
Usai mengirimkan pesan pada Nanik, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur.
Karena nanti sore, aku akan menghampiri Rudi. Menanyakan tentang pekerjaan nya, jika dia berbohong lagi maka aku tidak akan segan-segan melabrak Abel.
Kedua mataku mulai terpejam, menikmati tidur siang dengan cuaca yang terasa panas. Aku tidak menggunakan AC, karena aku tidak kuat dengan suhu dingin nya. Aku lebih suka menggunakan kipas angin bercorak Doraemon. Karakter filem kartun kesukaan ku, sewaktu kecil.
Semriwing ku rasakan hembusan dari angin, yang berputar di sudut tempat tidur. Membawaku ke alam mimpi, yang mengingatkanku tentang kepergian ibuku.
Terlihat dia melambaikan tangan, ke arahku lalu menjauh. Wajahnya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Seketika, aku langsung terbangun saat ibuku tak terlihat lagi. Lalu aku berteriak memanggil nya, " ibu ..." berharap dia hadir di hadapan ku.
Aku mendudukkan diriku, dan tiba-tiba Ardi masuk bersama ibu mertuaku. Keringat mengucur di keningku, dan seluruh tubuh ku terasa basah.
" Karin, kamu gak apa-apa?" tanya Ambar yang sudah duduk di sebelah ku, sambil mengusap keringat ku dengan tangannya.
" Aku gak apa-apa, Bu! Sepertinya aku bermimpi ibuku, dia melambaikan tangan ke arahku. Lalu pergi menghilang dari hadapan ku," ucapku menjelaskan tentang mimpi yang baru aku alami.
Ardi tampak cemas, saat melihat wajah ku yang tegang.
" Benar kamu gak apa-apa?" Ardi mengulang pertanyaan ibunya.
" Aku gak apa-apa, Bang." Aku langsung menatap ke arah Ardi, menyakinkan nya bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja.
" Ya sudah, kamu lekas mandi. Karena hari sudah sore," ucap Ambar sambil mengelus lenganku.
" Iya, Bu. "
" Bang Rudi, sudah pulang?" tanyaku ingin mengetahui kepulangan Rudi.
" Sudah, " jawab Ardi, " kamu mau ngapain, ketemu sama dia?" tanya Ardi dengan nada cemburu.
" Ardi, kenapa kamu jadi cemburu?" Ambar curiga pada Ardi.
" Oh, enggak Bu. Tadi-" ucapan Ardi sengaja ku potong, agar ibu mertua ku jangan dulu mengetahui tentang perilaku Rudi.
" Tadi bang Rudi baru saja diterima kerja, aku mau dengar ceritanya." Aku langsung melirik ke arah Ardi.
Ardi langsung pergi meninggalkan ku dan ibu mertuaku. Wajahnya nampak kesal, saat aku membela Rudi di depan ibu mertuaku.
" Bu, aku mau mandi dulu, " ucapku yang langsung menegakkan tubuh ku.
Ibu mertuaku pun berdiri lalu pergi meninggalkan ku.
__ADS_1
Segera ku raih handuk, yang berada di belakang pintu. Aku langsung menuju ke kamar mandi, dengan membawa baju salinan.
Karena jarak antara kamar ku dan kamar mandi adalah lima meter. Dan itu tidak menyatu di dalam kamar, melainkan terpisah berada di sebelah dapur.
Kamar mandi hanya ada dua, yang satu berada di kamar mertuaku. Sedangkan yang satu berada di sebelah dapur.
Usai membersihkan diri, aku berjalan menuju kamarku. Aku melihat Ardi sedang bersantai di ruang tamu.
Saat aku bertemu pandang dengannya, dia langsung memalingkan wajahnya. Tidak biasanya, yang saat aku melintas di hadapannya pasti dia akan menegurku.
Apa dia marah soal aku menanyakan Rudi, di depan ibu mertuaku?
Alasan apa dia marah? Toh Rudi adalah suamiku, sedangkan dia hanya kakak iparku.
Segera aku masuk ke dalam kamar, dan memakai body lotion serta krim pencerah wajah.
Setelah menyisir rambut ku, aku langsung keluar dari kamar dan ingin menghampiri Rudi.
