Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 30


__ADS_3

Pov Karina


Ardi datang dan menghampiri ku, dia membawakan cemilan untuk ku.


" Karina, makanlah. " Ardi memberikanku buah apel.


" Kamu gak usah sok baik padaku, " ucapku dengan menatap sinis ke arah Ardi.


" Apa maksudmu? " Ardi terlihat bingung saat Karina sedang menuduhnya.


" Kamu dan keluargamu hanya ingin mengambil anakku, dan aku tahu semua rencana busuk ibumu, " ucap Karina dengan kasar


" Cukup Karina, apa maksud bicaramu? Kenapa kau menjelekan ibuku? " Ardi terlihat geram saat aku menuduh ibunya.


Aku tidak tahu apakah Ardi termasuk bagian dari rencana jahat ibunya atau tidak? Yang jelas mereka mempunyai ikatan darah yang sama.


" Bang, aku gak tahu harus percaya pada siapa lagi? Aku sudah lelah dengan semua kebusukan keluarga mu, " ucapku yang terus menuduh nya.


" Karina, aku gak mengerti sama ucapanmu. Dan bukankah selama ini ibuku baik sama kamu? " tanya Ardi


Ibu mertuaku selalu bersikap baik saat di depan orang. Sementara di belakang, mereka mempunyai rencana busuk.


Aku tidak mempunyai bukti, agar Ardi percaya kepada ku. Yang pasti, aku akan pulang ke rumah Diana. Aku tak ingin kembali ke rumah ibu mertuaku.


" Karina ... " Rudi memanggilku, dia berdiri di depan pintu seraya membawa bungkusan sterofom.


" Kamu mau ngapain kesini? " Aku menatap sinis kearah Rudi. Aku sangat membencinya, dan tak ingin melihat wajahnya.


" Aku ingin melihat anakku, " ucap Rudi yang berjalan menghampiri ku.


" Sebaiknya kita bercerai, Bang! " ucapku penuh penekanan.


Langkah Rudi terhenti, kala aku mengucap kata cerai.


" Karin, maafin abang ..., " ucap Rudi dengan nada lirih. Wajahnya tiba-tiba terlihat lesu, dan menyedihkan.


" Aku udah gak bisa kamu rayu, " ucapku terkekeh.

__ADS_1


" Aku lelah Bang, hidup dengan kesendirian. Walaupun aku hidup berdampingan denganmu, tapi kamu gak sekalipun pernah mengerti perasaanku. " Aku melihat Rudi dengan tatapan penuh emosi. Tanpa terasa air mata mulai menggenang di pelupuk mata ku.


" Karin, beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tahu kejadian kemarin di luar nalarku. Aku emosi saat kau berpelukan dengan Ardi. Sementara kau masih sah menjadi istri ku, " ucap Rudi membela diri


" Apa yang kau sebut istri untuk ku? " tanyaku


" Sementara aku hidup di kamar tanpa suami, tak sekalipun kau datang menghampiri ku, menemani ku di saat kehamilan ku. Kau hanya asyik bersama Silvia, tanpa memikirkan ku. Kamu egois, menyuruh ku tinggal di rumah ibumu, sementara kau asyik memadu kasih bersama Silvia. " Aku berteriak dengan isak tangis.


" Karin, aku minta maaf. Mulai saat ini aku akan menyewa rumah kontrakan, untuk kita berdua tinggal. " Rudi terus berusaha merayuku.


Rudi berjalan menghampiri ku, lalu memelukku perlahan.


" Aku butuh sandaran, Bang! Aku butuh seseorang yang bisa menyayangi ku dengan tulus, serta melindungi ku. Aku juga wanita, butuh sentuhan dari seorang suami. Tapi kamu tak pernah sekalipun datang memperlakukan sebagai istri. "


" Maafkan aku, aku akan berusaha menjadi suami yang baik. " Rudi mengelus punggung ku.


Entah ada angin apa, tiba-tiba sikap Rudi berubah lagi. Dia sepertinya tulus ingin berubah, dan memperbaiki rumah tangga bersama ku.


Rudi mengusap air mataku, yang sudah membasahi pipi . Lagi-lagi dia mengeluarkan kata-kata yang manis, agar hatiku dapat luluh.


" Sudah kamu kasih nama, anak kita? " tanya Rudi seraya mengusap pipi anakku.


