Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 89


__ADS_3

Akhirnya Ardi mulai melancarkan serangannya, dengan memberikan sentuhan lembutnya juga kecupan mesra.


Waktu terus berputar, Karina dan Ardi telah menyelesaikan pergelutannya. Dan mereka akhirnya tertidur pulas.


Jam weker berbunyi, menandakan pukul lima pagi.


Karina pun terbangun dengan keadaan tubuh yang masih polos, hanya dengan di tutupi selimut.


Kemudian Karina pun terbangun dari tidurnya, lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Segera dia membersihkan dirinya, dan melakukan mandi wajib.


Selang beberapa menit kemudian, Karina telah menyelesaikan seluruh aktivitas mandi dan juga beribadah. Begitu juga dengan Ardi, dia pun telah bersiap untuk mengajak Karina dan juga Arjuna untuk segera pergi.


"Kalian sudah siap?" tanya Ardi yang telah memasuki mobilnya.


"Sudah," jawab Arjuna


Kemudian Ardi pun melajukan mobilnya dengan perlahan. Sepanjang perjalanan, Arjuna sangat senang sekali. Dia bernyanyi sambil bertepuk tangan. Arjuna dan Karina duduk di bangku belakang. Karena tak mungkin Arjuna duduk di depan, sedangkan perjalanan cukuplah jauh.


Karina memberikan alamat makam ayahnya pada Ardi. Lalu Ardi mengikuti sesuai map di layar ponselnya.


Hampir separuh perjalanan, Karina dan Arjuna pun tertidur pulas.

__ADS_1


"Tempat ini, bukankah ke arah rumah mbok Sun?" Ardi bermonolog sendiri dalam hati.


Ardi sangat hapal jalan yang kini dia lewati, dalam hatinya dia berdoa agar Karina tidak bertemu dengan Silvia.


Kenapa makam ayah Karina sama persis dengan jalan ke rumah mbok Sun? Ardi nampak berpikir sambil sesekali melirik ke arah Karina melalui kaca spion nya


Tiga jam sudah berlalu, akhirnya mereka sampai di desa. Jarak tempuh yang cukup jauh, dan sangat melelahkan untuk ibu hamil seperti Karina.


"Karin..." Ardi memanggil Karina yang sedang tertidur.


Karina pun terbangun dari tidurnya, lalu melihat ke arah jalanan.


"Sepertinya sudah dekat," jawab Karina.


'Sial, kenapa dekat dengan rumah mbok Sun!' umpat Ardi dalam hatinya. 'Aku tak memperhitungkan sebelumnya, tentang rumah mbok Sun yang dekat dengan pemakaman.'


Ardi masih sibuk dengan pikirannya mengenai letak makam ayah Karina dan juga rumah mbok Sun. Secepatnya Ardi harus menghubungi mbok Sun, agar menjaga Silvia. Jangan sampai mbok Sun lengah, dan membiarkan Silvia berkeliaran keluar rumah.


"Bang, perutku lapar." Karina mengeluh seraya memegang perutnya.


"Tapi di sini belum terlihat warung makan," ujar Ardi yang masih fokus melihat ke arah jalanan.

__ADS_1


"Ya sudah, kita cari saja di depan jalan. Barangkali ada warung makan," ucap Karina


Ardi kembali fokus menatap jalanan, hingga dia melewati rumah mbok Sun.


"Bang, rumah itu kok cuma sendiri di tengah hutan?" tanya Karina seraya melihat kearah rumah minimalis milik mbok Sun.


"Oh, mungkin pemilik hutan di sini." Ardi tak menoleh ke arah rumah mbok Sun. Karena memang dia sangat mengenali rumah yang sering kali dia kunjungi bersama ibunya.


"Apa dia gak takut, jika ada hantu atau pencuri?" kata Karina.


"Mungkin sudah terbiasa, lagi pula hanya nenek-nenek yang tinggal di sana." Ardi keceplosan saat menjelaskan penghuni rumah yang sedang mereka bicarakan.


"Nenek-nenek! Kok kamu bisa tahu, Bang?" tanya Karina yang menatap curiga ke arah Ardi


"Eh, Abang gak tahu siapa yang tinggal di sana. Abang hanya menebak aja," ujar Ardi berkilah.


Terlihat Ardi gelagapan, sambil melirik ke arah Karina.


"Dimana makamnya?" tanya Ardi yang sudah menghentikan laju mobilnya.


Silakan berikan like dan komentar mu

__ADS_1


__ADS_2