Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 28


__ADS_3

" Kamu kapan keluar dari rumah sakit? " tanya Diana.


" Aku ingin pulang hari ini, " pintaku pada Diana. " Aku harap kau bisa mengurus kepulangan ku."


" Baik, kau tunggu dulu. Aku mau keluar untuk menemui suamiku dan kedua anakku." Diana berucap lalu bergegas pergi meninggalkan kamar.


Hatiku pun lega, telah mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ku pendam. Aku merasa kasih sayang mertuaku hanya kepura-puraan. Mereka ingin mengambil anakku, dan menjauhkannya dariku.


Seperti yang Silvia dan Rudi katakan saat mereka berbicara di dapur.


Rudi hanya ingin mengambil anakku, karena syarat untuk mendapatkan warisan. Silvia yang awalnya mengaku hamil, justru di vonis mandul saat kudengar percakapan kedua mertuaku.


Flashback On


Pov Author


Ambar dan Parjono sedang di dalam kamar. Tak sengaja Karina melintas di kamarnya, karena saat itu tenggorokannya sangat haus.


" Pak, nanti kalau anaknya Karina lahir kita langsung ambil. Karena Silvia di vonis mandul oleh dokter. " Ambar berbisik pada Parjono, namun masih terdengar Karina


Karina mendekatkan tubuhnya di sebelah pintu, yang terbuka sedikit.


" Memangnya, Silvia benar-benar mandul? " tanya Parjono.


" Iya, kemarin ibu yang mengantarkan nya ke dokter. " Suara Ambar berbisik, namun masih terdengar di telinga Karina.


" Ibu tuh gak suka sama Karina, karena dia gak sederajat sama kita. "


" Lalu bagaimana dengan Silvia? " tanya Parjono.


" Katanya dia anak orang kaya, punya sawah di kampung lima hektar. Dan ibunya juragan di kampungnya. " Ambar berucap sangat serius.


' Apa? Silvia mengaku punya sawah di kampung? Dan ibunya juragan? Padahal kata Nanik ibunya sudah meninggal dan hanya seorang pekerja di butik bu Christina. ' Karina sungguh terkejut mendengar penuturan mertuanya. Mudah sekali mereka tertipu dengan Silvia.


" Ibu cuma ingin anak Rudi, setelah itu kita usir Karina. " Ambar berencana ingin mengusir Karina.


Karina merasa geram dengan perbincangan mertuanya.


" Caranya gimana, Bu? " tanya Parjono.


" Iya itu urusan ibu, " jawabnya santai.


Ternyata kedua mertua Karina memang belum berubah. Mereka masih tetap tidak merestui hubungan anaknya dengan Karina.


Mereka tidak tahu, jika saat ini Karina mempunyai banyak uang. Namun Karina tidak ingin menunjukkan kepada orang-orang, jika kini dirinya sudah sukses. Karina masih terlihat sederhana, hanya penampilan nya yang berubah menjadi lebih cantik.


Usai mendengarkan mereka berbicara, Karina langsung menuju ke arah dapur. Kemudian dia melihat ada Silvia dan Rudi yang sedang berbincang. Mereka sedang berbicara tentang Rudi, yang ingin mengambil hak asuh anak Karina. Kedua orang tuanya, akan memberikan hartanya jika Rudi memberikan cucu.

__ADS_1


Karena kedua orang tua Rudi terus di sindir oleh tetangganya. Mereka selalu menanyakan tentang cucu, padahal Rudi memiliki dua istri.


Seketika tubuh Karina terjatuh, mendengar pembicaraan mertua dan juga suaminya.


Betapa jahatnya hati mereka, yang memang tidak pernah menyukai Karina.


Rudi hanya memanfaatkan uang Karina, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rudi tidak pernah mau bekerja, karena memang dia sangat malas.


Terlalu di manja oleh kedua orangtuanya, hingga membuat Rudi malas bekerja.


Flashback off


Pov Karina


Aku masih menunggu kedatangan Diana, tak mungkin aku memejamkan kedua mataku begitu saja. Bisa-bisa anakku di ambil oleh Rudi dan mertuaku.


Namun kedua mataku tak bisa di ajak kompromi, tiba-tiba saja langsung terpejam. Seketika aku pun tertidur sangat pulas, karena masih lelah dengan proses persalinan kemarin.


