
Sementara di rumah Parjono, terlihat Ardi yang sedang kesulitan menghadapi bapaknya.
" Anak gak tahu diri, beraninya kamu mengambil uang hasil penjualan tanah bapak! " Parjono terlihat sangat marah dan mencengkeram leher Ardi.
" Tanah Bapak? Cih, apa aku gak salah dengar? " Ardi mencibir bapaknya." Bukankah tanah itu milik ibu, yang di ambil alih oleh Bapak? " tegas Ardi.
" Siapa yang bilang? " bentak Parjono.
" Pak, aku punya bukti jika tanah itu milik ibu. " Ardi mengambil ponselnya.
Terlihat Rini di layar ponsel Ardi, menjelaskan tentang tanah yang telah di rebut oleh Parjono dan Ambar.
Parjono tersadar, jika dirinya sangat jahat terhadap istri pertamanya. Parjono pun jatuh luruh ke lantai. Dia menyandarkan tubuhnya ke dindingnya sambil mengacak-acak rambutnya.
" Maafkan, aku! Aku sangat serakah, hingga tak memperdulikan kalian. " Parjono menitikkan air mata nya.
Dulu aku melihat Ambar sangat cantik, entah kenapa aku mudah sekali terbujuk rayuannya.
" Pak, ada apa dengan ibu Ambar? " tanya Ardi yang sedang duduk di ruang tamu.
" Entahlah, kemarin baik-baik saja. " Parjono terlihat duduk di sofa berseberangan dengan Ardi.
" Buka ... " Suara Ambar terdengar keluar kamar, di iringi dengan gedoran pintu.
" Pak, apa sebaiknya kita bawa ke rumah sakit jiwa? " tanya Ardi memberi usulan pada Parjono.
" Sepertinya dia sangat tertekan dengan kematian Rudi, " jawab Parjono.
" Lalu sekarang kita harus bagaimana? " tanya Ardi cemas.
Ambar terus berteriak dari arah dalam kamar, " Rudi ini ibu, anakmu sudah menyusulmu ke alam baka. Sekarang giliran ibu sama bapak, yang akan menyusul mu. " Ambar terus saja berteriak-teriak.
Ardi segera mengambil ponselnya, dan mencari nomor telepon rumah sakit jiwa.
Karena hari sudah larut malam, dan Ambar akan di evakuasi besok pagi.
Ardi terus mencoba menghubungi Karina, namun tak pernah ada jawaban. Dia sangat mencemaskan keadaan Arjuna. Kenapa Karina belum juga membuka hati untuk nya, padahal dia sangat tulus mencintai Karina.
Ardi dan Parjono tertidur di ruang tamu, mereka menunggu datangnya pagi.
***
__ADS_1
Ambar mengamuk saat di eksekusi oleh perawat. Butuh obat penenang, untuk membawa Ambar ke mobil ambulans. Para tetangga melihat Ambar di bawa ke rumah sakit. Mereka bertanya-tanya, kenapa mobil ambulan bertuliskan rumah sakit jiwa.
" Mas, ada apa sama bu Ambar? " tanya salah seorang ibu-ibu yang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumah Parjono.
" Ibu sakit, dan butuh perawatan medis. " Ardi menjawab dengan lugas.
" Tapi kok, tulisannya rumah sakit jiwa? " sambung ibu-ibu di sebelahnya.
" Hanya stres, dan butuh penanganan dokter, " ujar Ardi.
" Alah, dia mah bukan stres. Tapi keberatan ilmu, emangnya Mas gak tahu kalau bu Ambar tuh suka pergi ke gunung? " cibir salah seorang tetangga
" Maksudnya? " tanya Ardi meminta pembenaran dari seorang tetangganya.
" Ambar tuh dapetin pak Parjono pake pelet. Makanya pak Parjono lengket aja sama dia, dan ngelupain istri pertamanya, " ujar salah seorang ibu-ibu yang sangat mengenal Ambar.
Ardi memang telah lama meninggalkan tanah kelahirannya. Sehingga dia lupa dengan wajah ibu-ibu, yang berbicara di hadapannya.
" Saya Tumini, temannya Ambar. Dia yang meminta saya untuk menarik perhatiannya pak Parjono, " ucap Tumini memperkenalkan diri.
" Saya Ardi, anak bu Syahrini. " Ardi menjawab dengan mengulas senyum tipis.
