
Rudi mendengus kesal, karena Karina tak jadi memakan pecel ayam yang di bawanya.
Akhirnya Rudi memakan pecel ayam, dan mengambil sepiring nasi di magic com.
Usai melahap habis pecel ayam beserta nasi, dia langsung bergegas menuju kamar nya.
Rudi melihat ranjang tempat tidur yang sudah terisi penuh.
' Aku harus tidur dimana? ' Terlihat Rudi menggaruk-garukkan kepalanya.
Rudi pun berbaring di sebelah Karina, namun saat akan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba Karina mendorong nya hingga membuat Rudi terjatuh.
" Gubrak ... "
" Akh! " Rudi meringis kesakitan sembari memegang bokongnya.
" Karin, kenapa kamu mendorong abang? " pekik Rudi.
" Sempit, Bang! " Karina mengeluh sambil merenggangkan tubuhnya.
" Terus, abang harus tidur dimana? " tanya Rudi.
" Abang bisa tidur di luar, " ucap Karina manja. " Sementara, enggak apa-apa 'kan Bang? " Karina berucap dengan wajah memelas.
Rudi lagi-lagi hanya bisa mendengus kesal, karena ulah istri pertamanya. Kemudian Rudi berjalan keluar kamar, sembari membawa bantal.
' Ckckck ... ' batin Karina yang tertawa puas karena telah mengerjai suaminya.
Sedikitpun dalam hati Karina tak ada lagi rasa cinta. Yang ada hanyalah pembalasan dendamnya pada Rudi dan orang-orang yang telah membuatnya menderita.
Karina melihat wajah Arjuna, yang tertidur begitu lelap.
" Ibu, cucumu sangat lucu. Andai ibu ada di sini, pasti tidak sedetikpun ibu meninggalkan Arjuna. " Karina mengelus pipi anaknya.
Malam semakin larut, Karina mulai memejamkan kedua matanya.
****
Matahari telah bersinar, Rudi telah bersiap untuk bekerja.
" Karin, abang kerja dulu. Kalau butuh sesuatu, kamu bisa panggil Ardi. " Rudi berpesan pada Karina.
" Loh, memangnya Abang gak cemburu lagi? " Karina bertanya pada Rudi.
" Buat apa cemburu, toh dia abang aku. Dan gak mungkin berbuat macam-macam pada wanita yang habis melahirkan, " jawabnya santai.
" Oh, ya sudah. " Karina langsung bangun dari tidurnya. Dia berjalan mengikuti langkah Rudi. Tujuannya adalah ingin membuat Silvia cemburu.
Silvia sedang menyapu teras rumah, Karina ingin meledek madunya.
" Abang gak makan dulu? " Karina membetulkan jaket yang di kenakan Rudi seraya melirik ke arah Silvia.
" Abang sarapan di kantor aja, " jawab Rudi.
__ADS_1
" Oh iya, pulang nanti belikan aku martabak. " Karina berpesan pada Rudi, " ini uangnya. " Dia memberikan uang lima puluh ribu.
" Iya, nanti abang bawakan. " Rudi langsung mengenakan helmnya tanpa melirik Silvia.
" Bang ... " Karina memanggil Rudi.
" Ada apa? " jawab Rudi.
Karina pun mendekati Rudi, lalu mencium pipi dan tangannya.
" Hati-hati, ya! " pesan Karina sembari melirik ke arah Silvia.
Terlihat ke kesalan di wajah Silvia, akhirnya dia menghampiri Rudi.
" Bang, kamu sudah lupa sama aku? " Silvia merengek dengan wajah yang cemberut.
Karina pun pergi meninggalkan Silvia dan Rudi. Dia masuk ke dalam rumahnya lalu menutup pintu.
Karina tersenyum puas, karena melihat kekesalan di wajah Silvia. Kemudian dia langsung menghampiri anaknya, untuk memandikannya.
" Tok, tok, tok ... "
Terdengar suara pintu di ketuk, Karina berjalan ke arah pintu sambil menggendong anaknya. Lalu dia membuka pintu secara perlahan.
" Karin, maksud kamu apa? " Silvia datang menegur Karina, " mau meledekku, hah? " wajahnya terlihat emosi.
" Sil, jangan bersuara keras di depan anakku. Atau aku adukan pada ibu? " Karina mengancam Silvia.
" Kamu jangan manas-manasin aku, dengan bermanja-manja sama bang Rudi! " Suara Silvia terdengar pelan sambil menahan emosi yang sudah memuncak di dalam dada.
