
Karina dan Ardi bergegas menuju mobil, kemudian Ardi langsung melajukannya ke arah rumah sakit.
" Bang, aku takut. " Karina terlihat cemas dan khawatir. Ada perasaan tak nyaman dalam hatinya. Dia tahu jika suaminya, bukanlah lelaki yang bertanggung jawab. Tetapi dalam lubuk hatinya, pernah ada rasa cinta untuk Rudi.
" Kita berdoa, semoga Rudi tidak kenapa-kenapa. " Ardi mencoba menenangkan Karina.
" Aku memang membencinya, Bang! Karena aku tahu dia bukanlah lelaki setia. Tapi dulu dia pernah merayuku, hingga membuat ku jatuh cinta kepadanya. Aku tahu, dia tidak pernah mencintai ku dengan tulus. Dia hanya ingin memanfaatkan ku saja. Dia yang hanya sekali saja menyentuh ku, hingga membuat aku hamil. Tapi sentuhan itu tak akan pernah aku lupakan. " Karina mengusap kedua matanya yang sudah basah.
" Bang Rudi memang tak pernah memberiku nafkah lahir dan batin. Tetapi aku sangat menghormati pernikahan kami, dan prinsip ku saat itu adalah tidak ingin bercerai darinya. Tetapi dia kekeh ingin menceraikanku, setelah menikahi Silvia. " Karina menceritakan masa lalunya.
" Aku tetap bertahan, walaupun dia terus menyakiti ku. Karena aku sudah mempunyai anak darinya. Aku tidak ingin anakku tidak mempunyai ayah. Aku terima semua perlakuan kasarnya kepadaku. Asal aku tidak bercerai dengannya. Sungguh bodoh diriku, mau saja bertahan dengan pria seperti Rudi. "
Ardi terus mendengarkan curhatan Karina, dia pun menjadi iba. Ingin rasanya Ardi memeluk Karina, karena telah tersakiti oleh Rudi.
" Kamu sabar, pasti Rudi akan berubah. Dia mungkin hanya khilaf, " ucap Ardi seraya memegang tangan Karina.
" Maaf, Bang! " Karina menepis tangan Ardi.
Ardi merasa tak enak, karena telah mengambil kesempatan di saat Karina sedang bersedih.
" Abang minta maaf, " ucap Ardi dengan mata yang masih fokus menatap ke arah jalanan.
Selang beberapa menit, mereka pun sampai di rumah sakit.
Karina segera turun menuju ruang gawat darurat.
Karina menuju ke bagian informasi, untuk menanyakan pasien yang mengalami kecelakaan.
" Sus, mau tanya. " Karina sudah berada di depan bagian informasi.
" Iya Bu, ada yang bisa kami bantu? " tanya perawat yang berjaga.
" Barusan saya mendapat telepon dari rumah sakit ini, apa ada pasien yang bernama Rudi Hartadi korban kecelakaan? " tanya Karina dengan nada suara yang cepat
" Iya benar, dan kini korban berada di ruang jenazah. " Perawat menjelaskan.
" Ruang jenazah? " Karina terkejut tak percaya. ' Maksud nya, suami saya meninggal? " Karina membulatkan kedua bola matanya.
" Benar, Bu. Saat korban di bawa ke rumah sakit, nyawanya memang sudah tidak tertolong, " jelas perawat.
Seketika tubuh Karina lemas, dia terjatuh namun Ardi langsung menangkapnya.
__ADS_1
" Karina, kamu kenapa? " Ardi baru saja datang usai memarkirkan mobilnya.
" Bang, bang Rudi meninggal. " Karina langsung menangis histeris. Dia pun memeluk Ardi dengan erat.
Cukup lama untuk menguatkan hatinya, Karina lekas sadar dan berjalan menuju ruang jenazah.
" Kamu yang kuat, " ucap Ardi sambil merangkul Karina.
" Iya, Bang! " Karina masih terus berurai air mata. Tak sanggup kehilangan orang yang di cintai sekaligus dia benci.
Pintu pun terbuka, petugas kamar jenazah langsung membawa Karina menuju tempat Rudi.
" Ini, Bu! " ucap petugas seraya membuka kain putih yang menutup seluruh tubuh Rudi.
Karina melihat wajah Rudi, dengan luka di kepala yang masih mengeluarkan darah.
