Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 70


__ADS_3

Sementara Ardi masih tetap tidak percaya, dengan omongan Silvia. Karena sekali manusia ketahuan berbohong, pasti akan bohong terus.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Silvia sambil tersenyum canggung, saat melihat tatapan menyelidik dari Ardi. "Apa kamu tidak percaya?" Rajuk Silvia seraya mencebikkan bibirnya.


"Kamu sudah terlalu banyak berbohong, hingga membuat aku tak lagi percaya padamu," ujar Ardi.


"Baiklah, kalau kau tidak percaya. Semua terserah padamu," ujar Silvia menatap malas. " Sekarang, kau mau bawa aku kemana?" tanya Silvia.


"Segera habiskan makanan mu," ucap Ardi.


Usai menghabiskan makanannya, Ardi dan Silvia pun meninggalkan restoran.


Sepanjang perjalanan Ardi hanya terdiam, kala Silvia terus mengajaknya berbicara. Dia sedang memikirkan cara menyingkirkan Silvia.


"Apa sebaiknya aku taruh di rumah sakit jiwa? Atau dinas sosial?" gumam Ardi sambil fokus menyetir.


Ardi melajukan mobilnya menuju ke arah jalan tol. Silvia terlihat sudah tertidur pulas. Lalu Ardi memutuskan untuk mengirim Silvia menuju desa yang sangat terpencil. Dimana letak desa itu ada di bawah kaki gunung.


Mobilnya telah terparkir di sebuah rumah kecil, berbentuk minimalis. Di kelilingi area persawahan yang mulai menguning. Tepat di depan rumah, sudah ada wanita paruh baya yang sedang berdiri.

__ADS_1


Ardi pun keluar dari mobil, lalu menghampiri wanita paruh baya yang sedang menunggunya.


"Den!" sapa wanita tua berambut putih di hadapan Ardi.


"Mbok Sun, aku titip wanita itu." Ardi menunjuk ke arah mobilnya. "Jangan sampai dia kabur dari sini," pesan Ardi.


"Baik, Den!" jawab wanita tua yang bernama Mbok Sundari.


"Tolong rapikan kamarnya," perintah Ardi.


Kemudian mbok Sundari pun masuk ke dalam rumah. Dia akan membersihkan kamar untuk di tempati oleh Silvia.


Ternyata Silvia sengaja di beri obat tidur oleh Ardi, pada minuman yang tadi di pesan di restoran.


Ardi meletakkan Silvia di atas ranjang, yang sudah di rapikan oleh mbok Sundari.


"Mbok, ini ATM untuk menambah jatah makan. Jika ingin bersikap keras padanya, silakan kau lakukan. Buat dia tetap bekerja, dan jangan beritahu kalau aku mengirimkan uang untuk kalian." Ardi memberikan kartu ATM kepada mbok Sundari.


Kemudian Ardi langsung pergi meninggalkan rumah mbok Sundari.

__ADS_1


Mbok Sundari adalah tetangganya yang pernah tinggal di kota. Saat Ibunya Ardi membutuhkan asisten rumah tangga, maka mbok Sundari di percaya untuk membantunya. Setelah beberapa puluh tahun bekerja, mbok Sundari meminta di bangunkan rumah di desa. Dan setiap kali Ardi dan Rini liburan, mereka selalu singgah untuk melepaskan penat.


Namun untuk saat ini dan seterusnya, mungkin Ardi tidak lagi mengunjungi mbok Sundari. Karena dia tidak ingin bertemu dengan Silvia.


Ardi merasa tenang telah meninggalkan Silvia bersama mbok Sundari. Setidaknya Karina tidak akan bertemu dengan Silvia.


Silvia pun terbangun dari tidurnya, sementara hari sudah menjelang malam.


Dia terkejut saat mendapati dirinya sedang terbaring di tempat tidur.


"Ah! Dimana aku?" Silvia berteriak dan langsung bangkit dari tempat tidur.


"Heh, berisik!" bentak Mbok Sun dengan penampilan yang menyeramkan menyerupai kuntilanak, dengan rambut putih panjang terurai, lalu memakai daster berwarna putih.


"Ah!" Silvia menutup kedua matanya dengan telapak tangan nya, merasa ketakutan melihat sosok mbok Sundari.


"Ampun, Nek! Aku belum mau mati," ucap Silvia ketakutan.


Jangan lupa like dan berikan komentarmu

__ADS_1


__ADS_2