Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 41


__ADS_3

Akhirnya jenazah suamiku akan segera di semayamkan. Aku tak melihat keberadaan Ardi dan juga Silvia. Kemana mereka, di saat sedang banyak tamu yang datang.


" Karina ... " Aku mendengar suara Diana, dia datang bersama suaminya.


" Akhirnya kamu datang juga, " jawabku dengan nada ketus.


" Karina, kok kamu sinis gitu sih? " Diana mendekat ke arahku.


" Aku pikir, kamu gak anggap aku sodara lagi? " Aku memalingkan wajah ku.


" Karin, maafkan aku! Saat itu mertuaku sakit, dan suamiku sangat membutuhkan uang. Aku gak tega untuk meminjam uang darimu, padahal kamu sedang kesusahan juga, " ucap Diana memberikan alasan.


" Kamu seharusnya bicara saja sama aku, toh uangku banyak. Kenapa kamu harus meninggalkan aku? " Aku kesal saat mengingat kejadian tempo hari, ketika Diana meninggalkan ku di rumah sakit.


" Aku minta maaf, apa kamu gak mau maafin aku? " Wajah Diana tiba-tiba memelas, dan membuatku semakin memandang nya iba


" Baiklah, aku maafkan. " Aku menurunkan egoku. Karena walau bagaimanapun, Diana adalah saudara ku satu-satunya saat ini.


Entah aku tak tahu keberadaan Bedah, yang pasti dia tak terdengar lagi kabarnya.


Aku meminta tolong pada Diana, untuk menjaga Arjuna. Keyla dan Kesya pun kini sudah tertidur di kamarku. Malam ini mereka akan menginap di rumahku.


Kedua keponakan ku senang sekali, dengan kehadiran Arjuna. Mereka menemani Arjuna, dan menjaganya. Suami Diana pun kembali ke rumahnya, karena esok hari dia akan bekerja.


Aku segera menuju ke rumah mertuaku, dan merapikan perabotan piring yang mulai menggunung di dapur.


" Non, biar bibi aja! " Bi Atik datang menghampiri ku.


" Enggak apa-apa, BI! " Aku kembali meneruskan pekerjaan ku, mencuci piring.


" Bi, Silvia kemana? " Aku bertanya pada bi Atik.


" Silvia tadi siang langsung pergi, saat mendengar berita kematian den Rudi, " jawab bi Atik sambil membantuku membilas cucian piring.


" Ibu, tahu? " Aku bertanya pada bi Atik.


" Tahu, " jawab bi Atik.


" Kenapa tadi ibu, bilangnya gak tahu? " ucapku dalam hati.

__ADS_1


Aku pun terdiam, tak ingin lagi menanyakan hal-hal yang tidak berguna untuk ku.


Para rombongan pengantar jenazah telah tiba, aku pun menyambut mereka di depan rumah.


" Bu, Pak! Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian, " ucapku sambil berjalan mengikuti mereka yang akan duduk di sofa.


" Nanti saja, bapak masih kenyang." Bapak mertuaku langsung beranjak menuju kamar nya.


" Bu, Silvia kemana? " Aku memberanikan diri bertanya perihal Silvia.


" Silvia kabur, dia membawa semua perhiasan ibu. " Ambar menangis


" Maafkan ibu, " ucap ibu mertuaku yang langsung memelukku.


Aku terkejut, kenapa tiba-tiba dia menangis dan meminta maaf pada ku. Apakah ada rencana lain lagi, yang sedang dia pikirkan?


Aku tak boleh lengah, karena saat ini Rudi telah tiada. Dan aku tak ingin menyerahkan anakku pada kedua mertuaku, sekalipun mereka memberikan aku hartanya.


" Silvia telah membohongi ibu, dia mengambil semua perhiasan ibu saat tahu Rudi meninggal. " Tangis ibu mertuaku semakin menjadi. Entah apa yang dia tangisi, kepergian anaknya, atau kehilangan perhiasannya? Aku malas menanyakan hal itu, karena setelah ini, aku ingin tinggal di rumah Diana.


" Bang Ardi, kemana Bu? " Akhirnya aku menanyakan keberadaan Ardi. Karena aku sangat penasaran dengan Ardi, setelah insiden keributan tadi sore.


