Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 59


__ADS_3

" Ada apa, Karin?" tanya Diana yang sudah memakai baju tidurnya.


" Maaf, aku harus mengganggu kalian malam-malam begini," ucap Karina


" Enggak apa-apa!" jawab Diana yang sudah duduk berhadapan dengan Karina dan Ardi.


" Aku bertemu dengan kak Bedah," ucap Karina.


" Hah, dimana?" tanya Diana antusias.


" Di rumah sakit jiwa," jawab Karina dengan nada sumbang.


" Apa? Rumah sakit jiwa?" ucap Diana terkejut mendengar penjelasan dari Karina.


" Aku hanya ingin meminta penjelasan tentang rumah ibu," ucap Karina yang menatap intens ke arah Diana.


" Aku tidak tahu menahu tentang rumah ibu," ucap Diana ketakutan.


" Bohong!" hardik Karina


" Maaf Karina, aku hanya menunjukkan letaj sertifikat rumah ibu pada Bedah. Selebihnya aku tidak tahu menahu. Saat itu aku di suruh pulang oleh Bedah, setelah dia memberikan aku uang lima juta." Diana menceritakan kejadian sewaktu Bedah mengambil hak mereka.


" Apa kamu tidak curiga, kenapa kak Bedah memberikan uang untukmu?" tanya Karina.


" Tidak, karena saat itu aku butuh uang untuk membayar cicilan motor dan merawat almarhum ibu mertuaku." Diana tertunduk lesu.


" Maafkan aku yang bodoh ini," lirih Diana sambil menitikkan airmatanya. " Kehidupanku memang susah, dan setiap ada orang yang memberikan aku uang banyak, tak pernah aku pikirkan tentang tujuan mereka." Diana mengusap air matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya.


" Baiklah, besok kita akan menjenguk kak Bedah." Karina langsung bangun dan menghampiri Arjuna.


Karina dan Ardi pamit untuk pulang ke rumah bersama Arjuna.


***


"Bang, aku akan ke rumah sakit." Karina meminta ijin pada Ardi.


"Iya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Biar pak Udin yang mengantar kalian," ucap Ardi sambil mencium kening Karina.


Ardi pun pamit, untuk berangkat ke kantornya.


Keyla dan Keysa akan di jemput oleh Farhan. Karena kini Farhan bekerja sebagai tukang ojek online. Farhan terkena phk massal di kantornya.

__ADS_1


Karina dan Diana pun berangkat ke rumah sakit bersama pak Udin. Arjuna mereka bawa, karena tidak ada yang mejaga di rumah.


"Karina, kamu kok bisa tahu kalau Bedah ada di rumah sakit?" tanya Diana yang baru sempat menanyakan pada Karina.


"Ibu mertuaku, masuk rumah sakit jiwa." Karin menjelaskan


"Apa?" Diana terkejut mendengar penjelasan Karina. " Mertua kamu yang cerewet itu?" tanya Diana.


"Iya," jawab Karina.


"Apa penyebab dia bisa jadi gila?" tanya Diana penasaran.


"Aku tidak tahu, dan malas juga bertanya sama bang Ardi." Karina berbohong. Karena saat inu, dia hanya ingin fokus mengurus kakak tertuanya.


Mereka telah sampai di rumah sakit, pak Udin pun memarkirkan mobilnya di halaman parkir.


"Pak, tunggu di sini sebentar ya!" pinta Karina pada supir pribadinya.


Pak Udin merangkap sebagai tukang kebun di halaman rumah. Dan tenaganya hanya di butuhkan, jika Ardi tidak bisa mengantar Karina pergi menggunakan mobil.


Sebenarnya Karina sudah bisa mengendarai mobil sendiri. Hanya saja dia tidak ingin terlalu lelah, jika harus mengendarai mobil sendiri. Ada Ardi dan Arjuna yang harus dia urus.


Sementara, dia juga bisa berbagi rejeki dengan pak Udin.


"Kak, itu bang Anwar!" Karina menunjukkan jarinya ke arah depan.


"Ah iya, biar aku kejar!" Diana langsungberlari menghampiri suami Bedah.


"Bang Anwar..." panggil Diana


Diana mempercepat langkah kakinya untuk mengejar Anwar.