Segera ku langkahkan kakiku, menuju rumah Rudi. Ku lihat Ardi tidak ada di ruang tamu, dan mobil nya pun tidak terparkir di halaman.
Ada apa dengan Ardi? Kenapa tatapan matanya menyiratkan arti kecemburuan? Padahal dia hanya kakak iparku, dan kami baru saja bertemu.
Bayangan Ardi segera ku lenyapkan, karena dia tidak penting kupikirkan saat ini. Terserah mau dia marah ataupun cemburu, bukan urusan ku.
" Sil, bang Rudi sudah pulang?" Aku berdiri di depan pintu, sambil memperhatikan bagain dalam rumah.
" Sudah, memangnya ada apa?" tanya Silvia yang menatap sinis ke arahku, dia sangat tidak suka jika aku berdekatan dengan Rudi.
" Ada yang ingin aku bicarakan, kalau kamu mau tahu, ya silakan!" kataku
" Kamu mau bicara soal apa?" tanyanya penasaran.
" Panggilkan saja, bang Rudi. Nanti aku jelaskan semua," kataku yang mendesak Silvia.
" Baik, akan ku panggilkan." Silvia langsung berjalan menuju kamarnya.
Dia memanggil Rudi, di dalam kamar. Dan aku menunggu nya di ruang tamu. Kenapa harus bertemu dengan suami itu rasanya sulit?
Terlihat Rudi sudah keluar dari kamarnya, di susul Silvia di belakangnya.
" Ada apa? Kalau membahas soal tadi, aku gak ada waktu," ucapnya kasar. Seperti dugaan ku, pasti Rudi ada main dengan Abel.
Silvia terlihat tersenyum, saat Rudi berbicara kasar kepada ku. Dia belum tahu saja, dengan perilaku Rudi tadi siang. Apa jadinya, jika dia tahu kalau sedang di tigakan?
__ADS_1
Pasti emosi Silvia akan lebih meledak daripada aku.
" Apa tadi kamu, sudah mulai bekerja?" tanyaku mencairkan suasana, aku tak ingin Rudi marah karena aku salah mencurigai nya.
Hal pertama yang aku lakukan adalah, memberondong beberapa pertanyaan. Hingga dia akan terjebak dengan jawabannya sendiri. Pastinya dia tidak akan menutupi kebohongan nya, karena aku sudah pernah di bohongi.
" Su-dah," jawabnya gelagapan.
Sungguh tak pintar Rudi saat akan berbohong.
" Kamu kerja di bagian apa?" tanyaku dengan nada lembut, sambil tersenyum ke arah Rudi.
" Ba-gian kurir. " Rudi terlihat ketakutan." Memangnya ada apa sih, kamu nanya-nanya. Kemarin aku di suruh kerja, sekarang kamu curigai."
Pas sekali, Rudi membongkar rahasia nya sendiri.
" Curiga kenapa, Bang?" tanya Silvia yang langsung menarik lengan Rudi.
" Itu tadi, aku melihat dia makan siang dengan Abel," jawabku santai.
" Abel, siapa Bang?" desak Silvia.
Aku tahu, jika Silvia sangat sensitif dan emosional.
" Di-dia ..." Rudi terlihat cemas, lalu beralih pandangan ke arahku.
Aku langsung memalingkan wajah ku, tanpa memberikan pembelaan.
" Karin, siapa Abel?" tanya Silvia dengan nada meninggi.
" Dia bawahan ku, masa kamu gak kenal?" Aku memanasi Silvia.
" Abel ...."
Silvia nampak berpikir, dia mengingat lagi karyawan tempat dia bekerja dulu sewaktu di butik.
" Ah iya, dia gadis yang masuk kerja bareng sama aku. Orangnya ganjen, dan genit." Silvia telah mengingat nama Abel.
Rudi nampak panik, lalu dia menjadi salah tingkah.
" Sudah, sudah ... kalian maunya apa sih? Aku udah kerja malah di curigai. Besok aku gak usah kerja aja!" Rudi mengancam, otaknya sudah buntu karena di serang oleh dua istrinya.
Salah dia, masih saja tebar pesona dengan para wanita. Sok kegantengan, tapi kere.
__ADS_1
Silakan like dan komentar