
"Karina, apa kamu tidak lelah?" tanya Ardi
"Bang, aku harus segera membuat surat pengunduran diri. Harus resmi, dan--" ucapan Karina terhenti oleh Ardi yang mengalah. "Oke,oke. Abang antar," ucap Ardi yang langsung menyalakan mesin mobilnya.
Ardi segera melajukan mobilnya menuju butik Sindang Jaya. Sepanjang perjalanan, Karina tertidur pulas. Sepertinya dia kelelahan karena selalu muntah.
Ardi ingin sekali mengantar Karina pulang, hanya saja sifat istrinya yang keras kepala, mengharuskan dia untuk mengalah.
Saat di pertengahan jalan, mobil Ardi berhenti di lampu merah. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu mobilnya. Kemudian Ardi menoleh ke arah kanan. Sungguh terkejut dirinya saat melihat wanita lusuh di luar mobil.
"Silvia?" gumam Ardi yang melihat Silvia dengan baju compang camping dan wajah yang lusuh dengan bungkus plastik permen di tangannya. Sepertinya saat ini Silvia menjadi pengemis.
Kemudian Ardi mengeluarkan uang selembar seratus ribu. Lalu dia membuka kaca jendelanya. Ardi pun memberikan uang kepada Silvia.
Silvia melihat orang yang di dalam mobil telah membuka kaca jendelanya. Lalu mengeluarkan uang pecahan seratus ribu. Namun matanya beralih pada orang yang duduk di mobil.
"Karina..." panggil Silvia.
Kemudian Ardi menoleh ke arah Silvia. "Sebaiknya kamu cepat pergi, nanti ke tangkap satpol pp," ujar Ardi yang langsung menutup kaca jendela mobilnya.
"Karina..." teriak Silvia, namun lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Hingga Ardi segera melajukan mobilnya.
__ADS_1
Karina terbangun, karena mendengar namanya di panggil.
"Bang, uda sampai?" tanya Karina sambil mengusap-usap kedua matanya yang masih sayup.
"Belum," jawab Ardi yang kembali fokus menyetir mobilnya.
"Aku pikir sudah sampai, lantas tadi aku mendengar suara perempuan seperti memanggil namaku?" tanya Karina penasaran.
"Hanya perasaan kamu aja, mungkin!" tutur Ardi
"Untung saja Karina tidak melihat Silvia," batin Ardi yang terlihat cemas.
Ada sesuatu yang di rahasiakan Ardi, tentang Silvia. Dan Ardi tidak mengijinkan Karina bertemu dengan Silvia.
Kala itu Ardi memang ingin membalaskan dendam ibunya, hanya saja saat Rudi menyakiti Karina, hati Ardi mengiba. Dan membuat Ardi tidak tega untuk terus menyakiti perasaan Karina.
Ketika Rudi meninggal, Ardi langsung membayar Silvia agar cepat pergi dari rumah Rudi.
Sesampainya di kantor, Karina langsung membuat surat pengunduran diri. Dan berjabat tangan pada seluruh karyawan. Mereka mengucapkan salam perpisahan dan juga ucapan bahagia karena Karina kini sedang hamil.
"Selamat, ya!" Ajeng memeluk Karina. "Aku akan sangat merindukan sahabatku," ucap Ajeng.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak!" Karina membalas pelukan Ajeng
"Karina, nanti kalau anakmu lahir, langsung telepon aku. Biar aku main ke rumahmu, untuk nengok dede bayi." Nanik memeluk Karina.
"Iya, Mbak! Kamulah orang pertama yang aku hubungi saat aku sudah melahirkan." Karina membalas pelukan Nanik.
Semua melambaikan tangan, melepas kepergian Karina.
"Bu," ucap Karina saat berpapasan dengan Christina Lee.
"Kamu?" tanya Christina Lee yang terhenti saat Karina memeluknya.
"Terima kasih atas semua perhatian yang ibu berikan. Maafkan saya, yang harus menghentikan kinerja saya sampai di sini." Karina melepaskan pelukannya seraya mengusap air matanya.
"Kamu memgundurkan diri?" tanya Christina yang baru mengetahui Karina akan mengundurkan diri dari butik miliknya
"Iya, Bu. Karena saya sedang hamil, dan suami menginginkan saya untuk di rumah menjaga anak-anak," tutur Karina.
"Iya sudah, kalau memang suamimu kini sayag kepadamu. Aku doakan semoga rumah tangga kalian langgeng sampai kakek nenek." Christina mengusap air mata Karina.
"Terima kasih," jawab Karina.
__ADS_1
Kemudian Karina pamit kepada Christina, untuk pulang kerumah. Dan Karina berjalan menuju mobil Ardi.