Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 20


__ADS_3

***Jangan lupa ya guys, tinggal kan tap like dan berikan vote setelah membaca karyaku. dukungan kalian sungguh berarti.


Happy Reading***


Rudi telah siap memakai baju untuk interview.


Aku sangat senang sekali, melihat dia mau bekerja.


Usai kepergian Rudi, aku kembali ke rumah mertuaku. Di sana sudah ada Ardi, yang telah merapikan rumah. 


Aku lupa jika harus membersihkan rumah, karena terlalu sibuk dengan Rudi.


" Maaf Bang, jadi Abang yang nyapu." Kataku yang melewati Ardi.


" Nggak apa-apa, bukankah sudah kewajibanmu melayani Rudi?" Kata Ardi.


" Iya, Bang." Jawabku dengan perasaan tak enak hati.


" Kenapa bukan Rudi yang tinggal bersama mu saja? Kenapa harus dengan wanita lain?" Kata Ardi yang menyinggung ku


" Ceritanya panjang bang,  dan mungkin memang aku harus mengalah." Kataku sambil menundukkan kepala.


" Karin, sebaiknya hari ini kamu periksa kandungan ya!" Kata Ambar, yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Ambar baru saja tiba, usai berbelanja sayuran, karena ada dua kantong kresek yang berisi sayuran.


" Iya, Bu." Jawab ku mengiyakan.


" Rudi, sudah bangun belum?" Tanya Ambar padaku.


" Bang Rudi, sudah jalan interview." Kataku.


" Oh Rudi mau interview, Ibu doakan agar dia lekas mendapatkan pekerjaan." Kata ibu mertuaku yang membawa belanjaan nya masuk ke dalam dapur.


" Mau Karin bantu, bu?" Tanya ku yang kini berdiri di belakangnya.


" Lebih baik kamu mandi, lalu pergi ke bidan. Biar Ardi yang mengantarmu." Kata Ambar


" Biar aku saja sendiri Bu, nggak enak kalau diantar sama Bang Ardi." Kata ku menolak.


" Enggak apa-apa Rin, lagian hamil kamu udah gede gitu.  Memangnya kuat, jalan jauh?" Sambung Ardi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu dapur.


Aku jadi merasa tak enak hati, dengan sikap Ardi yang begitu perhatian padaku.


" Terima kasih, bang." Kataku sambil membersihkan sayur bayam.


Usai membantu ibu mertuaku, aku langsung bergegas untuk mandi. 

__ADS_1


Setelah memakai pakaian rapi, aku bergegas menuju ruang makan. Untuk ikut sarapan bersama kedua mertuaku, dan juga kakak iparku.


" Silvia pernah ngaku hamil, tapi kok sampai sekarang gak ada kabarnya?" Kata Ambar sambil menyuap sarapan nya.


" Mungkin belum di kasih kali, Bu." Kata Parjono bapak mertua ku.


" Atau mungkin, itu akal-akalan dia aja. Biar Rudi cepat-cepat menikahi dia?" Kata Ambar yang mulai curiga pada menantu keduanya.


" Sudah lah bu, kita sedang sarapan. Jangan bikin keributan, di meja makan." Sahut Ardi yang memotong pembicaraan sang ibu 


Usai menghabiskan sarapannya, Ardi langsung membawa piring ke wastafel.


" Bang, biar aku aja nanti yang mencuci piring." Kataku yang langsung mengambil piring di tangan Ardi 


" Enggak apa-apa, Karin. Aku sudah biasa mengerjakan sendiri." Kata Ardi yang langsung menbawa piring kotor ke wastafel.


" Sebaiknya, kamu rapi-rapi. Biar kita gak kesiangan periksa kehamilan nya." Saran Ardi.


" Iya udah, bang. Karin tinggal dulu." Kataku yang langsung berbalik dan meninggalkan Ardi sedang mencuci piring.


Sikap Ardi dan Rudi sangat jauh berbeda, walaupun wajah mereka hampir menyerupai.


Aku berjalan menuju kamar ku, untuk mengganti baju dan menyiapkan buku periksa kehamilan.


