
"Berhenti..." Teriak Karina hingga membangunkan Arjuna. Ardi langsung menghentikan laju mobilnya, lalu menepikannya ke pinggir jalan.
"Karin, suaramu membangunkan Arjuna," ujar Ardi. Karina tak menghiraukan ucapan Ardi, lalu Karina langsung membuka pintu mobil.
"Ma..." panggil Arjuna yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Mama ada urusan, kamu tetap di mobil ya, Sayang!" ucap Karina seraya mengelus pucuk kepala Arjuna.
"Karin, untuk apa kamu menghampiri wanita yang telah merebut suamimu?" tanya Ardi yang ingin mencegah Karina untuk menghampiri Silvia.
"Aku ingin mengetahui alasan Silvia pergi saat acara kematian bang Rudi," ujar Karina yang langsung keluar dari mobil. Kemudian Karina berjalan dengan langkah pelan, karena dia merasakan berat di bagian perutnya.
"Silvia..." Suara Karina memanggil Silvia yang sedang duduk di pinggir jembatan. Kemudian Silvia pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Karina!" Terlihat senyuman licik terulas di sudut bibir Silvia.
"Ternyata tanpa aku mencarinya , dia datang sendiri," gumam Silvia yang langsung berdiri.
Ardi hanya diam terpaku di dalam mobil, karena niat dia ingin menjauhkan Karina dari Silvia ternyata gagal. Karina telah sampai di hadapan Silvia, "Silvia, kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Karina dengan wajah bingung.
"Kamu hamil?" tanya Silvia seraya memperhatikan Karina dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Iya," jawab Karina.
"Dengan Ardi?" tanya Silvia dengan tatapan mengejek.
"Darimana kau tahu?" tanya Karina. "Kenapa kau bisa menikah dengan orang yang telah membuatmu menderita?" tanya Silvia sambil melirik ke arah mobil Ardi.
"Apa maksudmu?" tanya Karina dengan raut wajah kebingungan.
"Jadi kamu belum tahu tentang kebusukkan suami barumu?" tanya Silvia dengan tatapan mengejek.
"Silvia, kamu jangan terus memfitnah suamiku." Wajah Karina berubah menjadi emosi.
"Itu kenyataan, Karin. Dialah yang menjerumuskanku untuk menikahi Rudi," ujar Silvia.
"Silvia, aku semakin tidak mengerti dengan ucapanmu?" Bingung Karina
"Apa kamu belum tahu sama sekali tentang kebusukan suamimu?" tanya Silvia dengan suara mengejek.
"Sedari tadi kamu terus menghina bang Ardi. Apa kesalahan yang telah bang Ardi lakukan padamu?" tanya Karina dengan raut wajah penasaran.
"Suamimu, telah membayarku untuk mendekati Rudi. Karena dia mempunyai misi balas dendam dengan Rudi dan juga ibunya." Silvia menjelaskan pada Karina.
"Aku tidak percaya, karena tak mungkin orang sebaik bang Ardi akan tega berbuat itu padaku?" Ucap Karina tidak percaya dengan ucapan Silvia
"Kamu tanyakan saja sekarang, pastinya suami kamu tak akan mengelak," ucap Silvia seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
Akhirnya Karina memutuskan kembali berjalan ke mobil untuk menghampiri Ardi. Di susul oleh Silvia yang berjalan di belakang Karina Sesampainya di mobil, Karina langsung menundukkan kepalanya ke arah kaca jendela mobil lalu mengetuknya.
__ADS_1
"Bang!" panggil Karina yang sudah berdiri di sebelah pintu mobil. Kemudian Ardi langsung membuka kaca mobilnya. "Ada apa?" Ardi yang telah membuka kaca mobilnya.
"Bisa kamu keluar sebentar?" tanya Karina.
Kemudian Ardi pun keluar dari mobilnya, lalu berdiri di depan Karina
"Wah, bagus sekali kalau kamu akan mengakui semua perbuatanmu pada istrimu." Silvia berdiri di belakang Karina.
"Diam kau!" bentak Ardi seraya menatap tajam ke arah Silvia.
"Karin, aku mohon maafkan aku." Ardi berlutut di hadapan Karina. "Aku berjanji akan menjelaskan semuanya," ujar Ardi seraya menggenggam tangan Karina.
"Karin, sebaiknya kita bicarakan di tempat yang nyaman." Ardoy langsung berdiri lalu membuka pintu mobil untuk Karina.
Karina pun masuk ke dalam mobil, kemudian di susul oleh Ardi.
