
Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.
" Iya bu, aku minta maaf jika ibuku ada salah." kata ku sambil memeluk bosku.
Dia terlihat begitu kehilangan juga, karena setiap kali cek up mereka selalu datang bersama.
Ajeng dan Nanik pun, memberi ucapan belasungkawa padaku.
Banyak pelayat yang masih berdatangan ke rumah ibuku. Hingga aku kelelahan menyambut mereka, dan aku masuk ke dalam kamar.
Ada kakakku Bedah dan Diana yang menggantikan ku untuk menyambut tamu.
***
Setiap malam sampai hari ke tujuh, selalu di adakan pengajian. Banyak tetangga yang menitipkan rejekinya, membelikan kue-kue untuk para bapak-bapak yang hadir dalam acara tahlil untuk mendoakan arwah ibuku.
Katanya kalau masih 40 hari sesudah kematian nya, arwah ibuku masih ada di rumah.
Rejeki ibuku masih terus mengalir, walaupun maut sudah menjemput nya.
Ada saja orang yang membayar hutang, saat mereka membeli nasi uduk jualan ibuku.
Katanya saat mereka berhutang, ibuku dengan sukarela memberikan nasi uduk untuk di makan keluarga nya. Dan ibuku tidak pernah menganggap nya hutang, dia ikhlas berbagi pada tetangga yang memang sedang membutuhkan.
Ternyata ibuku baik sekali, hatinya begitu luas. Aku sebagai anaknya harus mencontoh sikap ibuku yang dermawan.
Hingga malam ke tujuh hari selesai, Bedah datang menghampiri ku.
" Karina, besok kita urus rumah ibu." ucap ketus saat berdiri di hadapanku.
" Eh, maksudnya apa Kak?" tanyaku yang terkejut dengan penuturan Bedah.
" Iya, harta warisan nya harus di bagi-bagi. Jadi mulai besok, kamu harus menjual rumah ini." katanya kasar.
" Eh Kak, aku gak ada niatan sedikit pun untuk menjual rumah ini." kataku memberontak.
" Alah, emang kamu mau nguasain rumah ibukan?" balasnya mencibirku.
" Kakak kemana aja, saat ibu sakit? Hah." sahutku menyela pembicaraan nya.
" Kok kamu malah ungkit itu, kan kamu tahu kakak sibuk." ucap nya mengelak.
" Sesibuk nya anak, kalau orang tua sedang sakit ya harus di tengoklah." jawabku kasar.
" Kalian kenapa sih, kok malah bertengkar?" tanya Diana yang masuk ke dalam kamarku
" Nih si Karina, mau nguasain harta ibu." adunya pada Diana.
" Apa? Pintar banget mulutmu, Kak!" balasku merasa geram dengan tingkah Bedah.
" Sudah, sudah sekarang istirahat dulu. Besok kita lanjutkan pembicaraan nya, gak enak sama tetangga yang masih ngumpul di depan." sergah Diana yang menenangkan pertengkaran kami.
__ADS_1
Bedah memandang ku, dengan tatapan tidak suka. Ada angin apa dia, tahu-tahu menyuruh ku menjual rumah ibuku.
Akupun hanya bisa merenung, kenapa nasibku sungguh amat sial.
Di usia kehamilan ku memasuki tujuh bulan. Aku di timpa masalah yang begitu pelik, hingga merasa diri ini tak sanggup menjalani nya.
Aku mengetahui Rudi hanya ingin mengambil anakku, dalam waktu yang bersamaan ibuku pergi untuk selama-lamanya.
Malam semakin larut, aku kembali menempati kamar ibuku. Ku elus perutku yang sudah membuncit. Sesak rasanya nafasku, dengan semua kejadian yang menimpaku.
" Sayang, sampai kapanpun kamu akan selalu bersama ibu. Gak akan ada yang memisahkan kita. Karena hanya kamulah sekarang, penyemangat untuk ibu hidup. Nenekmu telah pergi, dan meninggalkan ibu sendiri di rumah ini." lirihku sambil terbaring menatap langit-langit rumahku.
Suasana hening, karena semua tamu dan para petakziah pun sudah pulang.
Aku memejamkan kedua mata ku, karena besok akan kembali bekerja. Sudah seminggu, aku ijin pada bu Christina.