Ku pandangi wajah ku, yang kini semakin cantik. Rupanya uang, bisa merubah segalanya. Namun sayangnya, di saat aku menikmati keberhasilan ku, ibuku tak ada di sampingku.


" Karin, kamu sudah siap?" tanya Ardi yang sudah menunggu di ruang tamu.


" Sudah, Bang!" kataku yang langsung menghampiri Ardi.


Aku dan Ardi pamit kepada mertuaku untuk pergi ke bidan.


Ardi membuka pintu mobilnya, dan aku pun masuk ke dalam mobil.


" Terima kasih, Bang." kataku yang masuk ke dalam mobil.


Ardi pun masuk memutar ke arah pintu sebelah.


Dia menyalakan mobil nya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


" Karina, apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kalian?" tanya Ardi dengan pandangan mata yang fokus ke arah jalanan.


Ardi sangat penasaran dengan hubungan ku dengan adik bungsunya.


" Maaf Bang, aku juga bingung harus menceritakan darimana. Yang jelas aku harus memperbaiki hubungan ku dengan bang Rudi " kataku sambil menoleh ke arah Ardi.

__ADS_1


" Kenapa ada wanita itu?" tanya Ardi yang membicarakan soal Silvia


" Maksud abang, Silvia?" kataku yang kembali bertanya padanya.


" Iya, abang tidak suka melihat dia bersama Rudi." katanya.


" Dia wanita yang menggoda suamiku, dan aku harus terima karena memang dia lebih cantik." kataku merendah.


" Tapi kamu juga cantik, Karina. Apa kurangnya darimu?" kata Ardi


" Kau bekerja, dan mempunyai jabatan yang tinggi."


" Sekarang, yang abang lihat. Tapi dulu wajah ku sangat jelek sekali, Bang!" ucapku sembari mengingat kenangan masa lalu.


" Masa?" Ardi tidak percaya, jika dulu wajahku sangat jelek.


Lalu aku menunjukkan ponsel ku, yang merupakan keluaran terbaru. Dan menunjukkan wajah ku beberapa bulan yang lalu.


Ardi tidak percaya, melihat wajah ku yang dahulu.


" Abang sudah lihat? Pasti tak akan ada pria yang mau sama aku, kan?" tekanku sambil memejamkan kedua mata ku. Aku benci mengingat masa lalu.


" Bang Rudi sempat ingin menceraikan ku, namun sayang nya aku hamil dan dia menundanya. Hingga beberapa bulan dia mengurungkan niatnya untuk menceraikan ku, saat wajahku sudah cantik. "


" Dia yang awalnya hanya ingin memanfaatkan uangku, bersama Silvia." lirihku.


" Oh aku mengerti, " kata Ardi sambil menganggukkan kepalanya.


Kemudian mobil kami sudah sampai di pelataran klinik. Aku dan Ardi langsung menghentikan pembicaraan.


Aku langsung keluar dari mobil, dan berjalan menuju pintu masuk.


Aku telah memasuki klinik, dan sungguh terkejut aku dengan sikap kakak iparku. Ternyata dia masuk ke klinik, lalu menemaniku.


Aku merasa tak enak hati, padahal aku bukan mengandung anaknya. Namun, dia sangat perhatian padaku.


Ardi duduk di sebelahku, menunggu panggilan dari bagian pendaftaran.


" Apakah Rudi tidak pernah mengajakmu periksa ke dokter?" Tanya Ardi sambil menoleh ke arahku.


" Eh, enggak Bang." Jawabku terkejut, kenapa dia ingin tahu tentang kehidupanku? Batinku.


" Aku harap, Rudi dapat merubah sikapnya. Dan dapat berlaku adil kepadamu. " kata Ardi sambil mengulas senyum.


Selang beberapa menit, namaku di panggil. Saat aku bangun dan hendak berjalan menuju ruang dokter, Ardi pun ikut bangun menemaniku masuk ke dalam.

__ADS_1


Aku terkejut dengan sikap kakak iparku, yang begitu perhatian. Hingga semua orang mengira, dia adalah suamiku.


Silakan like dan berikan vote juga hadiah untuk karyaku.


__ADS_2