Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah

Berbagi Cinta: Cinta Yang Salah
Bab 63


__ADS_3

"Selamat ya, Anda akan menjadi seorang ibu." Dokter menyerahkan hasil tes pada Karina dan Ardi.


"Yeay... Aku akan menjadi ayah." Ardi bersorak, dia sangat gembira mendengar istrinya hamil.


"Kali ini, aku akan benar-benar menjaga kehamilanmu." Ardi mengusap perut Karina yang masih terlihat datar.


"Terima kasih, Dok." Ardi langsung menjabat tangan dokter dengan raut wajah penuh kebahagian.


"Sama-sama, dan saya akan meresepkan vitamin. Untuk selanjutnya bisa periksa di dokter kandungan atau bidan." Dokter menyarankan pada Ardi.


"Oh baguslah bukan dokter yang harus memeriksa istriku," gumam Ardi yang masih bisa didengar oleh dokter tampan di hadapannya.


"Oh enggak, aku hanya bercanda!" tutur Ardi sambil menunjukkan senyum nyengir kuda.


"Baiklah, silakan Anda istirahat di rumah. Jangan terlalu lelah di kehamilan trimester pertama," saran dokter.


"Baik, Dok!" Karina langsung berjabat tangan dengan dokter, lalu melenggang pergi dari ruangannya.


Ardi menuntun Karina berjalan menuju mobilnya.


"Karin, mulai hari ini kamu harus di rumah. Gak boleh kerja atau angkat yang berat-berat." Ardi menyarankan Karina.


"Iya, Bang. Tapi sebaiknya antarkan aku dulu ke butik," pinta Karina.

__ADS_1


"Kamu mau kerja lagi?" tanya Ardi.


"Aku mau ijin resign, gak sopan dong kalau keluar begitu aja," ujar Karina.


"Iya sudah, aku anterin ke butik." Ardi langsung melajukan mobilnya ke arah butik.


"Jalan-jalan besok kita ke rumah ibu aja, ya! Kamu gak boleh terlalu capek, jadi kita nginep sehari aja." Ardi meminta pada Karina.


"Iya udah, gimana kamu aja, Bang! Toh badanku juga gak bisa di bawa pergi jauh," ucap Karina.


"Bang, kamu mau nungguin aku?" tanya Karina.


"Ya iyalah, masa ya iya dong. Istri abang yang lagi hamil, gak boleh di tinggal." Ardi menggoda Karina dengan mencolek hidungnya.


"Bang, kamu jangan jadi alay!" Karina menyipitkan kedua matanya ke arah Ardi.


Karina memandang suaminya bingung, kenapa sikapnya jadi bucin akut setelah mengetahui dirinya hamil.


Karina merasa aneh saja, karena saat kehamilan pertama dia begitu mandiri, waktu itu dia mempunyai suami yang acuh padanya. Namun di kehamilan kedua, ada suami yang memanjakannya.


Padahal Karina tidak biasanya di manja, dan biasa melakukan semua hal dengan sendiri.


"Bang, kamu jangan terlalu memanjakan aku." Karina menatap Ardi saat telah membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin berbeda dari Rudi, karena aku bukan dia. Aku ingin mengistimewakan istriku," ujar Ardi.


Karina pun keluar dari mobil, dia langsung berjalan menuju kantornya.


Kemudian dia langsung menuju ruangannya dan bertemu dengan asistennya.


"Maaf Maryam, aku harus datang terlambat." Karina menghampiri Maryam.


"Maryam, aku pamit, ya!" ucap Karina sambil memeluk Maryam


"Mbak mau kemana?" tanya Maryam terkejut sambil melepas pelukannya.


"Aku mau resign." Karina menjawab.


"Loh, kok resign?" tanya Maryam penasaran.


"Aku hamil, dan suamiku menginginkan aku berhenti bekerja," ujar Karina.


"Oh, ya udah Mbak. Kamu ikuti perintah suami, dan istirahat yang cukup agar kandunganmu selalu sehat." Maryam sambil mengusap perut Karina.


"Terima kasih," jawab Karina


"Aku mau ke kantor pusat, mau ijin sama bu bos." Kemudian Karina merapikan peralatanny yann berada di atas meja.

__ADS_1


Setelah pamit pada seluruh karyawan, Karina pun berjalan meninggalkan kantor dan menghampiri Ardi.


"Bang, sekarang kita ke kantor pusat." Karina sudah masuk ke dalam mobil.


__ADS_2