"Bang Anwar!" Diana menghalangi langkah Anwar yang akan keluar dari rumah sakit.


"Di--" Anwar terlihat gugup saat Diana berada di hadapannya.


"Bang Anwar!" Karina pun sudah berdiri di belakang Anwar.


"Karina?" Anwar terkejut melihat penampilan Karina yang kini sangat cantik.


"Dia siapa, Bang?" tanya Karina sambil menatap sinis ke arah wanita di sebelah Anwar.

__ADS_1


"Di-a, istri kedua a-bang." Anwar menjawab dengan gugup pertanyaan Karina.


" Apa, istri?" Karina terlihat kesal.


"Heh Anwar, kamu tahu kalau kak Bedah sedang sakit. Kenapa kamu malah menikah lagi?" tanya Diana seraya mendorong dada Anwar dengan jari telunjuknya.


"Bisa aku jelasin, sebaiknya kita bicara di taman itu!" Anwar menunjuk sebuah taman kecil di depan halaman rumah sakit.


Kemudian mereka pun berjalan menuju taman kecil.


Anwar dan istrinya duduk sedangkan Karina dan Diana berdiri.


"Jelaskan kepada kami, tanpa kebohongan. Kalau kamu gak mau kami tuntut!" ucap Karina mengancam.


"I-ya." Anwar menganggukan kepalanya.


"Setelah menjual tanah milik ibumu, Bedah menyuruh abang untuk pindah rumah. Katanya dia tidak ingin, uang hasil penjualan rumah di bagi-bagi ke kamu dan Diana. Lalu kami pindah ke pinggiran kota, membeli rumah beserta kebun yang luas. Namun baru seminggu, kami di grebek oleh ahli waris. Katanya tanah yang kami beli masih proses sengketa. Dan banyak ahli waris yang memiliki girik surat tanah itu. Kami bingung, dan mencari si penjual tanah. Tak juga kami temukan, dan hal itu membuat Bedah stres. Dia sering tertawa, dan mengaku semua rumah miliknya. Terpaksa abang bawa ke rumah sakit jiwa. Untung rumah abang, belum di jual sesuai permintaan Bedah. Kalau saja di jual, mungkin abang tidak lagi memiliki rumah."


"Lalu menikah dengan perempuan itu?" ucap sinis Karina sambil melihat ke arah wanita di sebelah Anwar.


"Abang menikah lagi, karena ingin punya keturunan. Kamu tahu, kalau Bedah itu mandul. Ditambah lagi dia menjadi gila, dan abang butuh seseorang yang bisa mengurus abang. Dan abang pernah cari kamu, ke rumah suamimu. Tapi kata mertuamu, kamu pergi tanpa pamit." Anwar menjelaskan.


"Aku hanya ingin meminta penjelasan tentang rumah ibuku. Bagaimana Bedah bisa menjual tanah tanpa seijin kami?" tanya Karina.


"Bedah membayar mafia tanah, dia yang mengurus semua saat Bedah memiliki sertifikat tanah itu," ujar Anwar.


"Kenapa kamu gak melarang kakakku, berbuat jahat kepada keluarganya?" tanya Karina.


"Karena Bedah sangat galak, aku takut!" ucap Anwar.


"Bedah memiliki banyak perhiasan, dan masih ada sisa uang hasil penjualan rumah ibumu. Kalau kamu mau ambil, besok akan aku antarkan ke sini." Jelas Anwar. "Oh iya, walaupun Bedah gila, tapi aku tetap menganggap dia istri aku. Aku tetap mengurusnya sampai sembuh. Kalian jangan cemas tentang istri keduaku. Semoga kalian bisa menerimanya dan mengerti keadaanku." Anwar menyudahi penjelasannya.


"Iya sudah, besok aku ambil barang-barang kak Bedah."


Anwar dan istrinya pun pamit pulang, sedangkan Karina dan Diana berjalan menuju kamar Bedah.


"Selanjutnya gimana, Karin?" tanya Diana sambil menggendong Arjuna.


"Kita jenguk kak Bedah dulu, nanti akan aku pikirkan caranya supaya dia sembuh," ucap Karina.


Karina dan Diana berjalan menuju kamar Bedah.

__ADS_1


Silakan like dan berikan komentar mu


__ADS_2