****
" Kak, aku mau kerja dulu." pamitku pada Diana yang masih menginap bersama kedua anaknya.
Sedangkan Bedah sudah kembali kerumahnya, karena usaha toko kelontong tidak ada yang menjaga.
" Karin, apa kamu mau menjual rumah ibu?" tanya Diana yang ragu
" Aku gak kepikiran, Kak!" Jawabku yang telah rapi memakai baju kerja.
" Tin, tin ..." Suara klakson motor terdengar jelas dari arah depan rumahku.
" Ish, mau ngapain sih dia jemput aku lagi?" Dengusku kesal sambil berjalan ke arah pintu.
" Kamu, udah rapi?" Tanya Rudi yang masih duduk di atas motornya.
" Bang, sebaiknya abang jangan jemput Karin lagi." Kataku dengan menatapnya sinis.
" Loh, abang kasian sama dede utun. Kamu pasti capekkan?" Katanya beralasan.
" Karin sudah bilang, gak akan kasih anak kita ke orang tua abang. Karin bisa ngurus anak sendiri." Ucapku ketus.
" Karin, abang udah gak mikirin itu. Sekarang Karin naik dan abang anterin." Kata Rudi memaksa.
" Kalau Abang uda kerja, Karin mau balik sama Abang." Ucapku memberi syarat kepadanya.
Rudi termenung, sepertinya dia sedang berpikir keras untuk terus merayuku.
" Iya udah, besok abang akan cari kerjaan" kata Rudi menyetujui syarat dariku.
" Sekarang, biar abang anter Karin dulu." Ucapnya masih terus memaksaku.
" Maaf Bang, Karin mau naik angkot aja." Kataku yang langsung menutup pintu.
Rudi sepertinya sangat kesal dengan penolakanku.
__ADS_1
" Karin, dia mau apalagi sih?" Tanya Diana yang sudah menghampiriku.
" Dia, mau nganter Karin kerja." Kataku yang langsung mengambil tasku di atas bangku.
" Aku berangkat, ya!" Ucapku pamit pada Diana.
" Iya." Jawab Diana.
Aku melihat ke arah depan rumah, sepertinya Rudi telah pergi. Segera ku langkahkan kaki, pergi meninggalkan rumahku.
Setelah pamit, aku langsung keluar rumah dan berjalan menyusuri jalanan rumah.
Sesampainya di depan gang, aku langsung memberhentikan angkot. Lalu aku pun menaikinya, dan duduk di bangku depan.
Kebetulan bangku depan kosong, sehingga aku bisa meluruskan kakiku yang pegal.
Suasana di dalam angkot, tidak padat seperti biasanya. Mungkin karena hari sabtu, dan anak sekolah libur jadi sedikit renggang.
Ku lihat ada Rudi, yang sedang mengantarkan Silvia bekerja. Kini Silvia bekerja sebagai pelayan toko, di sebuah minimarket. Dia di pecat oleh Christina, karena menggelapkan beberapa barang.
Dia mengambil beberapa baju batik, untuk di jual sendirian. Karena ketika itu, Silvia di mutasi ke gudang pusat.
Aku memberi kesempatan pada Rudi, untuk kembali pada ku jika sudah mendapatkan pekerjaan.
Karena aku tidak mau mempunyai suami, yang pengangguran. Mau dikasih makan apa nanti anakku? Apakah dia harus mengandalkan uang dariku terus?
Dia sebagai suami harusnya bertanggung jawab, apalagi mempunyai dua istri.
" Kiri, kiri ... Bang." ucapku yang telah memberhentikan angkot.
Mobil angkot pun menepi ke arah kiri jalan, tepat di depan halaman kantor ku.
Aku pun membayar ongkos angkot, dan turun perlahan.
Kulangkah kan kakiku perlahan, karena aku merasakan perutku yang sudah berat.
" Karina ..." sapa Nanik yang ingin memarkirkan motornya.
" Mbak, " balasku.
" Masuknya bareng, ya!" katanya
Aku pun menunggu Nanik di depan pintu, dan melihat dia sudah memarkirkan motornya.
Nampak senyum terukir di bibirnya, dia terlihat senang dengan kehadiran ku.
" Kamu, uda mulai masuk?" tanyanya sambil memeluk lenganku.
" Udah, Mbak!" jawabku.
Cek episode selanjutnya.
__ADS_1