
Empat bulan sudah Karina menjalani kehamilan yang membuatnya, terus terbaring di atas tempat tidur.
Kini dia sudah bisa mengurus diri sendiri, dan juga Arjuna. Semua keperluan Ardi, bisa di handle oleh Karina.
"Bang, kamu mau makan apa?" tanya Karina yang sedang memilih sayuran di dalam kulkas
"Terserah kamu aja, karena semua masakanmu enak bagiku." Ardi menjawab pertanyaan Karina.
"Kalau sayur kangkung, gimana?" tanya Karina.
"Apa saja, yang penting aku bisa menikmati masakan mu." Ardi kembali menjawab.
"Jangan deh, nanti kamu akan ngantuk terus lagi di kantor." Karina kembali berpikir. " Gimana kalau, sayur sop?" tanya Karina mengulang.
"Apapun yang kamu masak pasti aku makan," jawab Ardi masih dalam level kesabaran.
"Eh, ribet lebih baik nasi goreng aja, ya?" tanya Karina
Ardi hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Sungguh tak mengerti dengan sifat perempuan di hadapannya.
Menurut artikel yang Ardi baca, wanita hamil sangat sensitif. Maka bila sedang menghadapi nya, jangan membuat jawaban yang singkat. Tetapi harus padat dan jelas. Satu lagi, harus sabar menghadapi mood wanita yang sedang hamil. Karena akan membuatnya menjadi stress.
"Apa aja, Sayang!" jawab Ardi dengan senyum yang di paksakan.
"Oh, aku bikin telor ceplok aja ya! Lagi malas ngulek," Karina langsung mengambil wajan, dan juga telur di dalam kulkas.
Ardi hanya bisa memejamkan kedua matanya, menahan diri agar tidak terbawa emosi.
__ADS_1
Sepiring nasi putih dan telor ceplok sudah tersaji di atas meja
"Sayang, ayo kita makan." Karina mengajak Arjuna makan bersamanya.
"Kamu gak makan, Sayang?" tanya Ardi.
"Aku suapin Arjuna dulu, baru makan." Karina mulai meniup nasi panas bercampur telor mata sapi.
Ardi pun tidak ingin berbicara lagi, dia langsung terdiam. Karena akan berakibat fatal jika dia salah berbicara.
Usai menyelesaikan sarapannya, Ardi langsung merapikan meja makan lalu mencuci piring.
"Bang, biar aku aja!" Karina mencegah Ardi mencuci piring.
"Enggak apa-apa, toh cuma dua piring." Ardi menjawab, karena dia sudah terbiasa mencuci piring saat asisten rumah tangga nya belum datang
"Arjun, papa jalan dulu, ya!" Ardi mencium pipi Arjuna yang kini di gendong oleh Karina.
"Da-da, pa-pa." Arjuna mulai bisa berbicara.
Kemudian Ardi mencium kening Karina lalu pamit kepadanya, "Sayang, aku jalan dulu. Jangan terlalu lelah, ya!" Ardi berpesan.
"Iya," jawab Karina.
Ardi pun berjalan menuju mobilnya, "Da-da..." Ardi melambaikan tangan pada Arjuna dan Karina.
Ardi pun pergi meninggalkan rumah, sementara Karina sudah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Karina..." Suara Diana tiba-tiba terdengar seperti orang panik.
"Ada apa, Kak?" tanya Karina.
"Kak Bedah, katanya berantem sama pasien di rumah sakit." Diana melaporkan kepada Karina tentang Bedah.
"Apa!" Karina terkejut mendengar laporan dari Diana.
"Kita disuruh ke sana sama pihak rumah sakit," kata Diana.
"Iya udah, pegangin Arjuna. Aku mau ganti baju dulu." Karina memberikan Arjuna pada Diana.
Kemudian dia segera menuju kamarnya untuk mengganti baju.
"Aduh, Kak Bedah. Kamu udah gila masih aja cari ribut sama orang?" gumam Karina seraya memilih baju yang nyaman.
Jangan lupa like dan komentar
Guys Baca yuk cerita baru author, judulnya ARIMBI
Blurb
Mengisahkan seorang remaja yang mendapat mimpi yang tak biasa. Dia bernama Arimbi, di datangi sang nenek untuk meneruskan ilmunya.
Beberapa bulan berjalan, Arimbi bisa meneruskan ilmu sang nenek yaitu memijat dan bisa mengobati orang yang terkena penyakit gaib.
Baca kisah Arimbi ya kalau kamu penasaran, terima kasih.
__ADS_1