Cukup lama kedua mataku terpejam, dan kurasakan badanku sakit semua.


Kedua mata ku sudah terbuka, segera aku melihat anakku yang berada di box bayi.


Sungguh terkejut saat melihat box yang sudah kosong.


" Kak, Kak Diana .... "


Aku teriak memanggil Diana, namun tak juga menghampiri ku. Segera aku menurunkan kakiku, dan berjalan menuju pintu untuk keluar.


Aku berteriak memanggil para perawat, lalu menuju meja administrasi.


" Ada apa, Bu? " tanya salah seorang perawat di hadapan ku


" Anakku hilang, " ucapku panik sambil memukul-mukul meja.


" Hilang, kok bisa? " ucap perawat yang kembali bertanya kepada ku.


" Apa kalian tidak melihat ada seseorang yang membawa bayiku? " Aku berucap sambil menangis. Apa yang aku takutkan benar terjadi, anakku hilang.


Diana, dimana dia? Kenapa tidak kembali lagi untuk menjagaku? Aku benar-benar tidak bisa mengandalkan nya.


Aku pun bolak-balik di depan meja perawat, menunggu kepastian tentang keadaan anakku.


Sakit di bagian jahitan ku tak lagi aku rasakan. Saat ini aku hanya menginginkan keberadaan anakku.


" Tolong kalian cek di kamera CCtv, " ucapku meminta tolong pada perawat yang berjaga.


" Sebentar ya, Bu. Kami akan ke bagian ruang keamanan." Perawat langsung berlari menuju lift.

__ADS_1


" Tenang ya, Bu. " Salah satu perawat sedang menenangkanku.


Aku sangat cemas, takut jika kedua orang tua Rudi menyembunyikan anakku.


Kenapa Ardi tak juga hadir di sini? Bukankah dia berjanji akan datang lagi?


Ah aku lupa, dia adalah bagian dari keluarga Rudi. Pastinya Ardi juga ikut andil, ingin mengambil anakku.


" Oh Tuhan, aku percaya begitu saja pada mereka? " Aku bergumam sambil memijat keningku.


Orang-orang yang melintas, memandang ku iba. Karena melihat ku masih mengenakan baju pasien rumah sakit.


Selang beberapa menit, perawat yang tadi pergi ke ruang keamanan pun datang.


Dia membawa rekaman Cctv, dan memutarnya di layar laptop.


" Ibu tadi tidur jam berapa? " tanyanya sambil menyalakan laptop.


" Jam sembilan lebih, coba di putar saat jam setengah sembilan." Aku langsung memerintahkan perawat.


" Baik, Bu! " jawabnya.


Kemudian mereka memutar lagi, kejadian satu jam yang lalu. Mereka hanya melihat ibu mertuaku masuk, namun tak juga keluar.


Lama aku melihat, ibu mertuaku juga tak kunjung keluar. Hingga perawat memastikan jika anakku tidak hilang.


" Bu, tidak ada yang keluar dari ruangan Ibu, " ucap perawat menegaskan.


" Tapi anakku tidak ada, " kataku dengan suara meninggi.


" Baik, Bu. Kami akan cek di kamar Anda! " Perawat mulai emosi saat menghadapi ku.


Aku pun di tuntun oleh perawat menuju kamarku. Perlahan ku langkahkan kedua kakiku. Karena jahitannya masih terasa ngilu, dibagian area sensitif ku.


Saat aku masuk ke dalam, aku melihat ibu mertuaku sedang tertidur di bangku.


" Itu anaknya, " ucap sang perawat yang mendekati box bayi.


Ternyata anakku ada di dalam box bayi, dan sedang tertidur.


" Ada apa? " Ambar tiba-tiba membuka kedua matanya. Dia merasa terganggu dengan suara aku dan perawat.


" Ibu Karina, mengaku anaknya hilang, " ucap perawat berbicara pada mertuaku.


" Karina, kamu masa gak melihat ibu di sini? " Ambar mendekatiku seraya mengelus lenganku.


" Ibu darimana saja? " ucapku menatap curiga ke arah ibu mertuaku.

__ADS_1


" Ibu dari tadi tidur, " ucap Ambar dengan wajah yang bisa ku tebak itu adalah kepura-puraan nya.


Silakan like dan komentar ya!


__ADS_2