
Karina langsung keluar dari rumahnya, ingin melihat keberadaan ibu mertuanya.
" Bu, apa yang terjadi sama Arjuna? " tanya Karina dengan wajah cemas dan panik
" Prank, prank ... "
Terdengar bunyi gelas dan piring pecah dari arah dalam dapur.
Karina segera menghampiri asal suara, dia sambil menggendong anaknya.
Karina melangkahkan kakinya, berjalan menuju pintu dapur.
" Bu, " panggil Karina yang melihat dapur sudah berantakan.
Ambar sedang memegang sebilah pisau di tangannya.
" Aku mau menyusul Rudi, hahahaha ... " Terdengar suara Ambar tertawa dengan lantang sambil menggoyangkan pisau di tangannya.
" Bu, ibu kenapa? " Karina terlihat ketakutan melihat ibu mertuanya tertawa sambil menangis.
" Rudi, lihat anakmu sudah menyusulmu. Ha, ha, ha .... " Ambar kembali tertawa.
" Apa? " Karina terkejut dengan penuturan Ambar.
" Bu, apa yang ibu lakukan pada Arjuna? " tanya Karina yang berada di ujung pintu dapur. Karina tak berani menghampiri ibunya, karena sedang memegang pisau lalu di goyangkan ke lehernya.
" Aku baru saja mengirim Arjun ke tempat Rudi, sekarang giliran aku yang akan menyusul Rudi. Ha, ha, ha ... " pekik Ambar
" Maksudnya ibu sudah membunuh Arjuna? " tanya Karina. " Tidaaaa ... k. "
Karina jatuh terduduk di lantai, sembari menggendong jasad anaknya. Dia menangis histeris, air matanya jatuh tiba-tiba tanpa terbendung lagi
" Arjuna, sayang. Bangun, Nak! " lirih Karina seraya mencium pipi anaknya. Mencoba membangunkan nya berkali-kali.
" Nak, ini mama. Kamu harus bangun, Nak. Jangan tinggalin mama, " ucap Karina seraya terisak tangis. Karina memeluk tubuh anaknya. Dan terus mencoba membangunkannya berkali-kali. Namun sayang, Arjuna tidak sedikitpun merespon panggilan Karina.
Biasanya Arjuna kecil, selalu tertawa jika Karina memanggil namanya. Tangisan tiada henti terus mengiringi kepergian Arjuna.
" Ibu, kamu telah membunuhnya. Kenapa kamu tega, " ucap Karina sembari menangis.
" Karina, ada apa? " panggil Parjono yang barus saja pulang dari kota.
" Ibu sudah membunuh, Arjuna. " Karina terus menangisi kepergian sang anak.
" Apa? " Parjono terlihat terkejut tak percaya. " Gak mungkin, " Lalu dia melihat ke arah dapur.
Parjono terkejut, melihat sang istri sedang melayangkan sebilah pisau di tangannya.
" Lihat deh, Pak! Arjuna sudah nyusul Rudi, sekarang giliran kita, " ucap Ambar yang datang menghampiri Parjono.
__ADS_1
" Ambar, kamu sakit jiwa? " Parjono berteriak lalu membuang pisau yang ada di tangan Ambar.
" Pak, kasihan si Rudi. Di sana sendirian, dia butuh teman. Anaknya sudah menyusul, sekarang giliran kita orang tuanya, lalu istrinya. " Ambar menatap tajam ke arah Karina.
" Ambar, kamu sudah gila. " Parjono berteriak. " Plak ... " Satu tamparan melayang di pipi Ambar.
" Pak, kenapa kamu tega mukul aku? " Ambar berteriak histeris. Dia terus meronta-ronta, karena tangannya di cengkeraman oleh Parjono.
Ambar di bawa oleh Parjono menuju kamarnya, " masuk, " ucap Parjono yang langsung melempar Ambar masuk ke kamar. Lalu Parjono mengunci pintu kamar.
" Karina, sini bapak lihat. " Parjono segera mengambil Arjuna dari tangan Karina.
Di pegangnya tubuh Arjuna, terasa dingin lalu dia mencoba mendengar detak jantung di dadanya.
" Dugh ... dugh !! "
" Karina masih terdengar, cepat kamu kasih nafas buatan. " Parjono segera memberikan Arjuna pada Karina.
Karina langsung menaruh Arjuna di atas meja, lalu membuka bajunya.
Dada Arjuna di tekan berkali-kali, lalu Karina memberikan nafas untuk Arjuna.
Sekali lagi Parjono, menekan dada Arjuna agar pernafasan yang di berikan Karina dapat mengalir ke paru-paru.
