
" Ka-rin ...."
Rudi terlihat gugup, saat aku sudah berdiri di hadapannya. Aku menatap kesal dan emosi ke arah Abel dan Rudi.
" Apa dia mau kau jadikan istri ketigamu, Bang?" ucapku dengan nada tinggi, membuat orang-orang sekeliling melihat nanar ke arahku
" Ka- karin, ini gak seperti yang kamu duga," ucap Rudi beralasan.
Tiba-tiba Ardi sudah berdiri di samping ku, dia langsung menegur Rudi.
" Rudi, aku sudah muak melihat tingkah mu." Ardi begitu emosi melihat adiknya bersama wanita lain.
" Bang, ini gak seperti dugaan kamu. Aku dan Abel hanya makan siang, kebetulan sedang jam istirahat."
Rudi membela diri, tetapi pernyataan nya memang sangat masuk akal. Karena jam menunjukkan pukul dua belas siang. Waktu nya jam makan siang, untuk para pekerja kantoran.
" Iya, Bu."
" Aku dan Mas, eh Pak Rudi sedang istirahat makan siang." Abel pun membela diri, namun samar ku dengar dia sempat salah mengucap panggilan Rudi dengan sebutan mas.
Namun tadi dalam pandangan mataku, jelas-jelas mereka terlihat sangat mesra.
Masuk ke restoran, dengan bergandengan tangan. Akhirnya aku pun mengalah, hingga aku menemukan bukti yang kuat dengan apa yang tadi aku lihat.
Aku mengatur nafasku, " Baiklah, kali ini kalian aku ampuni. Tapi lain kali, aku melihat kalian berdua bersama, maka tamatlah riwayat kalian," ancam ku.
" Lalu, kenapa kalian berdua di sini?" Rudi membalas kecurigaan ku.
" Aku mengantar kan Karina, ke dokter kandungan, " jawab Ardi
" Loh, ada hubungan apa kalian?" Rudi menatapku curiga.
" Bang, aku gak akan pernah selingkuh kayak kamu." Aku kembali menatap tajam ke arah Rudi
Terlihat Rudi gelagapan, seperti nya takut rahasianya terbongkar. Lalu dia menyudutkan ku, dengan menuduhku berselingkuh dengan Ardi.
" Maaf Pak, Bu. Sebaiknya jangan membuat keributan di restoran kami!" tegur pemilik restoran yang berdiri di sebelah ku.
" Oh iya, kami minta maaf, " ucap Ardi sambil menyatukan kedua tangan nya, " kita makan di sini aja ya, Karin!" Ardi langsung duduk di hadapan Rudi.
Terlihat kekesalan di wajah Abel dan Rudi, seperti nya kehadiran ku sudah mengganggu acara makan siang mereka berdua.
Makanan ku sudah di antar oleh pelayan, dan aku duduk di sebelah Rudi.
__ADS_1
" Bang, kamu gak mau nanya soal kondisi janinku?" tanyaku sambil melirik ke arah Abel.
Abel hanya menundukkan kepalanya, dan serius dengan santapannya.
" Pasti baikkan, toh buktinya kamu bisa makan di restoran ini, " kata Rudi
" Rudi, apa kamu tidak bisa perhatian sedikit dengan istrimu?" bentak Ardi sambil menendang kaki Rudi.
" Sudah Bang, kita makan saja dulu!" kataku yang menenangkan Ardi.
Aku kembali melanjutkan makan siang, dengan suasana hening tanpa pembicaraan.
Setelah menyelesaikan makanan ku, aku bertanya pada Abel, " Abel, kenapa kamu terlihat akrab dengan suami ku?"
" Maaf, Bu! Bukankah, dia sudah di terima bekerja di butik?" jawabnya
" Bang, kenapa kamu gak ngabarin aku kalau di terima bekerja?" tanyaku kesal pada Rudi yang sedari tadi sangat acuh terhadap ku.
" Ini kamu sudah tahu, kan!" jawabnya dengan nada malas.
" Iya, tapi kenapa aku harus tahu dari, Abel?" tekanku
" Sudah, ah! Aku mau kerja dulu, sudah jam satu." Rudi langsung meninggalkan ku, lalu Abel menyusulnya.
" Apa Rudi selalu bersikap seperti itu?" tanya Ardi
" Aku merasakan seperti nya, mereka sedang main di belakang ku, " firasat ku yang menebak keanehan pada sifat Rudi.
