
" Hush, kamu gak boleh ngomong gitu. Biar buruk sifatnya, dia itu kakak kamu. " kata Diana.
" Iya tapi, kak-" ucapanku terhenti, saat Bedah memanggilku.
" Karin, ada suamimu." teriak Bedah yang sedang asyik menonton televisi.
" Rudi? Apa dia masih saja datang?" tanya Diana yang menatap tidak suka ke arahku.
" Iya, " jawabku sembari menundukkan kepala.
" Apa, kamu masih mengharapkan dia?" tanya Diana yang mencoba mencari penjelasan dari ku.
" Aku rasa, dia telah berubah." kataku yang merasa sikap Rudi telah berubah, begitu juga dengan keluarga nya.
" Asal kamu tahu Karin, sebenarnya ibu bersedih dengan hubungan mu saat ini. " kata Diana.
" Karin...." panggil Bedah sekali lagi, karena aku tidak juga menghampiri nya.
" Iya..." jawabku yang langsung berdiri dan menghampiri Rudi di depan rumah
Aku pun berjalan menuju pintu depan, dengan langkah yang tak lagi cepat. Karena aku merasa perutku sudah sangat besar, sehingga terasa berat dan mulai ngilu di bagian bawah perut
" Abang, ngapain malam-malam ke sini?" kata ku yang menyapa Rudi dengan wajah acuh.
" Abang, mau bawain nasi goreng. Kamu pasti lapar." kata Rudi yang membawakan bungkusan yang berisi nasi goreng.
" Abang gak perlu repot-repot, Karina udah makan." jawabku.
" Karin, abang mau ngelamar. Apa bisa Karin bikinin surat lamaran, supaya abang bisa kerja." pinta Rudi dengan wajah memelas.
" Abang, mau kerja? " kataku menanyakan sekali lagi, dan ingin meyakinkan keseriusan nya.
" Iya, abang minta tolong sama Karina. Sebentar lagi, abang akan punya anak. Pasti akan membutuhkan biaya yang besar." kata Rudi beralasan.
" Tumben, kamu punya pikiran." celetuk Diana yang melintasi kami, dan dia mendengar ucapan Rudi.
Rudi hanya terdiam, tak menjawab. Namun ada tatapan tidak suka pada Diana, saat dia keluar rumah hendak ke warung.
" Maafkan Kak Diana, dia masih trauma dengan sikapmu tempo hari." kataku pada Rudi.
" Iya, maafkan aku." kata Rudi, " Ayo, dimakan nasi goreng nya." kata Rudi sambil menyerahkan bungkusan nasi goreng.
Aku langsung mengambil bungkusan nasi goreng, dan membawanya ke meja makan
" Abang, gak makan?" tanyaku yang melihat Rudi hanya membawa sebungkus nasi goreng.
__ADS_1
" Enggak, tadi udah makan di rumah." kata Rudi.
Akhirnya aku makan sendiri, dan menghabiskan nya.
Selesai menghabiskan nasi goreng, Rudi pamit pulang. Dan aku pun langsung menuju kamar ku, karena besok harus bekerja.
****
Pagi ini, Diana dijemput oleh suaminya. Karena dia sudah menginap selama dua mingguan.
Aku memeluk Keyla dan Keysa, yaitu dua keponakan ku yang amat lucu.
" Tante, aku pulang dulu." pamit Keysa sambil mencium tangan ku. Aku pun langsung memeluk dan mencium pipinya yang chubby.
" Hati-hati, ya." kataku sembari memberikan uang untuk mereka berdua.
" Keyla, nanti temenin Tante kalau dedeknya sudah lahir ya." Pesanku pada keponakan ku yang berusia tujuh tahun.
" Iya, Tante." katanya sambil mencium tanganku.
Mereka pun pergi meninggalkan ku, terasa sedih saat melihat mereka tak lagi di rumah
" Karina." panggil Rudi yang sudah memarkir motornya di halaman rumah ku.
" Kamu, gak nganterin Silvia kerja?" tanyaku yang berpura-pura tidak tahu, kalau Silvia sudah di pecat.
" Apa dia gak akan marah, jika bang Rudi mengantarku?" tanyaku
" Abang mau melamar kerja, dan ini surat lamaran nya." kata Rudi yang menyerahkan amplop coklat besar.
