Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 68


__ADS_3

"Pilihlah baju yang kau suka," ucap Ardi yang sudah masuk ke dalam toko.


Kemudian Silvia langsung memilih baju yang berada di toko baju. Semua mata melihat jijik ke arah Silvia. Karena penampilan Silvia yang kumuh dan kumal.


"Maaf Tuan, apa sebaiknya wanita ini mandi dulu!" sindir salah seorang pegawai sambil memegang baju di tangannya


Silvia terlihat kesal karena merasa di permalukan oleh pegawai toko.


"Heh, Mbak! Apa kamu gak tahu dengan siapa kamu bicara?" hardik Silvia seraya mencondongkan dadanya.


"Iya, pak Ardi pemilik butik ini." Pegawai butik memberitahu Silvia.


"Oh, kamu rupanya orang kaya?" Silvia melipat kedua tangannya sambil menatap Ardi dengan intens.


"Silvia, sebaiknya kamu ganti bajumu." Ardi langsung memberikan baju yang di pegang oleh pegawainya.


"Aku mandi dulu," pinta Silvia.


"Baiklah," jawab Ardi. "Bawa dia ke toilet," perintah Ardi pada karyawan nya.


Silvia pun mengikuti langkah karyawan perempuan di depannya. Semua mata melihat jijik ke arah Silvia.


Ardi merasa bersalah karena membuat Silvia menderita penyakit kronis. Yang obatnya belum di temukan sampai sekarang.


Entahlah Rudi bergaul dengan siapa saja, hingga membuat Silvia menderita penyakit HIV.

__ADS_1


Ardi akan membawanya ke sebuah perkampungan, di sana Silvia akan di ungsikan. Dan yang pasti, Karina tidak boleh bertemu dengan Silvia.


Selang beberapa menit kemudian, Silvia telah membersihkan dirinya dan baju yang diberikan Ardi juga sudah dia pakai.


"Ayo, kita jalan!" ajak Ardi.


"Perutku lapar," ujar Silvia seraya memegang perutnya.


"Merepotkan," cibir Ardi seraya memutar kedua bola matanya malas.


"Apa kamu gak suka?" tanya Silvia sambil menatap tajam ke arah Ardi.


"Baiklah, kita makan." Ardi langsung masuk ke dalam mobil nya.


"Cepat, masuk!" perintah Ardi.


Dia ingin memanfaatkan keuangan Ardi untuk menyenangkan dirinya. Karena Ardi jugalah yang membuat dirinya sengsara seumur hidup. Tidak diterima oleh keluarga dan masyarakat sekitar, saat tahu Silvia menderita penyakit ganas.


"Oke," jawab Ardi sambil mencari-cari restoran yang akan dia lewati.


"Itu aja, makanan barat. Aku mau tenderloin steak." Silvia menunjuk jarinya ke arah gerai makanan.


Kemudian Ardi langsung memarkirkan mobilnya menuju gerai steak.


Silvia dan Ardi pun keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah restoran.

__ADS_1


"Silakan Tuan, mau pesan apa?" tanya salah seorang pelayan yang sudah berdiri di sebelah Ardi, dengan membawa alat tulis dan buku menu.


"Aku mau pesan tenderloin steak plus air jeruk." Silvia menyela pembicaraan.


"Baik, Nona! Adalagi?" tanya pelayan seraya melirik ke arah Ardi.


"Itu saja," jawab Ardi.


Kemudian pegawai restoran langsung berjalan menuju pantry, untuk menyiapkan hidangan yang sudah di pesan.


Dari jauh terlihat Ajeng dan Nanik yang sedang memperhatikan Ardi.


"Jeng, aku kayaknya kenal sama laki-laki itu!" ujar Nanik seraya menunjuk jarinya ke arah Ardi.


"Iya, kayaknya itu Ardi. Dia sama siapa?" tanya Ajeng seraya memerhatikan wanita yang berada di hadapan Ardi.


"Mungkin klien bisnis nya," jawab Nanik menebak.


"Mungkin," jawab Ajeng.


"Apa kita dekati aja?" tanya Nanik.


"Gak enak, ah! Soalnya dia lagi ketemu klien, masa kita ganggu," ucap Ajeng.


Selang beberapa menit, pesanan pun sudah selesai. Pelayan membawa tenderloin steak ke meja Silvia. Saat akan menaruh gelas, tiba-tiba tangan sang pelayan pun tersenggol oleh tangan Silvia yang akan mengikat rambutnya. Alhasil gelas berisi es jeruk pun tumpah ke bajunya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak like


__ADS_2