
" Bang, apa sebaiknya abang di luar aja," kataku sambil menahan langkah Ardi.
" Aku ingin tahu, perkembangan janin anakmu," kata Ardi yang langsung menuntun tanganku masuk ke dalam ruang dokter.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, melihat sikap Ardi.
Membayangkan jika Rudi yang kini berada di samping ku. Akan terasa bahagia, jika memang itu terjadi. Tapi kenyataannya, bukanlah Rudi melainkan Ardi yang kini mengantarkan ku untuk periksa kehamilan.
" Selamat pagi menjelang siang," sapa dokter cantik yang berada di hadapanku.
" Pagi, Bu." Aku membalas senyumnya.
" Bu Karina, bersama dengan suaminya?" tanya Emilia. Namanya tertulis di papan nama, yang terletak di atas meja.
" Bukan, dia abang iparku." Jawabku sambil melirik ke arah Ardi. Tak ada penolakan dari wajah Ardi, saat dokter Emilia menyebutnya sebagai suamiku.
" Oh, duduklah." Emilia mempersilakan aku dan Ardi untuk duduk.
" Terima kasih." Jawabku dan sudah duduk di bangku.
" Maaf, aku pikir anda suaminya." Jawab dokter Emilia sambil tersenyum ke arah Ardi.
" Enggak apa-apa, dok." Jawab Ardi.
" Baiklah, aku melanjutkan pemeriksaan."
" Apa ada keluhan, Bu Karina?" Tanya dokter Emilia yang beralih pandangan ke arahku.
" Ada, dok!" jawabku karena aku merasakan ada yang sakit saat akan berjalan.
" Bagian mana?" Tanyanya.
" Bawah perut, saat akan berjalan terasa sakit." Kataku mengadu.
" Itu karena, kepala bayi akan memasuki jalan lahir. Jadi akan ada rasa tidak enak di bagian bawah perut. Rasa sakit seperti wajar, pada ibu hamil yang akan melewati proses persalinan."
" Jika terjadi pendarahan, maka kami akan melakukan tindakan lebih lanjut."
" Jika tidak ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya Bu Karina harus banyak-banyak beristirahat. Dan jangan stres saat menjelang kelahiran. Semua rasa sakit yang anda alami, pasti akan di rasakan setiap wanita."
" Anda tidak perlu cemas, dan rajin minum vitamin dan perbanyak air putih. Satu lagi, olahraga ringan, membantu anda untuk melakukan persalinan normal." Kata dokter Emilia memberitahuku.
' Seandainya masih ada ibu, pasti dialah yang paling mencemaskan ku saat aku mengeluhkan sakit di bagian perutku.'
Batinku sambil mengingat almarhum ibuku.
" Baik, dok. Aku akan mengikuti saranmu." jawabku.
" Silakan Bu Karina, naik ke atas tempat tidur. Untuk saya lakukan pemeriksaan selanjutnya." kata Emilia menyuruhku untuk naik ke atas tempat tidur.
Aku pun menurut, dan langsung berjalan menuju tempat tidur.
Dokter Emilia langsung menutup korden, agar auratku tidak terlihat oleh Ardi.
__ADS_1
Dokter Emilia menyibakkan bajuku, dan terlihat perutku yang sudah membesar.
Dia mulai memeriksa bagian perutku, menggunakan stetoskop yang terpasang di telinganya.
Saat alat dokter untuk mendengar denyut nadi itu menempel di perutku, terlihat gerakan memberontak. Sebuah sundulan, yang tak bisa ku bayangkan. Entah itu bagian kepala, kaki atau tangan.
Yang pasti, hatiku terasa sangat bahagia. Saat dokter Emilia berteriak kecil.
" Eh ...."
Ucapnya terkejut, kemudian dia kembali memeriksa perutku.
" Bayinya sangat aktif, dan tidak mau di pegang sepertinya." Canda dokter Emilia sambil tersenyum.
Aku pun tersenyum bahagia, saat mengetahui aktifnya pergerakan bayiku.
Usai memeriksa keadaan janin yang berada di dalam perut ku, dokter Emilia langsung menuliskan resep vitamin.
" Jangan lupa, vitaminnya di minum saat malam hari menjelang tidur. "
" Dan harus banyak beristirahat, jangan sampai kelelahan. Karena anda akan melakukan proses persalinan. Jadi harus mempersiapkan tenaga, dan satu lagi, makan makanan bergizi." pesan dokter Emilia.