Dengan langkah cepat, Silvia menghampiri mobil. "Aku ikut!" ucap Silvia sambil mengetuk kaca jendela mobil.
"Jangan pernah mendekati kami!" hardik Ardi yang langsung mengunci mobilnya, agar Silvia tidak memaksa masuk ke dalam.
"Ardi, buka pintunya!" teriak Silvia seraya menggedor-gedor kaca jendela mobil.
"Bang, kenapa kamu tega sekali sama Silvia?" tanya Karina.
Ardi hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Karina, dan dia fokus menyetir mobilnya.
"Bang, kasihan Silvia." Karina tidak tega melihat Silvia yang masih terus mengejar mobil nya.
"Biarkan saja," sahut Ardi.
Mobil Ardi terus melaju dengan cepat, dan menjauhi Silvia.
"Kurang ajar," umpat Silvia dengan nafas terengah-engah berhenti di tengah-tengah jalan.
Banyak warga yang menatap iba ke arah Silvia, hingga ada seorang pengendara motor berhenti di hadapannya.
"Neng, ada apa?" tanya seorang laki-laki yang mengendarai sepeda motor.
Tanpa pikir panjang Silvia langsung menaiki motor, "Pak, tolong kejar mobil itu!" pinta Silvia yang sudah menaiki motor.
Kemudian laki-laki itu langsung menuruti perintah Silvia yang melajukan motornya ke arah mobil Ardi..
"Cepat, Pak! Jangan sampai ketinggalan." Silvia menepuk pundak laki-laki yang memboncengi nya.
"Iya, Neng!" ucap laki-laki itu. "Tapi saya bukan tukang ojek," ucap laki-laki itu.
"Iya, bagus. Jadi aku bisa minta tolong tanpa membayar," ucap Silvia dalam hatinya.
Ardi tidak menyadari jika mobilnya di ikuti oleh motor yang memboncengi Silvia.
__ADS_1
"Cepat, Pak! Jangan sampai ketinggalan, karena dia itu tambang emasku," ujar Silvia
"Tambang emas?" tanya laki-laki yang memboncengi Silvia.
"Iya, sudah. Nanti ongkos bapak akan aku bayar," ucap Silvia.
Motor yang memboncengi Silvia sudah hampir sampai mendekati mobil Ardi. Kemudian Silvia menyuruh laki-laki itu untuk membunyikan klaksonnya, "Pak, tolong bunyikan klakson. Agar mobil itu berhenti," perintah Silvia
Lalu laki-laki itu membunyikan klakson nya, "tet, tet, tet..."
Ardi menoleh ke arah sumber suara, lalu melihat ke sebelahnya.
"Silvia..." ucap Ardi terkejut saat melihat Silvia sedang mengejarnya.
"Bang, Silvia kenapa nekat banget?" tanya Karina seraya menoleh ke arah Silvia
"Ardi, berhenti!" teriak Silvia.
"Bang, sebaiknya berhenti. Nanti kalau terjadi kecelakaan, maka abang juga yang akan di salahkan." Karina memberi saran.
Kemudian Ardi menepikan mobilnya, lalu menghentikan laju kendaraannya. Terlihat Silvia berhenti di depan mobil Ardi.
Silvia langsung turun dari motor, dan menghampiri Ardi.
"Tok, tok, tok..." Silvia mengetuk kaca jendela mobil.
Ardi pun membuka kaca mobilnya, "ada apa?" tanya Ardi dengan wajah acuh.
"Minta uang untuk membayar ojek," pinta Silvia seraya menadahkan tangan nya.
"Apa, minta uang?" Cibir Ardi.
"Apa kau sudah jatuh miskin, hingga tak mampu memberikan aku uang untuk membayar ojek?" ejek Silvia
Kemudian Ardi langsung mengeluarkan dua lembar uang dengan nominal seratus ribu rupiah.
"Uangmu hanya segini?" ejek Silvia
"Mau diambil atau tidak?" hardik Ardi yang kembali memasukkan uangnya ke dalam dompet.
"Baiklah," ucap Silvia seraya mengambil uang dengan paksa dari tangan Ardi. Kemudian dia memberikan selembar uang seratus ribu pada laki-laki yang tadi memboncenginya.
"Loh, kok cuma selembar? Bukannya tadi Neng di kasih dua lembar?" protes laki-laki itu.
"Mau diambil gak?" tanya Silvia.
"Iya, iya." Laki-laki itu mengambil uang dengan pasrah dari tangan Silvia.
Like dan komentar ya
__ADS_1