***


Pov Rudi


Tiba-tiba aku di bangun kan oleh ibuku, padahal aku sedang asyik tidur di kamar.


" Rudi .... "


Terdengar suara ibu mengetuk pintu, kemudian Silvia membuka pintu. Dan mempersilakan ibu masuk ke dalam rumah.


" Rudi, mana? " tanya ibuku yang langsung datang ke kamar ku.


" Rudi ... " Ibu memanggil.


Seketika aku langsung terbangun, saat sedang tidur enak-enak nya.

__ADS_1


" Ada apa sih, Bu? " tanyaku sambil mengusap kedua mataku.


" Kamu harus ke rumah sakit, kalo gak nanti semua harta bapakmu akan di ambil oleh Ardi. " Ibu menyuruhku untuk segera pergi ke rumah sakit.


" Aku capek, dan tadi ibu tahukan kalau Karina tidak mau melihat ku, " ucapku beralasan.


" Rudi, kamu tahukan kalau tanah bapak yang di kota sudah di lirik oleh perusahaan? Dan Ardi sedang mengurus semua surat-suratnya. Bapak akan memberikan separuh hasil penjualannya padamu, jika kamu bisa mengambil anak Karina. Dan yang separuh lagi jatah untuk anak Ardi. Sedangkan Ardi belum menikah, dan gak tahu kapan akan menikah? Jangan sampai kamu kalah sama kakak tiri kamu, itu. " Ibu menghasutku.


Ardi bukanlah kakak kandung ku, dia anak bapakku dari istri yang pertama. Bapak akan memberikan hartanya padaku, jika aku mempunyai anak. Dan sayangnya aku harus mempunyai anak dari wanita, yang dulu sangat jelek. Tapi aku akui sekarang dia menjadi sangat cantik. Tetapi aku terus dilarang oleh Silvia, untuk mendekati Karina. Padahal aku ingin sekali menikmati tubuhnya, yang penuh perawatan salon.


Walaupun saat hamil tubuhnya menjadi gemuk, tapi dia masih terlihat cantik. Sayangnya wajah Silvia kini menjadi kusam, dan tak terurus di tambah lagi dia mandul.


Ibuku menyukai Silvia, karena dia mengaku mempunyai sawah 5 hektar di kampung. Tetapi sampai sekarang aku belum pernah di ajak ke kampung nya.


Dan Silvia harus berhenti dari pekerjaannya di butik. Padahal dulu gajinya sangat besar, dan aku tidak perlu lelah mencari pekerjaan. Silvia telah melakukan korupsi baju batik, makanya langsung di pecat dari kantornya.


Kini Silvia hanya bekerja di minimarket kecil dekat rumah. Aku memaksanya untuk bekerja, kalau Silvia tidak mau, aku mengancam akan kembali pada Karina.


Sementara Karina selalu memberiku uang setiap bulan, saat aku meminta untuk keperluan sehari-hari.


Padahal aku ingin sekali membawa Karina ke rumah ku, karena gajinya kini sangat besar. Tetapi tidak di perbolehkan oleh ibuku, karena dia tidak mau mempunyai menantu miskin.


Aku memang memanfaatkan ketampanan ku, untuk merayu para gadis. Aku malas bekerja, karena sedari kecil kedua orang tuaku selalu memenuhi kebutuhan ku.


Di saat mereka memaksa ku untuk bekerja, aku memutuskan untuk mencari wanita yang bisa memenuhi kebutuhan ku.


Aku sangat heran dengan sikap Ardi pada Karina. Kenapa di begitu perhatian sekali? Padahal baru beberapa hari mengenal Karina.


Saat Ardi memeluk Karina, hatiku terbakar api cemburu. Entah setan apa yang membuatku menyakiti Karina.


Aku begitu marah dan sangat cemburu, lalu memecut Karina dengan gesper. Terlihat ruam merah di paha dan kakinya. Tanpa aku sengaja, pecutan gesper mengenai perutnya. Hingga membuatnya kontraksi, lalu melahirkan.


Aku tidak mau datang ke rumah sakit, karena takut di tangkap polisi.


Pasti Karina akan mengadukan penyiksaan, yang telah aku lakukan pada pihak kepolisian.


Tetapi sampai ibuku datang, tak ada polisi yang datang ke rumah.

__ADS_1


Silakan like dan berikan komentar mu.


__ADS_2