Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 60


__ADS_3

"Kak Bedah!" lirih Diana sambil menutup mulutnya tak percaya. Saat melihat kakaknya sedang di kurung di dalam kamar rumah sakit jiwa. "Kenapa nasibnya seperti ini?" tanya Diana yang menatap nanar ke arah Bedah.


"Kak, aku akan mengusut penjualan tanah ibu," ucap Karina.


"Karina, Bedah gila karena perbuatannya sendiri. Dia mendapatkan balasan langsung, karena telah menzalimi keluarganya. Saat itu, Bedah membayar mafia tanah untuk melegalkan hak waris dan mempermudah dia menjual tanah ibu. Awalnya dia ingin membagi dua uangnya denganku, tetapi dia malah kabur dan membawa semua uang hasil penjualan tanah." Diana menunduk menjelaskan secara rinci pada Karina.


"Oh, kalian sudah bersekongkol?" Karina geram dengan penjelasan Diana.


"Kenapa kamu jahat, Kak?" Karina menangis. "Aku mempercayakan surat itu padamu, tapi kamu malah menyalahgunakannya." Karina menatap kecewa ke arah Diana.


"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud memakan uang itu sendirian. Jika Bedah memberikan separuh uang penjualan rumah, maka akan aku belikan tanah untukmu. Saat itu Bedah menagih utang. Semua uang yang dia berikan untuk membantu aku dan sekolah kamu, dia anggap hutang. Dia catat di buku besar, dan totalnya sebesar setengah dari penjualan rumah," ucap Diana. " Tetapi, dia membawa semua uangnya. Dan pergi tanpa meninggalkan jejak."

__ADS_1


"Aku tak tahu lagi, harus mempercayai siapa? Sekalipun aku membencimu, tak akan mengubah hubungan darah kita." Karina memalingkan wajahnya dan berlalu pergi meninggalkan Diana.


"Karin..." Diana memanggil Karina seraya berlari kecil mengejarnya.


Mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil. Udin sudah melajukan mobil yang di kendarai, meninggalkan rumah sakit jiwa.


"Karina, maafkan kakak. Semua sudah aku jelaskan, tak adalagi yang aku tutupi." Diana memohon pada Karina.


"Aku butuh waktu," jawab Karina sambil menidurkan Arjuna.


Sesampainya di rumah, Karina langsung masuk ke dalam rumahnya. Diana pun masuk ke dalam rumahnya dengan wajah lesu.

__ADS_1


Farhan yang sedang menjaga anaknya, bingung melihat raut wajah sang istri yang murung.


"Di, ada apa dengan wajahmu?" tanya Farhan yang mendekati Diana yang sudah duduk di ruang tamu.


"Karina sudah mengetahui semuanya," lirih Diana seraya mengusap titik air mata yang sudah membasahi pelupuknya.


"Maafkan aku, yang belum bisa membahagiakanmu. Karena kemiskinanku, kamu jadi bimbang dengan orang-orang yang menolongmu. Tanpa kamu tahu, mana yang tulus dan mana yang modus." Farhan memeluk Diana.


Farhan menatap iba istrinya, dia merasa bersalah karena membuat istrinya menderita karena ekonomi.


"Gak ada yang perlu di sesali, semua sudah terjadi. Aku hanya harus berubah, meyakinkan adikku agar percaya lagi padaku. Kemiskinan memang membuat kita melakukan segala cara untuk mendapatkan uang. Tapi rasanya setelah aku pikirkan, bukan kemiskinan saja yang membuat kita melakukan itu. Ternyata keserakahan juga bisa membuat kita menghalalkan segala cara, walaupun hidup sudah berkecukupan seperti kak Bedah." Diana menyadari perbuatannya.

__ADS_1


Diana teringat dengan perlakuannya terhadap sang ibu. Jika tak punya uang, dia baru berkunjung ke rumah ibunya. Itu juga karena dia sangat membutuhkan uang, hingga harus meminta pada ibunya yang sudah menjanda. Karina sering menyinggungnya, kalau datang ke rumah ibu jika ada perlunya saja. Iya, itu memang benar karena Diana miskin.


__ADS_2