Kemudian aku pun mengambil amplop coklat, yang berisi surat lamaran kerja.
" Siapa yang membuat surat lamaran ini, bang?" tanyaku yang sudah duduk di belakang Rudi.
" Silvia." jawabnya.
" Silvia tahu, kalau abang akan kerja melamar di kantor Karina?" tanya Ku menyelidiki.
" Iya." jawabnya.
Aku sungguh mengkhawatirkan hal-hal yang tidak di inginkan, saat Rudi di terima di kantor ku. Tapi lagi-lagi, aku tidak berpikir negatif kepada nya. Aku percaya, Rudi telah berubah dan akan menjagaku dan anakku.
Sesampainya di kantor, aku langsung menyerahkan surat lamaran pada pihak HRD.
Aku mempromosikan Rudi, agar bisa masuk menjadi kurir. Tak apalah KKN, asal Rudi bisa bekerja dan memenuhi segala kebutuhan kami nantinya. Mungkin setelah mendapat pekerjaan, sifatnya akan berubah menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
__ADS_1
" Karina, kamu masukin suami kamu?" tanya Ajeng sambil mengernyitkan keningnya.
" Iya, Mbak. Aku ingin dia bekerja, ya walaupun sepasang suami istri gak boleh satu kantor. Tapi kan kita beda cabang, dia di warehouse pusat." kataku pada Ajeng, agar dia memahami maksud ku, " Sebentar lagi kami akan punya anak, dan akan membutuhkan biaya yang besar. " kataku memberi pertimbangan.
" Oh iya, aku doakan suami kamu berubah sifatnya." kata Ajeng sambil mengelus punggungku.
" Kamu akan melahirkan sebulan, pasti kamu akan ambil cuti?" tanya Ajeng.
" Iya, Mbak " jawabku.
" Penjualan kemarin aja sempat anjlok, karena kamu gak masuk seminggu." keluh Ajeng.
" Maaf, Mbak. Aku sudah berusaha ngajarin Abel, tapi dia bilang susah. Malah ngomong nya aku pakai pelet, buat menarik pelanggan. " kataku yang mengadu pada Ajeng.
Sebenarnya aku tidak ingin mengadukan hal apapun, tentang teman sekantor ku. Namun sikap Abel yang curiga kepada ku, sangat mengganggu ku. Aku takut dia malah akan memfitnah ku, dengan tuduhan yang tidak jelas.
" Ya sudah, nanti akan aku selidiki. Kamu bekerja saja, gak usah mikirin Abel." kata Ajeng yang membelaku
" Baik, Mbak." jawabku yang kembali bekerja.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore, seluruh karyawan pun sudah merapikan diri untuk pulang.
" Karina..." panggil Rudi yang berada di depan gerbang.
" Bang..." sahutku yang menghampiri Rudi.
" Gimana? Apa kamu, udah kasih lamaran nya?" tanya Rudi.
" Udah, bang. Sekarang tinggal doa aja, biar abang di terima." kataku memberinya semangat.
" Terima kasih." jawabnya.
Rudi terlihat sangat lembut, tak ada lagi raut wajah yang pemarah. Andai saja dari dulu dia bersikap lembut padaku, mungkin aku adalah wanita paling bahagia di dunia ini. Memiliki suami yang tampan lagi penyayang. Entah akan bertahan sampai berapa lama, kasih sayang nya. Yang pasti, aku akan menikmati setiap detik perhatian nya.
Sesampainya di rumahku, aku melihat suasana rumah sangat ramai. Apa yang sedang terjadi? Apa Bedah masih berniat untuk menjual rumah ibuku?
" Maaf, kalian siapa?" tanyaku yang melihat beberapa pemuda ormas berjaga di depan rumah ibuku.
" Kami, penjaga pemilik rumah ini." kata salah seorang pemuda dengan wajah garang.
" Maksudnya?" tanyaku bingung.
" Rumah ini harus segera di kosongkan, karena sudah berpindah tangan ke Pak Renaldi Wahidin." katanya dengan tatapan sinis.
" Heh, ini rumahku. Siapa yang suruh kalian masuk tanpa ijin?" kataku yang mulai emosi.
__ADS_1
" Ini surat jual beli rumah, dan sudah sah menjadi milik bos kami." katanya kasar.
Silakan like dan berikan bunga dan vote untuk karyaku. Agar aku semangat untuk update setiap hari