
Pov Rudi
Setelah mengemasi barang-barang Karina, aku langsung menjalankan motor ku. Segera aku berbalik arah, menuju kantor untuk menjemput Abel.
Aku tak perduli jika nanti ibu menanyakanku, sepulang menjemput Abel, baru aku membuat alasan.
Saat ini aku hanya ingin bertemu dengan Abel, karena sudah bosan melihat kedua istriku. Yang satu bermuka lusuh, karena sudah jarang perawatan. Dan yang satu lagi sehabis melahirkan.
Semenjak menjadi pegawai minimarket, Silvia sudah jarang melakukan perawatan. Karena gajinya yang terbilang kecil, dan hanya bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan Karina walaupun mempunyai uang banyak, tetapi dia sangat pelit. Tak mau memberikan aku uang untuk kebutuhan ku.
Lebih baik aku akan mencari wanita baru, untuk menjamin hidup ku.
Sesampainya di kantor, aku melihat Abel sedang menunggu di halte bus. Sebelumnya aku sudah mengirimkan pesan untuk nya, agar menungguku di halte bus.
" Abel, " panggilku dan Abel pun menoleh ke arahku
" Abang, kok lama banget? " Abel merajuk, dan sikapnya membuatku menjadi gemas.
" Abang harus mengurus Karina, karena hari ini dia pulang dari rumah sakit, " ucap Rudi memberi alasan. " Ayo naik, " ajak Rudi sambil menarik tangan Abel
Abel yang ingin marah karena lama menunggu, akhirnya tersenyum saat Rudi menarik tangannya.
" Kita makan bakso, yuk! " ajak Rudi yang merayu Abel.
" Tak apalah modal dulu, kalau sudah kepincut nanti aku yang meminta uang padanya. " Seringai senyum terulas di sudut bibirnya.
Aku memakai uang ibuku, yang tadi di berikan untuk membeli ayam bakar.
Aku melajukan motor ku, dan membonceng Abel menuju warung bakso.
Aku mencari warung bakso yang terbilang murah. Karena uang yang ada di dalam dompet ku, hanya tersisa tujuh puluh ribu.
Sesampainya di warung bakso, aku langsung memarkirkan motor ku. Ku buka helm yang sedang ku pakai. Setelah itu membukakan helm Abel. Aku merasa seperti orang yang baru pacaran saja.
Aku dan Abel memasuki warung bakso, yang berukuran 5x 3 meter.
" Bang, kok warung bakso kayak gini? " protes Abel.
" Memangnya Abel gak suka? " tanyaku
" Iya seharusnya makan bakso yang bentuknya restoran. " Abel mengeluh padaku.
" Iya itu nanti, sekarang kita isi perut dulu dengan bakso pinggir jalan. " Sebisaku merayu Abel.
Akhirnya Abel menuruti keinginan ku, dia mau makan bersama di warung bakso pinggir jalan.
Segera aku pesan kan semangkuk bakso, dan mie ayam. Tidak lupa secangkir es teh manis, sedangkan Abel memesan es campur.
__ADS_1
Setelah pesanan kami tiba, aku dan Abel langsung menyantapnya.
" Bagaimana, enak? " tanyaku yang melihat ke arah Abel
" Baksonya kenyal, kebanyakan sagu. " Abel lagi-lagi mengeluh.
" Ish, kenapa wanita ini banyak sekali permintaan. " Aku bergumam dalam hati.
" Tapi mie ayamnya enak, kok! " kataku memuji.
Padahal aku merasakan mienya yang terlalu lembek, hanya saja aku tahan dan tak ingin aku muntahkan.
" Iya sudah, aku mau pulang saja. " Abel langsung berdiri dan berjalan menuju motor.
Aku pun langsung bergegas menuju pemilik warung bakso.
" Berapa, Bang? " tanyaku.
" Semua, lima puluh lima ribu, " jawabnya ketus, karena tadi dia sempat mendengar keluhan Abel yang menghina jualannya.
" Apa? Lima puluh lima ribu? " Aku terkejut mendengar totalan dari si penjual bakso. " Kok mahal amat? "
" Iya, kan pacar nya minta sebungkus lagi buat di bawa pulang. " Tukang bakso menunjukkan jarinya ke arah Abel. Terlihat Abel membawa bungkusan plastik berwarna hitam.