" Awas aja kamu Karin, akan aku balas semua ledekkan mu tadi pagi. " Silvia sangat geram lalu pergi meninggalkan Karina.
Karina langsung menutup pintu rumahnya, lalu menangis di belakang pintu.
" Bu, aku gak kuat. Aku mencoba tegar menghadapi semuanya. Tetapi aku hanya perempuan yang cengeng. Apa aku harus menyalahi takdirku? " Air mata Karina mulai membasahi pipinya.
Saat ini Karina sangat butuh sandaran untuk hatinya. Mempunyai dua saudara perempuan, namun tidak sekalipun memperdulikan keadaannya.
Bedah tak di ketahui keberadaannya, usai menjual rumah sang ibu. Sedangkan Diana, tidak lagi menengoknya sepulang dari rumah sakit. Karina tidak menyangka jika Diana tega meninggalkannya, hanya demi uang satu juta yang di berikan oleh ibu mertuanya.
Anaknya menangis, Karina lupa jika saat ini ada anaknya yang bisa menguatkannya.
" Arjuna, kita sama-sama berjuang, ya! " Karina mulai bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar.
Dia ingin menyiapkan bak untuk mandi anaknya.
Arjuna belumlah rewel, saat ini aktivitasnya hanya memejamkan kedua matanya. Apabila haus maka dia akan menangis.
Selagi memasak air untuk mandi anaknya, Karina menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.
Namun saat dia akan membuka kulkas, tiba-tiba ada suara ketukan pintu lagi.
" Tok, tok, tok ... "
__ADS_1
Karina berpikir, jika yang mengetuk pintu adalah Silvia. Segera dia bergegas menuju pintu, lalu membukanya. " Heh, ada apa lagi? "
Karina terkejut saat melihat seseorang di hadapannya.
" Bang Ardi, " ucap Karina dengan wajah yang menahan emosi.
" Kamu lagi marah sama siapa? " tanya Ardi sambil mengernyitkan keningnya.
" Eh bukan sama Abang, tadi Silvia datang ke sini sambil marah-marah, " ujar Karina.
" Oh, " Ardi langsung mengangkat kedua alisnya. " Ini sarapan buat kamu. " Ardi memberikan bungkusan plastik berwarna putih.
" Apaan nih, Bang? " Karina menerima bungkusan dari Ardi.
" Bubur ayam, " jawab Ardi.
" Pas banget, Karina lagi laper. " Karina langsung membawa bungkusan plastik ke dalam rumah.
" Bang, masuk. Tolong jagain Arjuna, Karin makan dulu. " Karina berteriak dari arah dapur.
Ardi langsung melepas sepatunya, dan masuk ke dalam kamar.
" Karin, biar abang yang mandikan Arjuna. " Ardi menghampiri Karina yang sedang makan bubur di dapur.
" Emang Abang, bisa? " Karina bertanya pada Ardi.
" Bisa, " jawabnya santai. " Mana air panasnya? " tanya Ardi.
" Tuh di panci kecil, baru banget mateng. " Karina menunjuk panci kecil yang berada di atas kompor.
Segera Ardi membawa panci kecil ke dalam kamar, lalu menuangnya ke dalam bak yang sudah berisi air dingin.
Dengan telaten, Ardi memandikan Arjuna. Di balurnya sabun ke tubuh Arjuna, lalu menggosoknya perlahan. Setelah itu menyiramnya dengan air hangat.
Usai menyelesaikan sarapannya, Karina bergegas menuju kamarnya.
" Ya ampun Bang, Karin jadi ngerepotin ya? " Karina langsung menghampiri Ardi.
" Abang senang kok, bisa bantuin kamu. " Ardi tersenyum sambil menggendong Arjuna. Ardi telah memakaikan baju untuk Arjuna.
" Andai aja bang Rudi kayak, Abang! " Karina bergumam membayangkan suaminya.
" Apa? " Ardi mendengar ucapan Karina.
" Eh enggak, Bang! " Karina tersipu malu saat Ardi mendengar gurauannya.
Usai merapikan Arjuna, Ardi langsung menggendongnya.
" Sebaiknya kamu mandi, biar anakmu segar saat mimik susu. " Ardi melirik ke arah Karina.
Karina langsung menunduk kan kepalanya, dia merasa malu dengan perhatian yang Ardi berikan.
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1