" Baik, dok!" jawabku yang langsung berdiri, dan pamit padanya.
" Pak." panggil dokter Emilia pada Ardi.
" Iya ...."
Ardi langsung menatap dokter Emilia, yang berwajah cantik bak bidadari.
" Baik, dok. Terima kasih atas sarannya, sampai jumpa." pamit Ardi seraya menjabat tangan dokter Emilia.
Aku dan Ardi bergegas meninggalkan ruangan dokter. Dia menuntun tangan ku, dan hal itu membuatku sangat terkejut.
" Bang, ini terlalu berlebihan." kataku yang langsung melepaskan tangan Ardi.
" Maaf, " Ardi berkata lirih.
Kami berjalan beriringan, keluar dari klinik. Ardi membukakan pintu mobil
Aku pun masuk ke dalam, dan duduk di bangku depan.
" Terima kasih, " ucapku sambil tersenyum
Ardi membalas senyuman ku, lalu menutup pintu mobilnya.
Kemudian Ardi berjalan memutar, dan masuk ke pintu sebelah. Dia pun sudah duduk di sebelah ku. Aku merasa canggung dengan kebaikan Ardi. Dia melajukan mobilnya, meninggalkan klinik.
Dalam perjalanan, aku memberanikan diri bertanya padanya.
" Bang, sudah punya pacar?" tanyaku ragu, dan merasa tak enak hati.
" Belum," jawabnya santai.
__ADS_1
Aku mengernyitkan kening ku, heran dengan jawabannya.
Kenapa laki-laki setampan Ardi, belum memiliki kekasih?
Batinku terus bertanya, sambil sesekali meliriknya.
" Aku pernah patah hati, " jawabnya lirih," dan itu membuatku trauma, jika ada wanita yang ingin mendekati ku."
Apa? Orang setampan dia pernah di sakiti oleh wanita? Sungguh amat bodoh wanita itu, telah menyia-nyiakan pria baik seperti Ardi. Atau aku yang bodoh, mau saja tertipu daya oleh Rudi.
Aku terus merutuki kebodohan ku, berharap Rudi akan bersikap baik dan perhatian seperti Ardi.
" Kenapa, kamu melamun?" Ardi menegurku.
" Aku hanya aneh saja, kenapa pria tampan seperti Abang kok, bisa di sakitin sama wanita?"
" Patah hati, itu bukan untuk orang tampan atau jelek, " ucap Ardi, " itu urusan hati." sambung Ardi.
" Abang laper, kita makan dulu, ya!" Ardi mengajakku makan siang.
Akupun menurut, " Iya udah, Bang."
Ardi melajukan mobilnya, menuju restoran padang.
Itu adalah permintaan ku, entah kenapa di kehamilan ku menjelang persalinan, aku sangat suka makan nasi Padang.
" Kamu mau makan, apa?" tanya Ardi yang sudah duduk di hadapan ku.
" Biasanya aku suka tunjang, Bang!" jawabku
Ardi memesankan pesanan ku, dia berjalan menuju pelayan yang berdiri di depan etalase.
Aku hanya berpikir, kenapa Rudi tak pernah makan siang denganku? Ah besok, aku akan meminta Rudi untuk makan di luar bersama ku. Aku tidak perduli dengan Silvia, karena aku hanya ingin makan berdua dengan suamiku.
Saat aku menolehkan kepala ku, aku melihat Rudi bersama dengan seorang wanita. Mereka hendak masuk ke dalam restoran padang.
" Bang Rudi?" Aku terperanjat saat melihat Rudi bersama Abel.
" Abel, " ucapku lirih
Rudi telah duduk di kursi yang paling pojok, terlihat sangat raut ceria di wajahnya.
Seketika darahku mendidih, bagaimana bisa dia begitu akrab dengan Abel?
Sudah cukup dia menyakitiku, dengan menikahi Silvia. Lalu kini dia sedang berdua dengan Abel?
Aku langsung bangun dan berjalan menghampiri Rudi.
" Karin, " Ardi memanggilku, namun tak ku hiraukan. Karena aku sedang tersulut emosi, melihat kemesraan Abel dan Rudi.
" Bang, " Aku memanggil Rudi yang sedang tertawa di hadapan Abel.
" Ka-karin ...." Rudi gelagapan saat bertemu pandang denganku.
__ADS_1
Silakan like dan berikan bunga sekebon untuk karyaku.