggalkannya waktu itu?
Ajeng terus berpikir, dan menyesal kenapa dia bertindak bodoh telah percaya dengan bujuk rayu Robi.
Robi hanya mempermainkannya, memberikannya pekerjaan sebagai wanita malam. Untungnya Ajeng bisa ilmu bela diri, hingga dia bisa menghindar dari lelaki yang di bawa oleh Robi.
Sepulangnya dari perantauan, Ajeng kembali mencari Ardi. Namun sayangnya, Ardi telah pergi dari kota itu.
__ADS_1
Ardi pun pergi dengan harapan kosong, dia kembali ke rumah nya.
****
Setiap hari Ardi selalu saja mengunjungi butik tempat Karina bekerja. Namun hasilnya nihil, Karina hilang bak di telan bumi.
Ajeng pun tak lagi bisa membantunya, karena penolakan tempo hari. Proyek nya bersama Karina, di ambil alih oleh karyawan lain.
Ardi kembali patah hati, sebelum menjalin hubungan dengan Karina. Ardi telah mencoba mencari informasi tentang Karina melalui bosnya, hasilnya juga nihil.
Sebegitu marahkah Karina kepadanya?
Pov Karina
Semenjak kepulangan ku dari bidan, aku langsung melajukan motorku menuju rumah Diana.
Aku ingin menenangkan diri, rasanya sangat syok dan trauma melihat anakku hampir meregang nyawa. Walaupun dia anak dari suami yang tidak bertanggung jawab, tapi aku sangat menyayangi nya. Anakku tidak punya salah, dan tak tahu dengan sikap bapaknya yang mata keranjang. Aku bertekad untuk mengasuh dan mendidik nya dengan baik.
Aku mengadu pada bosku, menceritakan keadaan yang sebenarnya. Tentang ibu mertuaku yang hampir membunuh anakku, dan juga Ardi.
Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan keluarga suamiku. Ingin mengubur semua kenangan buruk, dan memulai hidup bahagia dengan anakku.
Melalui sambungan telepon, bosku memerintahkan ku mengurus anak cabang nya yang berada di dekat tempat tinggal Diana.
Sungguh beruntung mempunyai bos yang sangat baik hati.
Kini aku memiliki rumah sendiri, di sebelah rumah Diana. Tanah milik orang tua suaminya aku beli, karena mereka membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya.
Aku bangun rumah sederhana bertingkat dua. Aku hanya mempercayakan Diana yang mengasuh anakku. Sedangkan urusan rumahku dan rumah Diana, aku menyewa dua pembantu sekaligus.
Aku hanya ingin Diana mengurus suaminya dan anak-anaknya serta anakku.
" Kak, aku jalan kerja dulu. " Aku pamit pada Diana yang sedang menggendong Arjuna. Arjuna sangat manja sekali dengan Diana. Usai bermanja-manja denganku, Arjuna yang kini berusia dua tahun langsung berjalan menuju ke arah Diana.
Langkah kecilnya masih tertatih, dan kadang terjatuh.
" Arjun, pelan-pelan Sayang!" ucapku yang langsung membangunkan nya terjatuh tersandung mainannya.
" Ayo sama mama Diana, " panggil Diana sambil melambaikan tangan.
" Kak, anak-anak udah berangkat sekolah?" tanyaku sambil memberikan Arjuna.
" Sudah, tadi sama mas Farhan. Pulangnya baru aku jemput," ucap Diana yang telah menggendong Arjuna.
" Kak, aku jalan dulu." Aku mencium tangan Diana. Begitu aku langsung mencium kening dan pipi Arjuna. " Mama, jalan kerja dulu!"
Aku menaiki motor matic ku, dan menyalakan mesinnya. Usai melambaikan tangan ke arah Arjuna, aku pun melajukan motorku meninggalkan rumahku.
__ADS_1
Jarak antara rumahku dan butik tak begitu jauh. Sesampainya di butik, aku melihat ada motor Ajeng yang terparkir di halaman.
Silakan like dan berikan komentar mu.