Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 29


__ADS_3

" Enggak Sus, jelas-jelas tadi aku tidak melihat anakku atau ibu di sini! " Aku meninggikan suaraku, karena saat ini aku sedang panik.


Aku takut semua yang barusan terjadi adalah rencananya.


" Apa ini semua rencana ibu? Ibu yang akan mengambil anakku dan memisahkan ku? " Aku terlihat emosi sambil menunjuk jari telunjuk ke arah Ambar.


" Karina, apa yang kamu bicarakan? " Ambar terlihat kebingungan, melihat ku menuduhnya telah mengambil anakku.


Aku tahu dia hanya berpura-pura, agar semua orang menganggap aku sedang berhalusinasi.


" Bu Karina, sebaiknya Anda berisitirahat. Karena kondisi Anda belum begitu pulih, " ucap perawat yang langsung menuntunku ke tempat tidur.


" Tapi Sus, aku minta tolong jangan biarkan ibu mertuaku mengambil anakku. " Aku berpesan pada perawat sambil mengusap air mata ku.


Aku segera melihat anakku, yang sedang tertidur pulas di boxnya.


" Anakku, mama akan selalu menjagamu. " Aku berucap lirih seraya mengecup pipi anakku.


Kemudian aku langsung naik, ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuh ku.


" Bu, kami periksa jahitan dulu. Karena tadi ibu sempat berlari kecil, saat keluar dari kamar." Perawat berucap dan langsung membuka bajuku.


" Mungkin ibu tadi hanya berhalusinasi, karena biasanya ada kecemasan setelah melahirkan. " Perawat mulai menyingkap bajuku.


' Tapi aku gak mungkin berhalusinasi. Jelas-jelas tadi anakku memang tidak ada di boxnya. Atau mungkin hanya ketakutan ku saja, karena aku pernah mendengar rencana jahat dari keluarga Rudi? '


Aku terus berpikir, agar jangan terganggu oleh gejala itu. Jangan sampai mertuaku menyalah gunakan, dengan apa yang di jelaskan oleh perawat tadi.


Segera aku tenangkan pikiran ku, dan tak ingin berbuat yang macam-macam.


Tetapi aku heran dengan kakakku, bukankah tadi aku memintanya untuk menjagaku? Lalu kemana Diana?


Usai perawat memeriksa jahitan pasca persalinan, kemudian dia merapikan bajuku.


" Sus, aku mau anakku tidur di samping ku. Tolong bawa anakku ke sebelah ku, " pintaku pada perawat.


Kemudian perawat langsung mengambil anakku, yang berada di dalam box bayi.

__ADS_1


Bayiku di tidurkan di sebelah ku, karena aku tidak ingin kejadian tadi terulang kembali.


Para perawat pun sudah keluar dari kamarku, dan hanya menyisakan ibu mertua ku.


" Karina, maksud kamu apa menuduh ibu mengambil anakmu? " Ambar berbicara kesal di sebelahku. Dia tidak terima dituduh sebagai pengambil anakku.


" Maaf, Bu! Karena waktu sedang mengadakan acara nujuh bulan, aku sempat mendengar kalian sedang merencanakan sesuatu untuk mengambil anakku." Aku berterus terang pada mertuaku. Karena aku bosan hidup dalam sandiwara nya.


" Apa? " Ambar terlihat sangat gugup, " mungkin kamu salah dengar, " ucapnya gelagapan.


" Aku belum tuli, dan masih bisa mendengar sangat jelas. Di tambah lagi bang Rudi yang menginginkan hartamu. Dan anakku sebagai syarat nya, agar bisa memperoleh hartamu itu. " Aku mulai kesal, kala mengingat kejadian tempo hari saat acara malam nujuh bulanan.


Malam itu bukan malam kebahagiaan ku, justru membuat aku kehilangan sosok ibu yang sangat aku sayangi.


" Iya sudah, kalau kamu masih bersikeras dengan sikapmu. Ibu tidak mungkin berencana seperti itu, " kilahnya, kemudian Ambar langsung pergi meninggalkan ku dengan wajah yang cemberut.


***


POV AMBAR


Aku masuk ke dalam kamar Karina, segera aku ambil anaknya dari dalam box.


