Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 13


__ADS_3

Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.


" Jam berapa, ini?" tanya Rudi seraya mengusap kedua mata nya.


" Jam satu siang, Bang!" jawabku penuh penekanan.


" Silvia, kenapa kau tidak membangunkan ku?" bentak Rudi yang memarahi Silvia.


" Iya, kau kan harus melayaniku." jawab Silvia tanpa rasa bersalah sambil bergelayut di pundak Rudi


" Sudahlah, Bang." kataku yang malas melihat kemesraan mereka.


Akhirnya aku kembali, ke rumah ibu mertua ku.


" Karin, tunggu." panggil Rudi sambil mengejar ku hanya memakai celana pendek tanpa baju.


Aku tak menghiraukan Rudi, dan tetap berjalan menuju kamarku. Segera aku ambil tasku, dan berjalan keluar.


" Bu, aku mau pamit pulang." ucap ku yang sudah membawa tasku, dan menghampiri ibu mertuaku.


" Loh Karin, kenapa terburu-buru?" tanya Ambar.


" Karin ...." panggil Rudi.


" Eh, Rudi kemana saja kamu? Ibu panggilin dari pagi gak keluar-keluar?" bentak Ambar.


" Aku ketiduran, Bu?" jawab Rudi.


" Lalu, kemana istrimu?" tanya Ambar.


" Dia ada di rumah." jawab Rudi.


" Kenapa ibu panggil gak di bukain pintu?" geram Ambar.


" Sudah Bu, aku mau pulang." ucap ku yang menyela pembicaraan mereka.


" Karin, kamu hati-hati ya. Salam buat ibumu, maaf ibu ngadain acaranya mendadak." kata Ambar yang langsung memeluk ku.


" Iya, Bu." jawabku seraya menatap sinis ke arah Rudi.


Rudi hanya menundukkan kepalanya, dia menjadi salah tingkah.


" Karina, aku antar kamu pulang. Tunggu di sini." kata Rudi yang menyuruhku untuk menunggunya.


Aku pun menunggu Rudi, di ruang tamu. Aku pun pulang di antar oleh Rudi, sepanjang jalan dia selalu meminta maaf padaku.


" Maafin abang, Karin. " kata Rudi yang telah menjalankan motor nya.


Aku hanya terdiam tak menyahut, atau pun menjawab nya.


Sesampainya di rumah, aku membuka pintu.


Lalu kulihat lampu ruang tamu masih menyala, begitu juga lampu latar rumah. Apakah ibu lupa mematikan lampu nya?


Segera aku bergegas menuju kamar ibuku, namun tak nampak keberadaan nya.


Lalu kucari ke arah dapur, tak juga kutemukan.


Sayup kulihat ada telapak kaki, yang terlihat dari pintu kamar mandi.

__ADS_1


Segera kulihat dan menghampirinya, sungguh terkejut aku melihat ibuku terbaring di sana.


" Ibu ..." teriakku yang melihat ibuku sudah terbaring kaku di sana.


Segera aku mendekati nya, dan mencoba ingin mengangkatnya. Namun yang kurasakan, tubuh ibuku dingin. Seperti tak ada denyut dan hawa panas. Ku raba dadanya, dan ku sentuh hidungnya. Tak juga kurasakan hembusan nafas.


" Bu, " aku mencoba membangunkan ibuku berkali-kali. Aku goyangkan tubuhnya, agar bisa terbangun dan membuka kedua matanya.


Namun usahaku sia-sia, saat aku mencoba mengangkat tangan nya. Tak lagi kurasakan denyut nadinya, tubuhnya dingin dan tak ada pergerakan.


" Ibu...." aku menangis histeris.


Kemudian Rudi menghampiri ku, saat mendengar aku berteriak dan menangis.


" Karin, ada apa?" tanya Rudi yang berdiri di belakang ku.


" Ibu, Bang!" tangisku semakin histeris, saat melihat Rudi. Karena aku kesal, kenapa tadi pagi dia tak menjemput ibuku.


Rudi mengangkat tubuh ibuku, dan memindahkan nya ke tempat tidur.


" Ibu ..." aku terus mencoba membangunkan ibuku. Lalu ku putuskan menyuruh Rudi memanggil bidan dekat rumah ku.


" Bang, panggilin bidan Rahayu." suruhku yang duduk di sebelah ibuku.


Kemudian Rudi bergegas pergi, menuju bidan Rahayu yang jaraknya hanya 300 meter dari rumahku.


Selang beberapa menit kemudian, bidan Rahayu datang dengan membawa tas berisi peralatan medis.


" Bu, tolong ibu saya." kata ku memohon pada bidan Rahayu.


Segera bidan Rahayu, memasang stetoskop di telinga nya. Meraba denyut jantung ibuku, dan mendengarkan nya.


" Apa, Bu? Gak mungkin ...." ucapku tak percaya.