" Bang, bang Rudi ... "
Karina mencoba memanggil Rudi, dan menggoyangkan tubuhnya.
" Karina, kamu harus mengikhlaskan Rudi, " ucap Ardi sambil menepuk pundak Karina.
" Bang, bangun. Arjuna butuh abang, dia belum melihat Abang seutuh nya, " ucap Karina sambil menangis histeris.
Anaknya butuh sosok ayah, dan Karina belum siap kehilangan Rudi.
" Maaf, apakah ibu mengenal perempuan ini? " penjaga kamar jenazah menghampiri Karina.
" Siapa? " Karina langsung mendekati brankar yang terdapat jenazah wanita.
Petugas langsung membuka kain putih, yang menutupi wajahnya.
" Abel? " Karina terkejut melihat jenazah Abel ada di sebelah Rudi.
" Maaf Pak, apakah mereka meninggal bersamaan? " tanya Karina sambil meratapi jenazah Abel.
" Petugas kami, menemukan mereka tergeletak di lajur busway arah terminal, " kata petugas rumah sakit menjelaskan.
" Terminal? " Karina mulai curiga dengan peristiwa tragis yang dialami oleh suaminya.
' Darimana bang Rudi? Apakah ada tugas untuk nya mengantar barang ke arah terminal?' Karina bermonolog dalam hati.
__ADS_1
' Lalu bagaimana mereka bisa mengalami kecelakaan dalam waktu bersamaan? ' Karina mencoba mencari penjelasan.
" Maksudnya gimana, Pak? " tanya Karina yang penasaran.
" Suami ibu dan perempuan ini, dikabarkan sedang berboncengan. " Petugas menjelaskan.
" Apa? Berboncengan? " Karina sangat terkejut mendengar penuturan petugas rumah sakit.
Pov Ardi
Aku sungguh senang saat melihat mayat Rudi. Pastinya Ambar akan bersedih, karena kehilangan anak kesayangan nya. Anak yang selalu di manja, dan dilimpahi materi. Hingga membuat nya tidak pernah menghargai, ketulusan cinta seorang wanita.
Aku tak perlu repot-repot menyingkirkan Rudi dari kehidupan ku.
Jahat, aku memang jahat telah menari di atas penderitaan orang lain. Tetapi perbuatan mereka lebih jahat dari perasaan senangku saat ini.
Dulu mereka dengan tega menusuk ibuku dari belakang.
Ambar adalah pembantu dari bapak dan ibuku. Diam-diam dia menjebak bapakku, dengan memberikan obat perangsang, saat ibuku sedang pergi keluar kota, karena ada kunjungan ziarah di pengajiannya.
Hal itu membuat Ambar menjadi hamil, dan membuat hati ibuku terluka. Sungguh amat sakit, saat bapakku termakan fitnahan nya.
Ambar memfitnah ibuku, dengan cara licik. Dia menuduh ibuku, telah memberinya obat penggugur kandungan. Alasannya adalah kalau ibuku tidak suka di madu, dan mengancam akan menghabisi nyawa Ambar.
Lalu bapak langsung mengirim ibu dan aku keluar kota. Awal kami hidup di kota, bapak ku sering datang menjenguk. Tetapi setelah kelahiran Rudi, dia melupakan kami. Dan datang menemui ibuku langsung mengucapkan talak padanya.
Hasutan apa yang membuat bapak membenci ibu? Hal itu yang ingin aku selidiki, karena dulu bapak dan ibu terlihat saling mencintai.
Kulihat Karina sedang bersedih, namun saat melihat mayat wanita di sebelah nya, wajahnya seketika menjadi muram dan sulit di artikan.
Seperti nya ada skandal antara Rudi dan mayat wanita yang terbaring di sebelah mayat Rudi.
" Inilah kesempatan ku, untuk meluluhkan hati Karina. Karena aku sudah jatuh hati padanya, sejak pandangan pertama. Apalagi saat aku tahu, dia hanya di sentuh sekali oleh Rudi. "
" Karin, sebaiknya kita mengurus administrasi untuk memulangkan Rudi. " Aku mendekati Karina.
" Iya, Bang! " jawabnya dengan nada suara lemah.
Aku dan Karina keluar dari kamar jenazah, dan berjalan menuju ruang administrasi.
Terlihat Karina masih syok dengan kematian Rudi yang begitu tragis.
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu