
Selang beberapa menit, datanglah mertuaku. Seperti nya dia sangat terburu-buru sekali, ingin melihat keadaan anakku.
Apa mungkin yang di ceritakan Rudi adalah benar? Mereka hanya menginginkan anakku? Lalu merebut anakku dari aku?
" Karina, kakak keluar dulu. Karena kata perawat tidak boleh banyak orang yang masuk ke dalam ruang rawat inap, " ucap Diana yang langsung bergegas meninggalkan ku.
Kemudian ibu mertuaku pun masuk ke dalam. Dia membawakan makanan, sembari mencari cucunya yaitu anakku.
" Karin, dimana anakmu? " tanya Ambar seraya melihat ke arah box bayi.
" Sedang di imunisasi, barusan di bawa oleh perawat, " jawabku.
Kulihat ada kegelisahan di raut wajahnya yang kian menua.
" Bu, kenapa? " Akupun basa-basi, menanyakan tentang keadaan nya.
" Oh enggak apa-apa, " jawabnya langsung tersenyum seperti terpaksa.
" Bang Rudi, belum juga datang? " tanyaku
" Dia sudah mulai kerja, dan tadi pagi sudah berangkat, " jawab Ambar.
" Apa? Kenapa dia gak mau datang ke sini? " Aku mulai terbawa emosi dengan jawaban dari mertuaku.
" Ibu juga gak tahu, karena tadi pagi dia gak bilang apa-apa, " jawab Ambar dengan wajah yang terlihat sedang merencanakan sesuatu.
" Karin, kok bayi kamu lama banget? " ucapnya gelisah.
" Memang nya ada apa, Bu? " tanyaku yang curiga dengan gerak-gerik nya
Mertuaku nampak tak tenang, dia seperti sedang mengincar sesuatu.
" Bang Ardi sudah pulang, Bu? " tanyaku.
" Sudah, dia gak sempat pamit sama kamu. Karena tadi ada kakakmu. "
Kemudian perawat datang, dengan membawa buah hatiku.
" Bu, anaknya haus. Tolong di beri ASI. " Perawat telah datang membawa anakku.
Kemudian aku langsung menggendong anakku, dan memberinya ASI.
__ADS_1
Walaupun anakku lahir prematur, tetapi kondisi nya sangat sehat. Bayiku setiap jam harus di kontrol oleh perawat, karena lahir sebelum waktunya.
" Karina, apakah boleh ibu gendong? " tanya Ambar ragu.
Aku merasa mertuaku sedang mengincar anakku. Aku takut, jika dia akan mengambil anakku seperti yang di katakan Rudi tempo hari.
" Sebentar, dia sedang mimik susu, " jawabku mengalihkan pembicaraan.
Mungkin benar kata orang, jika bayi laki-laki akan kuat untuk menghisap ASI. Dan hal itu kurasakan, hingga aku merasa ada yang lecet di area putingku.
Aku masih bingung ingin memberikan nama pada anakku. Sedangkan suamiku saja, enggan datang ke rumah sakit.
" Ibu mau keluar dulu, " ucap Ambar yang mungkin sudah merasa bosan, karena lama menunggu aku yang sedang menyusui.
Padahal anakku sudah tidur, dan aku hanya berpura-pura untuk menyusuinya.
Di luar ku dengar ada suara ribut-ribut, seperti nya sangat ku kenal.
' Suara kak Diana? Ada apa dengan dia? ' batinku bertanya.
" Heh, dasar suami gak tanggung jawab. Istri melahirkan bukan di urusin malah di serahin ke orang lain. Makanya kalau gak mampu punya istri dua mending gak usah nikah sekalian. " Terdengar lantang suara Diana sedang memaki seseorang.
" Seperti nya ada Rudi? " aku penasaran dengan siapa Diana berbicara. Suaranya sangat terdengar jelas sampai ke dalam ruangan.
Lanjut kudengar suara Rudi, dia datang tapi sudah membuat keributan.
" Adikmu tuh selingkuh, jangan-jangan anak yang di dalam kandungan nya bukanlah anakku." Terdengar suara Rudi yang menuduhku berselingkuh.
Seketika aku pun emosi, kala Rudi menuduhku berselingkuh dan tidak mengakui anaknya.
Aku pun bangkit dari tempat tidur, dan berjalan perlahan menghampiri pintu. Aku ingin mengetahui tentang kejadian yang aku dengar.
Masih terasa sakit bagian sensitif ku, karena bekas jahitan luar dalam.
Namun karena perasaan ku yang sudah emosi, mendengar tuduhan Rudi. Maka aku menguatkan langkah ku, untuk menjawab semua tuduhan Rudi
Segera aku membuka pintu, dan kulihat sudah ada beberapa orang berkerumun. Petugas keamanan mencoba membawa Diana dan Rudi.
" Ada apa? " tanyaku yang ingin melerai mereka.
" Maaf Bu, Pak, sebaiknya kalian selesai kan masalah di luar rumah sakit. Kami mohon jangan buat keributan di sini. " Petugas keamanan mencoba melerai mereka berdua.
__ADS_1
" Lepaskan, aku mau menjaga adikku. " Diana mencoba melepaskan tangan satpam rumah sakit.
" Maaf Bu, jangan buat keributan di sini, " pinta satpam.
" Dia, Kakak saya. Mohon di lepaskan, biar dia menjaga saya di dalam kamar. " Aku pun bersuara.
" Hey, saya juga suaminya. Mau nengokin anak dan istri. " Rudi mencoba membela diri.
" Sebaiknya bawa dia keluar, saya gak mau ngeliat dia, Pak! " Aku meminta pada satpam agar membawa Rudi pergi dari kamarku.
" Hey, durhaka kamu sama suami, " hardik Rudi.
Namun aku tak menghiraukan, segera ku tarik tangan Diana untuk masuk ke dalam kamar.
Dan Ambar hanya terdiam, melihat sikap Diana yang begitu tegas pada putranya.
" Kakak puas, sudah memaki buaya darat itu! " Diana masih saja kesal dengan sikap Rudi.
Aku kembali menaiki tempat tidur, dan merebahkan kembali tubuh ku. Rasa jahitannya masih ngilu, karena tadi aku jalan dengan tergesa-gesa.
" Kenapa Rudi mengira kau selingkuh? " Diana mengajukan sebuah pertanyaan, " apa yang sebenarnya terjadi? " sambungnya yang begitu penasaran dengan ocehan Rudi tentang aku.
" Kemarin dia melihatku berpelukan dengan kakaknya. " Diana terkejut mendengar pengakuan ku.
" Lantas? " Diana memotong perkataan ku.
" Dia hanya salah paham, dan bukan seperti dugaan nya, " ucapku lesu. " Kemarin aku berkemas, dan pamit pada Ardi. Dia melarangku untuk pergi dari rumah ibunya. Aku bilang padanya, sudah tidak kuat hidup bersama Rudi. Ardi langsung memeluk ku, saat aku menangis. Kemudian Rudi melihat aku dan Ardi sedang berpelukan. Rudi langsung menarikku dan membawaku ke dalam kamar. Dia langsung membuka ikat pinggang, dan memecutku hingga membuat perutku mengalami kontraksi." Aku terpaksa bercerita pada Diana. Karena aku sudah tak sanggup lagi menahan penderitaan ku sendirian.
Aku sudah lelah hidup sendiri, tanpa kehadiran ibu di sisiku. Sewaktu ibuku masih hidup, aku selalu berbagi keluh kesah dengannya.
Namun setelah kepergian ibuku, masalah yang ku alami semakin berat. Hingga aku tak bisa mengeluarkan keluh kesah ku seperti bersama ibu.
Saat ini aku tak perduli, jika Rudi harus di pidanakan. Karena sebagai suami dia tak pernah sekalipun melakukan kewajibannya.
Aku yang bodoh telah kembali padanya, dan mudah termakan bujuk rayunya kemarin. Nyatanya dia memang tak pernah mencintai ku.
Perhatian yang di berikan kemarin hanya kepura-puraan. Semua yang ku dengar di dapur mungkin seratus persen adalah benar.
Mereka hanya menginginkan anakku, buktinya mertuaku sangat penasaran ingin menggendong anakku.
Aku tidak mau anakku di ambil oleh mereka, maka aku meminta Diana untuk menjaga anakku.
__ADS_1
" Kak, aku minta kau menjagaku hingga keluar dari rumah sakit. Seperti nya mereka hanya ingin mengambil anakku saja." Aku berpesan pada Diana.
Silakan like dan komentar.