" Kita pulang, yuk!" ajak Ardi.
Aku dan Ardi bangun dari tempat duduk, dan berjalan meninggalkan restoran.
Aku masih tak menyangka, dengan sikap Rudi tadi. Aku merasakan sikapnya seperti saat dia berselingkuh dengan Silvia. Ternyata aku salah memasukkan Rudi, untuk kerja di tempat ku. Sedangkan aku harus mengambil cuti, selama tiga bulan. Pastinya itu kesempatan Rudi dan Abel untuk berdua.
Aku harus bertanya pada Nanik, tentang Abel dan Rudi. Aku akan meminta tolong kepada nya, untuk memata-matai Rudi dan Abel.
Aku harapkan Nanik bisa membantu ku mencari bukti, perselingkuhan Abel dan Rudi.
Walaupun mereka belum terlihat berselingkuh, namun hal itu dapat aku rasakan saat ini.
" Karin, kamu sedang memikirkan apa?" tanya Ardi yang membuyarkan lamunanku.
" Eh, enggak Bang. Aku gak mikirin apa-apa," jawabku sambil mengulas senyum.
__ADS_1
" Apa kamu lagi mikirin, Rudi?" Ardi menebak apa yang aku pikirkan.
" Ya, dia suamiku. Pastilah aku cemas, jika dia melirik wanita selain aku dan Silvia. Dua istri saja, gak keurus. Lalu, dia mau nambah lagi!" gumamku bercerita pada Ardi.
" Aku merasakan sikapnya sama, saat dia dekat dengan Silvia. Menjadi sangat kasar, dan pemarah." Aku membayangkan masa lalu yang kelam.
Mobil Ardi telah sampai, di depan rumah mertuaku. Aku pun keluar, saat di bukakan pintu olehnya.
" Ish, kegatelan ....! " Silvia terdengar menyindir ku, dia sedang duduk di depan teras rumah Rudi.
" Sil, kamu menyindir ku?" Aku geram, saat mendengar sindiran Silvia.
" Memangnya, kamu ngerasa?" Silvia membalikkan perkataan ku.
" Sudah, Karin. Sebaiknya kamu masuk ke dalam," kata Ardi dengan menuntun tangan ku, berjalan menuju rumah.
Silvia begitu geram, melihat Ardi sangat perhatian kepada ku. Terlihat jelas dari raut wajahnya, menampakkan kekesalan.
Setelah masuk ke dalam rumah, aku langsung menuju kamarku. Aku ingin menghubungi nomor Nanik.
Segera aku mengambil ponsel ku, yang berada di dalam tas. Aku mulai mengetikkan beberapa kata, setelah itu aku kirimkan ke Nanik.
' Mbak Nanik, aku bisa meminta bantuanmu?'
Cukup lama, aku mendapatkan jawaban darinya. Mungkin dia sedang sibuk, menghitung baju-baju di dalam gudang.
Nanik sekarang menjabat sebagai kepala gudang, menggantikan Ajeng. Sedangkan Ajeng, saat ini menjadi orang kepercayaan bu Christina.
Walaupun kedudukan Ajeng lebih tinggi dari Nanik, tak membuat persahabatan mereka goyah.
Nanik tetap menerima jabatan, yang di berikan bu Christina. Mungkin bagi bosku, itu adalah pekerjaan yang cocok untuk Nanik. Karena dia sangat ulet dan teliti. Sehingga bosku mempercayai nya untuk mengontrol bagian gudang.
Selang setengah jam, Nanik baru membalas pesanku.
' Maaf, aku tadi sibuk menghitung barang yang akan di kirim ke luar kota. Kamu mau minta bantuan apa?'
Setelah mendapat notifikasi pesan masuk, langsung ku baca.
' *Mbak, boleh minta tolong mengawasi Abel. Aku curiga kepada nya, karena tadi aku menemui dia sedang makan siang bersama suamiku.'
' Oh, baik. Nanti aku kabari, tapi suamimu belum bisa kerja hari ini. Besok baru mulai kerja, dan menggantikan pak Zaenal. Istrinya sakit dan masuk rumah sakit, jadi pak Zaenal ijin seminggu*.'
Benar dugaanku, tadi Rudi beralasan sudah di terima bekerja.
__ADS_1