Sebaiknya aku merencanakan sesuatu, agar Karina terlihat tidak waras. Sehingga dia tidak bisa mengasuh anaknya sendiri.


Saat aku melihat Karina mengerakkan badannya, segera ku berjalan menuju kamar mandi sembari membawa cucuku.


Aku menimangnya, agar dia tidak menangis dan mengeluarkan suara.


Aku mendengar suara Karina yang sedang ketakutan, memanggil nama kakaknya. Aku puas sekali dia sangat panik.


Karina berteriak seperti orang kesetanan, dan pastinya akan aku teror terus.


Selang beberapa menit, aku keluar dari kamar mandi. Dan merebahkan cucuku di atas box bayi nya. Setelah itu aku mengecek kondisi di luar, dengan mengintip dari celah pintu.


Karina masih terus berteriak sambil menangis. Memang itu yang aku harapkan, itu bisa menjadi bukti untuk menjauhkannya dari cucuku.


Setelah aku mendengar bunyi sepatu, dari arah pintu luar, aku segera berpura-pura tertidur. Aku merebahkan tubuh ku di atas kursi.

__ADS_1


Pintu pun terbuka, ku dengar Karina di tuduh telah berhalusinasi oleh perawat.


Aku puas, telah membuatnya menjadi panik dan ketakutan.


Seketika aku membela diriku, agar meyakinkan mereka jika Karina hanya berhalusinasi.


" Karina, apa yang kamu bicarakan? " Aku berpura-pura terkejut saat Karina menuduhku mengambil anaknya.


" Karina, maksud kamu apa menuduh ibu mengambil anakmu?" Aku kembali mengulang pertanyaan, agar meyakinkan suster bahwa Karina sedang berhalusinasi.


Kemudian dia menceritakan kejadian sewaktu malam acara nujuh bulan. Ternyata Karina mendengar pembicaraan ku dengan suamiku.


" Sial, kenapa aku harus kecolongan. Hingga membuatnya mengetahui tentang rencanaku ingin mengambil anaknya. " Aku berucap dalam hati seraya menatap gugup ke arah Karina.


Karena takut ketahuan oleh Karina, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari kamar.


Saat ini aku harus keluar dari kamar rawat inap, setelah itu akan aku pikir lagi soal rencana membuat Karina cemas dan panik.


Mulai saat itu aku akan memanfaatkan pikiran nya dengan gangguan kecemasan, untuk mengambil cucuku.


Setelah cucuku berhasil aku rebut, Rudi harus bercerai dari Karina. Karena aku tidak sudi, mendapatkan menantu miskin seperti Karina.


Aku menyuruh Ardi untuk pulang ke rumah, karena dia harus mengurusi ari-ari dari bayi Karina.


Sedangkan Diana, sudah aku berikan uang dan aku bujuk agar pulang bersama suaminya.


Awalnya Diana menolak, dan kekeh ingin menjaga Karina. Tetapi setelah aku memberinya uang satu juta, dia langsung pulang bersama suaminya.


Ternyata benar dugaan ku, keluarga Karina memang mata duitan.


POV AUTHOR


Karina tidak dapat memejamkan kedua matanya, dia cemas jika ibu mertuanya akan membuat ulah lagi.


Di peluknya anak bayi laki-laki di sebelah nya, di elus pipinya dengan lembut.


' Bu, aku sudah melahirkan. Lihatlah cucumu, dia begitu lucu dan menggemaskan. Andai ibu ada di sini, mungkin ibu akan senang sekali. Pasti kau akan menggendong nya, dan menidurkan nya. Bu aku ingin sekali memelukmu, aku kangen sama ibu. Aku lelah dengan semua sandiwara yang dilakukan oleh Rudi dan keluarganya. Mereka hanya menginginkan anakku. Apa yang harus aku lakukan tanpa ibu? Aku sudah gak percaya lagi sama orang yang pura-pura baik kepadaku. Hanya ibu yang menyayangi ku dengan tulus. '

__ADS_1


Karina terus membayangkan ibunya, dia begitu rindu. Tak terasa air mata sudah mengalir di kedua pipinya.


Silakan like dan komentar ya!


__ADS_2