" Kenapa, bajunya basah?" tanyanya sambil menyentuh baju ibuku.


" Aku menemukan nya tergeletak, di kamar mandi " terangku.


" Mungkin dia terpeleset, dan pingsan. Dan kamu kemana?" tanyanya memerhatikan ku.


" Aku tidak di rumah, saat ibuku terpeleset." ucapku menyesal.


" Mungkin sudah takdirnya, kau ikhlas kan kepergian nya." ucapnya seraya mengusap bahuku.


" Ibu...." aku langsung memeluknya erat, aku menyesal telah meninggalkan.


Kemudian bidan Rahayu, menghubungi temannya yang seorang dokter bertugas di puskesmas. Untuk kembali mengecek keadaan ibuku, untuk dibuat surat kematian.


Aku menatap tajam ke arah Rudi, dia yang telah ku amanah kan untuk menjemput ibuku. Malah dia tidak menjalankan nya. Aku membencinya, sangat membencinya.


" Seandainya, tadi pagi kamu datang menghampiri ibuku. " Lirihku sambil menatap jenazah ibuku yang sudah membiru.


Aku terus menangis, belum bisa mengikhlaskan kepergian nya. Karena dia sangat menginginkan cucu dari ku. Aku menyesal, kenapa aku tidak tinggal di rumah saja. Jadi saat ibuku terpeleset, aku bisa menolong nya.


" Maafkan aku, Karin." Ucap Rudi seraya berlutut di kaki ku.


Aku tak menoleh ke arahnya, karena aku benar-benar sangat membencinya.


Semua warga telah datang ke rumahku, termasuk kedua kakak ku. Bedah dan Diana telah dihubungi oleh Rudi.

__ADS_1


Aku yang masih duduk di sebelah jenazah ibuku, tak sanggup meninggalkan nya.


" Karin, ibu mau dipindahkan ke depan." Kata Bedah yang merangkulku.


" Aku gagal menjaga ibu." Lirihku penuh penyesalan.


" Sudah takdir ibu, kita tidak bisa menolak kepergian nya." Kata Diana yang baru saja datang.


" Tapi aku salah, kenapa aku harus pergi. Semalam aku seharusnya ada di sampingnya." Sesalku


" Karin, kita harus mengikhlaskan. Biar ibu tenang di sana, dan gak tersiksa melihat kamu yang terus menangis." Ucap Bedah memberitahu ku.


" Maafkan, Karin. Karina gak bisa jaga ibu." Ucapku yang langsung terbangun dari duduk ku.


Ibuku di pindahkan ke ruang tamu, karena banyak sekali tetangga yang mau melayat.


Kedua mataku sembab, tubuhku terasa lemas dan akhirnya aku jatuh pingsan.


Malam pun tiba, ibuku di bawa ke pemakaman umum di dekat tempat tinggal ku.


Aku tidak ikut bersama rombongan pengantar jenazah, karena aku baru saja terbangun.


" Karin, kamu mau minum?" Tanya Rudi yang mendekati ku membawakan segelas air


" Tidak, aku tidak haus." Jawabku yang masih memandangnya benci.


" Karin, maafin abang. " Kata Rudi yang duduk di pinggiran tempat tidur.


Aku memalingkan wajah ku, tak ingin melihat nya.


Lalu kedua mertuaku datang, dan masuk ke dalam kamarku.


" Karin, kamu gak apa-apa, Nak?" Tanya Ambar yang langsung memelukku.


Aku hanya terdiam, tak menjawab pertanyaan nya. Aku masih menyalahkan mereka, dan masih belum mengikhlaskan kepergian ibuku.


" Karin, kamu mau makan?" Tanya Bedah yang baru saja pulang dari tempat pemakaman.


" Tidak." Jawabku.


" Tapi kamu harus makan, kasian anak yang ada di dalam kandungan mu." Kata Bedah yang kini berdiri di sebelah ku.


Rudi dan kedua mertuaku pun keluar, mereka seperti merasa bersalah telah membuat ibuku meninggal.


Entahlah, aku masih menyalahkan mereka. Padahal aku tahu, takdir itu di tangan Tuhan.


Semalaman aku tidur di kamar ibuku, melihat ruangan yang selalu di tempatinya.


Pengajian akan dilaksanakan selama tiga hari, akupun ijin tak masuk kantor.


***


Keesokan harinya, seluruh teman kantor ku datang. Tak kusangka, bosku Christina Lee juga datang.


" Karina, maaf aku baru bisa datang." Ucapnya mengenakan kerudung hitam. Walaupun dia berbeda keyakinan dengan ku, namun dia tetap mengenakan kerudung untuk menghormati ku.


-


*Ja**ngan lupa tinggalkan like dan komentar ya. kalau kamu suka klik favorit dan berikan poin untuk ku*.

__ADS_1


__ADS_2