
Sementara mbok Sun sedang sibuk dengan Silvia. Dia selalu mengeluhkan sakit di bagian perutnya, karena penyakit yang dia derita selama ini.
"Sudah aku bilang, kalau aku punya penyakit mematikan. Tapi kamu masih saja mau menampungku," ucap Silvia seraya mencebikkan bibirnya.
"Den Ardi, kenapa kamu memberikan manusia penyakitan di rumah ini?" gumam mbok Sun yang terlihat kesal memandang Silvia.
"Iya sudah, sebaiknya kamu beristirahat." Mbok Sun langsung keluar dari kamar Silvia.
Kemudian mbok Sun memberi kabar pada Ardi, jika Silvia sakit. Dia mengirim melalui pesan singkat. Karena jika dia menelpon Ardi, maka akan terdengar oleh Silvia.
Usai menghubungi Ardi, mbok Sun langsung memasak.
Silvia sedang merencanakan sesuatu, agar dia bisa pergi dari rumah mbok Sun. Hal itu akan dia pikirkan besok, karena malam ini dia harus menyusun strategi mencari alasan.
"Mbok, kamu pikir bisa menahanku!" ucap Silvia dengan tersenyum sinis sambil menatap langit-langit kamarnya.
Sementara Karina sudah bersiap untuk pergi ke makam ayahnya. Cukup melelahkan baginya, mempersiapkan segala kebutuhannya untuk menginap beberapa hari di hotel milik Arjuna.
Mereka akan mengunjungi hotel milik Arjuna dan juga Ardi. Hal itu akan menyenangkan bagi Karina, karena saat ini dia telah resmi menjadi istri Ardi. Dia jadi bisa menikmati honeymoon yang belum pernah dia lakukan.
__ADS_1
Sebenarnya Karina ingin mengajak keluarga Diana dan ingin berlibur bersama mereka. Hanya saja kesibukan Diana, tak bisa ikut pergi bersama Karina.
"Bang, sebenarnya aku ingin mengajak keponakan ku jalan-jalan. Tetapi kak Diana tidak bisa," ucap Karina dengan wajah lesu.
"Lain waktu kita bisa mengajak mereka jalan-jalan. Atau setelah anak kita lahir, bisa mengajak mereka kembali," ujar Ardi memberi usul.
"Ah, iya. Usul yang bagus, aku masih bisa mengajak mereka jalan setelah anak kita lahir." Karina kembali tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Iya sudah, sekarang kita tidur. Karena besok harus bangun pagi, agar tidak terjebak macet." Ardi langsung merebahkan kepalanya ke atas bantal. Sambil memeluk tubuh sang istri yang kini bertambah besar.
Malam semakin larut, Karina tidak tenang dalam tidurnya. Semakin besar perutnya membuat dia menjadi sulit bergerak dan bernafas.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ardi yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.
"Baiklah, aku akan usap-usap. Kamu sekarang tidur," ucap Ardi yang langsung mengusap perut Karina dengan tangannya.
Karina pun mulai memejamkan kedua matanya. Dia terlihat begitu nyaman, saat tangan Ardi menyentuh bagian perutnya.
"Sayang, kamu bobo juga. Kasian mama gak bisa bobo," ujar Ardi sambil berbisik di perut Karina.
__ADS_1
Ardi merasakan ada pergerakan di tangannya, dan terlihat ada sundulan di bagian perut Karina.
"Ah!" rintih Karina yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi cemas melihat istrinya meringis.
"Sepertinya bayinya baru saja menendang dari dalam," ucap Karina sambil memegang perutnya.
Kemudian Karina langsung membuka bagian perutnya, lalu melihat pergerakan sang bayi.
"Karin, lihat itu ada sundulan. Mungkin bagian kakinya," ucap Ardi yang melihat benjolan bergerak di dalam perut Karina.
"Sepertinya dia sangat aktif," balas Karina. "Memangnya tadi kamu bisikin apa sama dia?" tanya Karina yang memang merasakan nafas Ardi di bagian perutnya.
"Aku hanya menyuruhnya tertidur," jawab Ardi. "Kayaknya dia mau main sama aku," ucap Ardi dengan wajah menggoda ke arah Karina.
"Maksudnya?" tanya Karina dengan nada polos.
"Iya, dia mau di tengok sama papanya. He, he, he," ucap Ardi terkekeh.
__ADS_1
"Ish, itu sih emang maunya kamu, Bang!" ucap Karina seraya mencubit hidung Ardi.
Silakan like dan berikan komentar mu