" Huft, tadi katanya baksonya gak enak! " Aku bergumam dalam hati.
" Sudah, siap? " tanyaku yang langsung menaiki motor.
" Sudah, " jawab Abel dengan muka malas.
Aku mengantarkan Abel menuju rumahnya. " Dimana rumahnya? " Aku menghentikan motor di pinggir jalan.
" Sedikit lagi, " ucap Abel yang menunjukkan jari telunjuk ke arah depan.
Aku tetap fokus menjalankan motor ku, setelah beberapa rumah aku lewati kemudian Abel menghentikan ku.
" Stop, Bang! " Abel menepuk pundakku.
Segera aku menghentikan laju motor ku, dan memarkirkan di pinggir jalan.
" Yang mana rumahmu? " tanyaku yang melihat deretan rumah minimalis.
" Aku ngekost, dan belum punya rumah. " Abel memberitahuku.
" Kost? "
" Iya, kedua orang tuaku di kampung. Dan aku hanya sendiri di kota ini. " Abel bercerita.
__ADS_1
Usai mengantarkan Abel, aku langsung melajukan motor ku kembali ke rumah. Seperti nya membuat alasan macet sungguh tidak masuk akal.
Segera ku tancapkan gas dengan kecepatan penuh. Agar orang rumah tidak ada yang curiga kepadaku, jika aku telah mengantarkan Abel pulang.
Sesampainya di rumah, aku melihat ada Ardi dan ibu yang duduk di depan teras.
Segera aku matikan mesin motor ku, dan memarkirkan nya.
" Rudi, kamu dari mana saja? Kok baru pulang. " Wajah ibuku terlihat sangat kesal, aku tahu pasti dia akan memarahiku.
" Anu, itu ... " Aku mencoba mencari alasan yang tepat. " Ban motor ku kempes, terpaksa aku harus menambalnya. "
" Cepat bantu Silvia untuk merapikan barangnya, karena dia akan pindah ke rumah ibu. " Ibuku langsung memerintahkan ku untuk mengemasi barang Silvia.
" Loh memang ada apa, Bu? " tanyaku heran.
" Karina, minta tinggal di sini. " Ibuku melirik ke arah Ardi, dia tidak ingin rencananya terbongkar dan terdengar oleh Ardi.
" Oh, " ucapku yang langsung masuk ke dalam rumah.
Aku menghampiri Silvia, yang sedang merapikan baju-bajunya.
" Bang, gimana sih? Masa aku harus tinggal sama ibu kamu? " Silvia merengek sambil melipat baju-bajunya.
" Sabar, kita ikuti saja rencana ibu. Kalau aku sudah mendapatkan harta warisan dari bapak, kita langsung beli rumah yang besar. " Aku merayu Silvia agar jangan terlalu banyak protes.
Mungkin ibu sengaja menyuruh Karina pindah ke rumahku, karena tidak ingin membebaniku untuk memikirkan bayar kontrakan.
Ibuku sungguh amat sayang kepada ku, sehingga aku harus menuruti perkataannya.
Setelah baju-bajunya Silvia sudah rapi, segera aku bawa ke rumah ibu.
" Lekas rapikan baju Karina, karena dia akan tinggal bersama mu. " Ibuku memberikan perintah yang tidak bisa di bantah.
Aku dan Silvia berjalan menuju rumah orang tuaku. Dan kami pun masuk ke dalam kamar Karina.
" Karin, " ucap ku memanggil Karina yang sedang menyusui anaknya.
" Iya, Bang! " Karina menoleh ke arahku.
" Silvia akan pindah kesini, dan abang akan merapikan barang-barang mu. " Aku mendekati Karina.
" Oh, ya sudah. Yang rapi ya Bang, masukin ke lemari nya. Jangan sampai berantakan, karena kondisi ku belum stabil untuk mengurus rumah. " Karina berucap namun tak memandangku, dia masih fokus menyusui anaknya.
" Iya, " ucapku yang langsung menuju lemari. Aku melihat jejeran pakaian yang mahal, dan bermerk.
Wajah Silvia seketika menjadi cemberut, kala melihat baju-baju mahal tertata rapi di lemari Karina.
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.