Ibu-ibu yang berada di hadapan Ardi, semua tercengang. Mereka terkejut melihat pemuda yang gagah dan tampan, berdiri di hadapannya adalah Ardi.
" Kamu betul, Ardi? " tanya Maryani, tetangga sebelah rumah Parjono.
" Iya, " jawab Ardi seraya mengulas senyum
" Ya ampun, ganteng banget! " puji Luna, anak dari Maryani.
" Maaf, Bu Tumini. Bisa Anda jelaskan tentang ibu Ambar? " tanya Ardi
" Aku sama dia dulu teman sekampung, terus si Ambar minta di carikan kerjaan. Bu Rini dulu meminta ku untuk di carikan pembantu, yang pulang pergi untuk mencuci baju. " Tumini menjelaskan, " eh, enggak tahunya si Ambar malah kepincut sama pak Parjono. Tapi emang dasar laki-laki buaya, sama orang kampung dekil aja mau! " ujar Tumini.
" Terus si Ambar minta anterin ke dukun, yang bisa melet pak Parjono. Terus bikin dia jatuh hati, dan ngelupain istri dan anaknya. " Tumini melanjutkan.
Ardi hanya mengangguk-angguk kepalanya, dan tersenyum pias.
" Mungkin, dia lupa kasih sajen buat susuknya. Jadi gitu, tuh! " ungkap Tumini.
" Oh baiklah, terima kasih atas penjelasannya. " Ardi pamit masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ambar telah dia masukkan ke rumah sakit jiwa. Sekarang dia harus mencari keberadaan Karina dan juga Arjuna.
Usai berpakaian rapi, Ardi langsung masuk ke mobil dan pergi menuju butik tempat Karina bekerja.
Sepanjang perjalanan, Ardi tak henti-hentinya berharap bisa bertemu dengan Karina.
Karena sejak semalam, Karina tak juga menjawab panggilan dari ponselnya.
Sesampainya Ardi langsung memarkirkan mobilnya di halaman kantor. Dia melihat ke arah kaca spion, merapikan rambutnya dan memakai kacamata hitam. Setelah melihat rapi penampilan nya, dia memakai jas berwarna hitam yang dia letakkan di bangku sebelah.
Jas sudah terpakai, kini Ardi membuka pintu mobilnya. Ardi berjalan dengan langkah tegap, bak seorang model.
Semua karyawan yang melihat Ardi dari pintu depan, nampak terpesona.
" Wah, tampannya! " Seorang gadis berdiri di hadapan Ardi tanpa berkedip.
" Nona, boleh aku bertanya? " Ardi membuka kacamata hitamnya. Terlihat jelas kedua mata nya yang berwarna kecoklatan, dan kedua alis yang berwarna hitam tebal seperti ulet bulu.
" Bo-leh, boleh ... " jawab gadis di hadapan Arfi sambil menganggukkan kepalanya.
" Apakah kamu kenal sama Karina? " tanya Ardi seraya mengulas senyum.
" Oh bu Karina, dia tidak masuk karena ada urusan keluarga. " Ulfa menjawab pertanyaan Ardi.
" Mas Ardi ... " panggil suara wanita yang tak asing di telinga Ardi.
Ardi terlihat malas menanggapi, dia sudah enggan bertemu dengan Ajeng. Tapi apa boleh buat, karena Karina dan Ajeng adalah teman satu kantor.
" Kamu pasti lagi cari Karina? " tanya Ajeng yang datang menghampiri Ardi.
" Iya, " jawab Ardi dengan senyum kepura-puraan.
" Sebaiknya aku tanyakan pada Ajeng tentang Karina, barangkali dia bisa membantuku! " ucap Ardi dalam hatinya.
" Dia ijin, karena harus mengurus masalah pribadinya. " Ajeng memberitahu Ardi.
" Maksudnya? " tanya Ardi seraya mengerutkan keningnya, dia berpura-pura tidak mengetahui tentang masalah Karina
" Karina belum cerita kepadaku, biasanya dia selalu curhat kalau ada masalah, " ucap Ajeng menjelaskan. " Oh iya, kamu pasti mau melanjutkan proyek sama Karina? " tanya Ajeng.
" I-iya ... " jawab Ardi berbohong. " Bisakah kamu menghubungi Karina? " tanya Ardi.
__ADS_1
" Sepertinya dia lagi gak bisa di hubungi, sepertinya masalah pribadinya cukup rumit. " Ajeng terlihat berpikir.
Silakan like dan berikan komentar mu