Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 16


__ADS_3

Jangan lupa untuk like dan berikan vote untuk karyaku ya guys.


Aku pun mengikuti Rudi, menuju motor nya yang terparkir di halaman kantor.


" Pakai helmnya." kata Rudi yang memakai kan helm di kepala ku.


" Bu, uda jadi manajer kok gak beli mobil?" sindir Abel yang mendekati ku bersama Rudi.


" Lalu, apa urusannya sama kamu?" tanya Ku menatap sebal ke arah Abel.


" Iya biar ada gengsinya aja, soalnya Bu Karina kan sudah naik jabatan menjadi manajer. Masa gak malu naik motor butut kayak gitu." ucapnya sambil menatap Rudi dengan tersenyum.


Aku melihat pemandangan, yang tidak nyaman di hadapan ku. Tatapan mata Abel, menyiratkan hal yang sama saat Silvia menyukai Rudi.


Tapi apa mungkin, Rudi akan merayu Abel? Sedangkan dia sudah mempunyai dua istri, dan pekerjaan saja tidak punya. Hanya wanita bodoh seperti aku, yang bisa tertarik dengan pesonanya.


" Abel, kamu suka sama suamiku?" tanyaku langsung to the poin pada Abel, sambil menoleh ke arah Rudi.


" Eh enggak Bu, ngapain aku suka sama suami orang." kata Abel dengan nada suaranya gugup. Segera dia memakai helm dan melajukan motornya meninggalkan kami berdua.


" Apa, kau juga suka Bang sama dia?" tanyaku menatap tajam ke arah Rudi


" Eh, enggak. Ngapain uda punya kamu yang cantik, lalu aku harus tertarik dengan bawahan mu." kata Rudi yang terlihat salah tingkah.


Aku masih meragukan kesetiaan Rudi, apakah dia telah berubah atau masih saja seperti dulu yang mata keranjang.


" Ya udah, kita pulang." kata Rudi yang telah menjalankan motor nya.


Aku menepis pikiran tentang Rudi, yang akan mencari wanita lain selain aku dan Silvia.


Hidupnya terbiasa di manjakan, oleh kedua orang tua. Hingga dewasa, dia tak mampu mencari nafkah sendiri. Hanya mengharapkan uang, dari para istrinya.


Dia memanfaatkan ketampanan nya, untuk merayu setiap gadis. Agar dia bisa menikmati uang nya, dan di belikan kebutuhan nya untuk merayu para gadis lain.


" Andai abang jadi sales marketing, pasti omzet penjualan mu sangatlah tinggi." gumamku yang berpikir tentang Rudi. Jika saja Rudi pandai merayu konsumen, bukan merayu perempuan pikirku.

__ADS_1


" Apa, Karin?" teriak Rudi yang mendengar gerutuanku.


" Enggak Bang, aku hanya berpikir Abang bisa di terima bekerja di kantor ku." teriakku di telinga Rudi.


Sesampainya di rumah, aku di kejutkan dengan kedatangan beberapa orang di rumah ku.


Ada lima motor yang berjajar, menutupi jalan rumahku.


" Motor siapa ini?" tanyaku sambil melihat ke arah pintu rumah ku yang terbuka lebar.


" Kak Diana." panggilku saat sudah memasuki rumah.


Aku melihat ada lima orang laki-laki bertubuh tegap, dan berpakaian dinas pemerintahan sedang duduk di sofa.


" Kalian siapa?" tanyaku sambil menatap sinis ke arah mereka.


" Oh, kamu sudah pulang?" Bedah menyapa ku dari arah dapur, sambil membawa sepiring kue basah.


" Mereka siapa, Kak?" tekanku sambil menatap tajam ke arah Bedah


" Apa? Warisan rumah ibu? Apa kau sudah tidak waras? Hah!" bentakku pada kakak ku sendiri. Dia terlihat begitu tamak, saat membicarakan soal harta warisan.


" Aku juga berhak atas rumah ini, dan memang harus di bagi setelah ibu meninggal." balasnya kasar.


" Kau tahu saat ibu masih ada? Apa kau perduli padanya? Hah?" balasku sambil menangis di hadapan nya.