" Sekali lagi, " ucap Parjono.
" Emphhh .... "
" Uhuk ... "
Arjuna terbatuk, dan matanya terbuka. Parjono langsung mengangkat tubuh Arjuna, lalu membalikkannya. Punggungnya di tepuk tiga kali oleh Parjono, agar aliran nafasnya kembali lancar
" Eaa ... Mama ... " Arjuna memanggil mamanya
Karina menangis, dia melihat nyawa anaknya telah terselamatkan.
" Alhamdulillah, " ucapan syukur dari mulut Karina.
Karina langsung memeluk tubuh anaknya erat, air mata haru terus mengalir membasahi pipinya.
" Karina, " panggil Ardi yang kini berdiri di depan pintu rumah. Dia menyaksikan anak Karina, telah di selamatkan oleh bapaknya.
" Ardi ... " Parjono langsung berdiri dan menghampiri Ardi.
"Anak kurang ajar, " ucap Parjono yang emosi lalu melayangkan pukulan di pipi Ardi.
" Bugh! "
Ardi pun jatuh terhuyung ke terasa depan rumah.
__ADS_1
" Pak, buka pintunya. Ayo kita menyusul Rudi, " teriak Ambar dari dalam kamar sembari mengedor-gedor pintu kamar.
Karina terlihat ketakutan, dia bingung dengan keadaan yang di alami saat ini.
Apakah kini dia berada di lingkungan orang sakit jiwa?
Karina segera bangkit dan menggendong anaknya. Dia berlari meninggalkan rumah mertuanya. Dan tak tak menghiraukan bapak dan anak, yang kini sedang berkelahi.
Karina berlari menuju rumahnya, segera dia mengganti baju Arjuna. Karina begitu panik dan cemas dengan keadaan anaknya. Usai merapikan Arjuna, Karina segera mencari tas dan juga gendongan. Dia ingin mengajak Arjuna ke dokter, memeriksa keadaan anaknya yang mulai lemas lagi.
Karina berlari menuju pintu luar, dan masih saja melihat bapak mertuanya dan Ardi bertengkar.
Karina pun menaiki sepeda motornya, dan melajukan ke arah bidan terdekat.
Dalam perjalanan, tubuh Arjuna semakin lemas. Entah apa yang di lakukan oleh ibu mertuanya pada Arjuna? Hal itu akan Karina bahas, setelah mengetahui keadaan Arjuna.
Motornya telah terparkir di halaman rumah bidan. Karina langsung mengetuk pintu gerbang yang telah terkunci.
" Dor, dor, dor ... " Karina menggedor pintu gerbang yang jaraknya lima meter dari pintu rumah utama.
" Bu, permisi ... " teriak Karina mencoba membangunkan penghuni rumah.
Belum ada jawaban, Karina menggedornya sekali lagi.
Selang beberapa detik, pintu utama terbuka. Terlihat perawat jaga, yang sudah keluar dan menghampiri Karina.
Perawat jaga pun membuka pintu gerbang, yang telah terkunci.
" Silakan, masuk! " ucap perawat sambil mengusap kedua matanya.
" Terima kasih, " Karina bergegas masuk ke dalam ruang periksa. Dengan cepat Karina membuka tali gendongan, dan menaruh anaknya di atas tempat tidur.
Arjuna pun di periksa oleh sang bidan, hidung dan mulutnya di pakaikan oksigen. Bidan memeriksa dada Arjuna dengan stetoskop.
" Ibu, silakan duduk di sana, " perintah bidan yang menyuruh Karina duduk kursi tunggu.
Karina terlihat sangat cemas, dia mengkhawatirkan keadaan Arjuna.
" Kenapa dengan lehernya? " tanya bidan yang memeriksa leher, ada bekas lebam kebiruan.
" Ibu mertuaku, mengaku mencekik anakku. " Karina langsung menjawab pertanyaan bidan.
" Apa? Mencekik? " Bidan terkejut mendengar penjelasan dari Karina.
" Iya, aku pulang sekitar jam tujuh malam. Sekitar setengah jam, aku lihat anakku masih saja terlelap. Aku curiga lalu memeriksa tubuhnya, sudah dingin. Dan menurut pengakuan ibu mertuaku, dia telah mencekiknya. " Karina menangis sesenggukan.
" Baiklah, kita akan mengadakan visum untuk bukti. " Bidan langsung mengambil ponselnya
" Apakah Anda berniat mempolisikan ibu mertuanya? " tanya salah seorang kepala bidan.
__ADS_1
" Iya, " jawab Karina menganggukkan kepalanya.
Silakan like dan berikan komentar