" Apa? " Aku terkejut mendengar jawaban dari ibu mertuaku. Ada rasa kehilangan saat mendengar Ardi telah kembali ke kota.


Pov Ardi


Aku tak menyangka, jika harus bertemu lagi dengan Ajeng. Lima tahun silam, aku sangat mencintai nya. Aku dan Ajeng kuliah di universitas yang sama.


Hubungan kami terbilang sangat romantis, karena hubungan kami terjalin sejak SMA kelas satu.


Lima tahun lalu, perekonomian ku masih tidak sebaik saat ini. Aku hanya seorang mahasiswa semester satu, yang bekerja sebagai tukang ojek online.


Aku membantu ibuku mencari uang, untuk biaya kuliah. Pekerjaan ibuku saat itu hanyalah seorang guru, dengan gaji di bawah UMR. Karena dia hanya seorang pegawai honorer, belum di angkat menjadi PNS.


Diam-diam Robi mendekati Ajeng, tanpa sepengetahuan ku. Dan Ajeng mulai main hari di belakang ku.


Hingga suatu hari, aku memutuskan untuk melamar Ajeng. Karena aku pikir tabungan ku untuk melamar nya sudah cukup.


Saat itu Ajeng menerima lamaran ku, dan menerima pinanganku. Namun di saat acara pernikahan ku akan di langsungkan, Ajeng tak kunjung datang ke KUA.

__ADS_1


Aku menjadi panik, dan khawatir jika takut terjadi kecelakaan pada mobil yang di kendarai.


Aku mencoba menghubungi nomor ponsel Ajeng, tak kunjung di jawab. Justru semakin banyak panggilan, malah ponsel nya di nonaktifkan oleh Ajeng.


Segera aku melajukan motor ku, menuju rumah Ajeng. Sesampainya di rumah Ajeng, aku hanya melihat keluarga besar nya. Mereka terlihat ketakutan, dan cemas.


Saat aku bertanya pada kedua orang tuanya, mereka menjawab jika Ajeng belum pulang sejak tadi malam. Ajeng memang belum mengambil cuti di tempat kerjanya. Karena memang dia baru saja masuk kerja di toko sepatu.


Segera aku lajukan motor ku menuju tempat kerjanya. Aku bertanya-tanya pada semua temannya yang berada di toko sepatu.


Mereka memberitahu jika Ajeng di jemput oleh seorang laki-laki, dan pulang menggunakan mobil sedan berwarna putih.


Aku sangat kecewa dengan Ajeng, kenapa dia tega mengkhianati ku. Dia adalah cinta pertama ku, dan aku berjanji untuk melamar nya jika tabungan ku sudah cukup.


Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan Karina. Dia yang tidak tahu apa-apa, harus terkena amarahku. Sebenarnya aku tidak ingin menjadi lelaki brengsek, yang berani menghardik seorang wanita.


Namun aku masih saja mengingat, kenangan menyakitkan bersama Ajeng. Dan hal itu membuatku menjadi emosi.


Aku pun sampai di depan rumahku, dan turun dari mobil dan mengetuk pintu gerbang.


Pak Ali nampak tertidur di pos satpam, lalu aku membangunkannya.


" Pak, " ucapku memanggil pak Ali.


Aku melihat tubuhnya mulai bergerak, dan menggeliat.


" Den, uda pulang? " Sontak dia terkejut, dengan kedatangan ku yang sudah larut malam.


" Iya, Pak! Aku kangen sama ibu, " ucapku.


" Bentar Bapak bukain, " ucapnya langsung berjalan menuju pintu gerbang, lalu membukanya


Aku pun masuk ke dalam mobil ku, lalu menjalankan nya setelah gerbang terbuka


Aku memarkirkan mobil ku di dalam garasi, yang jaraknya dua ratus meter dari rumahku.


Setelah mobil masuk ke dalam garasi, aku pun berjalan menuju rumahku yang berukuran dua ratus kali dua ratus meter. Aku mempunyai tanah seluas seribu meter. Dan aku menempati hanya berdua dengan ibuku bersama ketiga asisten rumah tangga ku.


Pekerjaan ku saat ini adalah pemilik perusahaan garmen, yang sudah terkenal di kota.

__ADS_1


__ADS_2