" Karin, kamu jangan keras kepala. Bilang aja kamu mau kuasai harta ibu?" Bentak Bedah di depan para pegawai pemerintahan.


" Kak, kamu pakai otakmu. Kuburan ibu belum kering tanahnya, tapi kamu sudah meributkan soal rumah ini." Kesal ku yang langsung masuk ke dalam rumah.


Bedah mengetuk pintu kamar ku, dia tetap kekeh ingin menjual rumah ibu.


Aku terus menangis, betapa teganya kakakku. Apa di pikirannya hanyalah harta warisan?


Memang aku akui, sifatnya begitu tamak. Hingga saat ini, dia belum juga di karuniai anak. Semua harta suaminya, dia kuasai. Entah apa yang dia cari di dunia ini, dengan ibunya sendiri pun tega.

__ADS_1


Ibu pernah datang ke rumahnya, meminjam uang untuk biaya sekolahku. Dan sebagai bayarannya, ibu harus bekerja di rumahnya untuk melunasi hutang sekolahku.


Tugas ibu hanya mencuci dan menggosok baju. Itupun di kerjakan pada hari sabtu dan minggu. Kalau hari biasa, ibu selalu jualan nasi uduk.


Hingga hutang itu berlangsung selama dua tahun. Dan dalam waktu dua tahun, ibuku harus bolak-balik ke rumah Bedah untuk pekerjaan rumah tangga selama sabtu dan minggu.


Sungguh tega sekali kakakku kepada ibuku, padahal kontrakan di milikinya sebanyak tujuh pintu. Juga memiliki warung kelontong, yang bangunannya cukup besar.


Orang mengira, jika ibu selalu meminta pada Bedah. Dan Bedah selalu cerita kepada warga, kalau dia membiayaiku sekolah. Padahal kenyataanya semua di hitung utang olehnya.


Dan sewaktu aku liburan, sisa hutang itu harus aku bayar dengan cara bekerja di rumahnya menggantikan ibu.


" Karina, kamu harus menjual rumah ini. Ingat, ini rumah ibu bukan rumahmu." teriak Bedah dari luar kamar.


" Pergi, aku bilang pergi...." balasku sambil menangis.


Selang beberapa jam kemudian, aku pun keluar dari kamar. Karena perutku terasa lapar, dan janin dalam kandungan ku sudah meronta ingin di isi makanan


"Akhirnya, kamu keluar juga." Sindir bedah yang sedang duduk di ruang televisi.


" Kenapa kau masih di sini?" tanyaku sambil menatap sinis ke arahnya" Bukankah kau tidak betah di rumah ini, dulu sewaktu ibu ada kau tidak pernah mau menginap. Lantas, ada apa dengan malam ini, hingga kau mau bermalam di sini?" ketusku


" Bukan urusanmu, lebih baik kau urus saja anak dalam perutmu. " ucap Bedah.


" Karina, kamu belum makan sejak pulang dari kantor." panggil Diana yang telah menyiapkan makan untuk ku.


Sikap Diana memang berbeda dari Bedah, walaupun sewaktu ibuku hidup dia datang hanya untuk meminjam uang. Tapi dia masih mau datang, dan menginap serta membantu ibuku. Nyatanya dia tak pernah meminjam uang pada Bedah. Padahal harta dia lebih banyak dari uang ibuku.


" Iya, Kak." jawab Ku yang menghampiri Diana di meja makan.


" Kak, aku benar-benar tidak mau menjual rumah ibu. Karena banyak kenangan yang tersimpan di sini. Apalagi, ibu gak pernah memerintahkan aku untuk menjual rumah ini." kataku menjelaskan pada Diana.


" Iya, kau tahu sendiri bagaimana liciknya Bedah. Dia akan melakukan segala cara, agar mendapatkan yang dia inginkan." kata Diana yang mengingatkan.


" Seharusnya dia menjadi pengayom kita, bukan penguras harta ibu. Jatuh miskin, tahu rasa dia kalau sikapnya masih tamak." umpatku menyumpahi nya.

__ADS_1


Silakan like dan berikan vote untuk karyaku.


__ADS_2